Home Palu

Proyek Sarana Usaha Mikro Molor

222
BELUM SELESAI - Proyek peningkatan sarana dan prasarana pemasaran bagi usaha mikro di kompleks hutan Kota Palu diduga terbengkalai dan lamban dikerjakan sehingga menyeberang 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Firman Badjoki)

Palu, Metrosulawesi.id – Proyek peningkatan sarana dan prasarana pemasaran bagi usaha mikro di kompleks hutan Kota Palu diduga mangkrak alias terbengkalai.

Pasalnya, proyek bersumber dari dana APBN Kementerian Koperasi dan UKM itu dipastikan belum rampung hingga menyeberang tahun.

Bahkan, proyek tahun anggaran 2018 yang dibangun di lokasi Taman Hutan Kota Palu berupa sebuah los terbuka berbahan seng dan baja ringan oleh CV Pilar Nusantara, dinilai sejumlah kalangan mahal, atau tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang ditenderkan, dimana nilainya mencapai Rp 355.923.789 atau lebih tinggi dari harga 2 unit rumah BTN tipe 36 yang nilainya hanya berada pada level Rp 145 juta per unitnya.

“Kalau melihat kondisi bangunannya, mungkin tidak akan sampai 200an juta rupiah. Nilai sebesar itu sudah dapat membeli 2 unit rumah BTN yang harganya hanya Rp 146 juta per unitnya,” ungkap beberapa warga Kota Palu, saat ditemui di lokasi Hutan Kota.

Sementara PPK Dinas Koperasi UMKM dan Tenaga Kerja Kota Palu, Randi, sebagai penanggungjawab kegiatan yang dihubungi Metrosulawesi di kantornya sedang tidak berada di tempat. Menurut stafnya, sedang mengurus sesuatu di salah satu instansi lain di Kota Palu.

“Pak Randi sedang ke KPPN untuk mengurus garansi Bank terkait bangunan itu juga,” ujarnya.

Randi yang kemudian di hubungi lewat Handphonenya belum bersedia memberikan komentarnya, alasannya sedang sibuk.

“Maaf, saya sedang ada urusan,” ujarnya seraya berjanji akan menghubungi ulang setelah ada kelonggaran waktunya.

Sekadar informasi, bangunan los terbuka itu sendiri awalnya akan dibangun Anjungan Talise Palu. Namun karena satu dan lain hal, sehingga bangunan yang pondasinya sudah sempat dipancang di areal bekas tsunami itu kemudian dipindahkan ke areal Taman Hutan Kota.

“Sebenarnya bangunan itu akan di bangun di anjungan tapi kemudian dipindahkan ke Taman Kota,” ungkap sumber dari dalam Dinas UMKM, kepada Metrosulawesi, Rabu, 8 Januari 2020.

Selain lokasi pendiriannya yang berubah-ubah, proses keuangan proyek yang sudah jatuh tempo itu juga diduga bermasalah.

“Rekening pihak ketiga sudah di blokir karena penyelesaiannya belum seratus persen,” aku sumber yang enggan disebutkan namanya.

Reporter: Firman Badjoki
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas