Home Donggala

Ada Pilkades Tandingan di Pangalasiang

753
Ketua panitia pilkades Desa Pangalasiang Aslan Sudarman (kanan) bertemu Wakil Ketua II DPRDDonggala Aziz Rauf, Senin pagi. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

Donggala, Metrosulawesi.id – Pelaksanaan pilkades di Desa Pangalasiang Kecamatan Sojol 7 Desember 2019 menyisakan persoalan. Pilkades dilakukan dua kali dan menghasilkan dua calon kades terpilih. Pilkades pertama dilakukan pada 7 Desember dan pilkades kedua pada tanggal 14 Desember.

“Saya dipecat jelang pilkades, ini nomor SK pemecatan saya 06/BPD/PS/XII/2019,” kata Ketua Panitia Pilkades Aslan Sudarman (16/12) di ruang kerja Wakil Ketua II DPRD Donggala, Aziz Rauf.

Dijelaskannya, proses pemecatan dirinya sebagai ketua panitia pilkades dinilainya janggal dan sarat kepentingan. Sebab, kata dia persoalan ini muncul ketika dilakukan dua kali pleno penetapan calon kepala desa.

Pleno pertama pada tanggal 18 November menghasilkan empat calon kades yang akan bertarung pada 7 Desember yakni Ahmad Bahar, Hasanudin N, Rahmat,dan Rahmawati.

“Kemudian muncul lagi pleno kedua penetapan calon kades pada tanggal 29 November. Bahkan bertambah satu lagi calonnya menjadi lima, pertama Ahmad Bahar, Hasanudin, Rahmawati, Asdir, dan Djamaludin. Di sini letak kerancuannya hasil pleno pertama tidak digunakan padahal kami beranggapan ini sudah sesuai dengan aturan,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panggalasiang, Malik yang dikonfirmasi awak media (15/12) juga mengaku heran dengan dua kali pelaksanaan pilkades di Panggalasiang.  Sebab menurutnya, pilkades sudah dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2019.

“Aneh juga pilkades dua kali. Ini ada apa? Saya tegaskan pilkades yang kedua kali tanggal 14 Desember itu ilegal alias tidak sah, yang sah itu pilkades 7 Desember,” tegasnya.

Dikatakannya, pilkades pertama pada 7 Desember hanya diikuti dua calon saja karena tiga calon memilih mundur dan tidak mau melakukan pencabutan nomor urut.

“Awalnya kan lima, namun tiga orang menolak mengikuti proses pencabutan nomor urut, akhirnya panitia menetapkan dua yakni Asdir dan Djamaluddin. Tapi tidak ada masalah, karena kami sudah laporakan ke Kabag Hukum dan Kadis PMD Donggala, mereka menerima,” katanya.

“Hasil perhitungan suara di 4 Tempat Pemungutan Suara (TPS), Djamaluddin meraih suara terbanyak dengan perolehan 887 suara, sementara rivalnya Asdir hanya meraih 483 suara dari 2000 lebih pemilih yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dari 7 anggota BPD empat anggota menolak pilkades kedua pada tanggal 14 Desember,” tuturnya.

Aziz Rauf Minta Jangan Bikin Resah

Aziz Rauf. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

SEMENTARA itu, polemik pilkades Desa Pangalasiang Kecamatan Sojol membuat Wakil Ketua II DPRD Donggala Asis Rauf angkat bicara. Politisi asal dapil Sojol itu menekankan jangan hanya menerima informasi sepotong-sepotong terus berkomentar di media.

“Ada juga pernyataan di media online terkait pilkades Pangalasiang, yang seolah-olah saya dikaitkan dengan pilkades Pangalasiang,” katanya Selasa di ruang kerjanya (16/12).

Asis menjelaskan semua harus lebih bijak dan berhati-hati dalam menyampaikan pendapat terkait pejabat daerah Kabupaten Donggala.

“Saya ingatkan agar berhati-hati, jangan sampai hanya menerima informasi yang sepotong-sepotong lalu mengeluarkan pendapat yang membingungkan masyarakat, harus tahu dulu informasi secara detail agar tidak asal bicara,” sebutnya.

“Seolah-olah Pilkades yang terjadi di Desa Panggalasiang saya terlibat saya hanya perwakilan masyarakat yang kebetulan dapil Sojol membantu masyarakat Pangalasiang memberikan mereka petunjuk,” jelasnya.

Politisi Gerindra ini berharap polemik Pilkades Pangalasiang agar semua pihak lebih arif dan bijak dalam menyampaikan pendapat sehingga pernyataan tersebut tidak menjadi blunder yang menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas