Home Ekonomi

Literasi dan Akses Keuangan di Sulteng Membaik

153
Gamal Abdul Kahar. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Berdasarkan hasil survei, indeks literasi dan inklusi keuangan di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2019 tercatat tumbuh signifikan apabila dibandingkan hasil survei tahun 2016, bahkan mencapai angka di atas rata-rata nasional.

Hal itu berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut Ketua OJK Sulawesi Tengah Gamal Abdul Kahar, indeksi literasi dan inklusi keuangan nasional 2019 berturut-turut sebesar 38,03 persen dan 76,19 persen, sedangkan indeks Provinsi Sulawesi Tengah berturut-turut sebesar 39,03 persen dan 84,51 persen.

“Mengalami peningkatan dari indeks tahun 2016 yang berturut-turut sebesar 22,55 persen dan 65,09 persen,” ungkap Gamal saat bersama sejumlah wartawan, Senin 16 Desember 2019.

Pencapaian tersebut, kata dia, merupakan hasil kerja sama lintas stakeholder yang telah dilakukan selama kurang lebih tiga tahun terakhir.

“Oleh karena itu, OJK mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah termasuk Kota dan Kabupaten serta para Pelaku Industri Jasa Keuangan di Provinsi Sulawesi Tengah,” katanya.

Pencapaian indeks Provinsi Sulawesi Tengah yang di atas rata-rata nasional merupakan hasil dari kampanye literasi dan inklusi keuangan yang masif dan terstruktur melalui program-program unggulan antara lain Laku Pandai (Branchless Banking), Asuransi Mikro, Asuransi Pertanian, Yuk Nabung Saham, Kredit Usaha Rakyat (KUR), Ultra Mikro (UMi), Mekaar, Financial Technology (Fintech) dan lain sebagainya.

Menurutnya, OJK dan pelaku industri jasa keuangan akan terus meningkatkan perannya dalam rangka mewujudkan industri jasa keuangan yang kontributif dan inklusif terhadap peningkatan ekonomi daerah melalui fungsi intermediasi dan fasilitasi penciptaan sumber-sumber ekonomi kerakyatan yang baru untuk mendukung upaya pemerataan kesejahteraan di Provinsi Sulawesi Tengah.

Semakin banyaknya usaha-usaha kecil yang berkembang dan bertahan di daerah ini merepukan salah satu dampak yang baik dari tingkan pengetahuan kemerataan akses keuangan di daerah.

Meski begitu, pengetahuan terkait industri jasa keuangan masih harus terus ditingkatkan. Pasalnya, setiap tahun jumlah korban penipuan investasi bodong dan industri jasa keuangan lainnya yang ilegal masih marak terjadi.

“Semakin hari semakin banyak yang datang ke kami melapor. Rata-rata satu hari sampai 10-20 orang (korban penipuan) yang melapor,” ungkap Gamal.

Masih maraknya korban aksi penipuan investasi bodong, kata Gamal, bukan karena sulitnya akses keuangan pada lembaga industri keungan yang legal. Tapi karena literasi yang masih sangat rendah.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Pataruddin

1 COMMENT

Ayo tulis komentar cerdas