Home Sulteng

Stunting Ditangani Secara Konvergensi

152
Reny A Lamadjido. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulteng, dr. Reny A. Lamadjido, mengungkapkan penanganan stunting saat ini dilakukan secara konvergensi. Konvergensi yang dimaksud lintas instansi dan antar pemerintah provinsi serta kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah.

“Penanganan stunting sekarang bukan hanya di kami Dinas Kesehatan, sudah menjadi konvergensi lintas sektor,” ungkap Reny di Palu, baru-baru ini.

Dia mengatakan sejumlah dinas yang terlibat dalam penanganan stunting diantaranya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pangan, Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

“Tapi Bappeda yang leading sektor, bukan kami lagi Dinas Kesehatan, ketua-nya Bappeda, kami cuma anggota,” tandas Reny.

Sebelumnya, Reny mengungkapkan pada 2020 mendatang pihaknya fokus menuntaskan lima Rencana Aksi Daerah (RAD) yakni menekan stunting, angka kematian ibu dan bayi, penyakit tidak menular (PTM), TBC dan imunisasi.

“Tapi bukan berarti yang lain kami tinggalkan, hanya saja dalam satu tahun harus ada program yang betul-betul kita geluti,” ungkap Reny.

Dia menerangkan terhadap lima RAD tersebut, pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan monitoring dan evaluasi. Dari evaluasi yang dilakukan Kemenkes, terdapat pelaksanaan RAD yang belum memenuhi target nasional.

“Ada yang belum memenuhi target nasional tetapi sudah menunjukkan tren kenaikan dan penurunan kasus,” terang Reny.

Reny mengatakan salah satu RAD yang menunjukkan tren penurunan yaitu stunting. Stunting sendiri merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya.

Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit penyakit seperti jantung, hipertensi dan lain-lain. Tidak hanya itu, stanting juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Sementara dalam suatu kesempatan, Gubernur Sulteng, H. Longki Djanggola, mengungkapkan salah satu target pembangunan berkelanjutan tahun 2025 yaitu angka stunting menurun hingga 40 persen.

“Saya mengajak OPD beserta mitra kerja untuk berperan menyukseskan program terobosan dalam rangka penanggulangan dan percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah,” ungkap gubernur saat membuka rapat koordinasi tim percepatan penanggulangan stunting di Sulawesi Tengah, Selasa, 22 Oktober 2019.

Dikatakannya, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, angka stunting berhasil diturunkan akan tetapi masih diatas angka ambang batas WHO yaitu 20 persen. Sementara prevalensi balita gizi buruk di Sulawesi Tengah tahun 2018 tercatat sebesar 19,7 persen.

“Ini menurun dari hasil Riskesdas 2013 yakni sebesar 24 persen, prevalensi balita pendek dan sangat pendek pun juga ikut menurun dari 41 persen menjadi 32,3 persen. Tetapi prevalensi balita kurus dan sangat kurus justru yang mengalami peningkatan dari 9,4 persen menjadi 12,8 persen,” beber Longki.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas