Home Sulteng

30.000 Warga Masih Terancam Schistosomiasis

171
dr Muh Saleh Amin. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Dinkes Sulteng Catat Habitat Schistosomiasis 301 Titik

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulteng membeberkan sebanyak 30.000 warga Napu, Bada, dan Lindu masih terancam penyakit schistosomiasis. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sulteng, dr Muh Saleh Amin MM di Palu, Selasa, 14 Januari 2020.

“Sekitar 30.000 warga Poso dan Sigi masih terancam karena bermukim dan beraktivitas di habitat keong schistosomiasis,” ungkapnya.

Saleh menerangkan hingga saat ini masih terdapat 301 titik habitat keong schistosomiasis di Poso dan Sigi. Rinciannya di Lindu 32 titik, Napu 26 titik, dan Bada 243 titik. Tiga wilayah tersebut terdapat 28 desa dengan jumlah penduduk kurang lebih 30.000 jiwa.

“Mereka terancam karena kita tidak bisa jamin warga akan terus menggunakan sepatu saat beraktivitas di tempat schistosomiasis,” terang Saleh.

Yang lebih mengkhawatirkan, dari 301 titik habitat keong schistosomiasis sebagian berada di permukiman warga persis di beberapa pekarangan rumah. Namun Dinkes sudah memasang tanda agar masyarakat mengetahui habitat keong schistosomiasis untuk meminimalisir warga terjangkit.

“Cuma belum semua terpasang, baru 98 titik karena sebagian hilang, banyak yang cabut,” ujar Saleh.

Saleh mengatakan penanganan schistosomiasis dilakukan secara lintas sektor antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten terkait. Namun demikian masih mengalami kendala. Itu karena sampai tahun 2019, intervensi masih fokus terhadap orang yang terjangkit schistosomiasis. Hal ini membuat eliminasi penyakit schistosomiasis masih membutuhkan waktu.

“Memang kalau hanya manusia yang diintervensi tidak akan habis, harusnya sektor lain fokus hewan dan lingkungan. Kalau kami hanya menangani manusia, lingkungan bukan ranah kami,” tutur Saleh.

Pada 2019, Dinkes mencatat 20 orang terdeteksi terjangkit schistosomiasis dengan rincian di Sigi 2 orang dan 18 orang di Poso. Menurut Saleh, dengan lingkungan dan hewan yang belum terintervensi maksimal, mustahil target eliminasi terwujud.

“Harusnya intervensi ketiga-nya (manusia, lingkungan, dan hewan) berjalan bersamaan. Tapi kenyataan yang ada saat ini yang dua lagi (intervensi lingkungan dan hewan) belum ada yang lakukan,” tandas Saleh.

Gubernur Sulteng, H Longki Djanggola, sebelumnya kembali menggaungkan rencana sayembara tangkap tikus di wilayah sebaran penyakit schistosomiasis di dataran lembah Napu dan Lindu.

“Sampai sekarang tidak ada yang mau bertanggung jawab memberantas tikus yang menyebarkan schistosomiasis 25 persen. Makanya saya usul buat sejenis sayembara tangkap tikus,” ujar Longki usai membuka review implementasi kegiatan lintas sektor terpadu dalam rangka eliminasi schistosomiasis di Palu, Rabu, 30 Oktober 2019.

Kata dia, prevalensi pada manusia saat ini sudah berhasil diturunkan, sehingga eliminasi difokuskan terhadap hewan ternak dan tikus. Khusus eliminasi terhadap tikus kata Longki menjadi masalah karena tak satupun instansi yang mau bertanggung jawab untuk melakukan pemberantasan. Dia mencontohkan Dinas Peternakan yang sampai saat ini enggan bertanggung jawab melakukan pemberantasan.

“Dinas Peternakan tidak mau mengakui bahwa itu (pemberantasan tikus) pekerjaan dia, makanya repot,” ucap Longki.

Olehnya gubernur berharap kepada aparat desa mengambil alih pemberantasan tikus dengan sistem sayembara untuk masyarakat umum. Setiap tikus yang tertangkap harus disiapkan sejumlah uang sebagai imbalan.

“Saya rasa kepala desa bisa menggunakan dana desa, jangan takut, nanti saya buatkan regulasi penggunaannya,” pungkas Longki.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas