Home Palu

Lokalisasi Tondo Disebut Masih Beroperasi

375
Reny A Lamadjido. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, dr Reny A. Lamadjido, mengungkapkan lokalisasi prostitusi di Kelurahan Tondo, Kota Palu, masih beroperasi. Hal ini diungkapkannya berdasarkan informasi yang diterimanya.

“Tondo yang dulu dibilang sudah tidak ada (prostitusi,red), ternyata masih dibuka, satu dua masih ada. Tapi saya juga tidak tahu, cuma adik-adik yang tahu,” ungkap Reny di Palu, Senin, 9 Desember 2019.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota Palu telah menutup praktik prostitusi di lokalisasi Tondo beberapa tahun lalu. Namun tampaknya para PSK dan mucikari beroperasi bak main kucing-kucingan untuk menghindari penertiban yang dilakukan petugas.

Reny sendiri mengaku pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait bahaya seks bebas, salah satunya HIV/AIDS. Dia mengungkapkan hingga saat ini jumlah penderita HIV/AIDS di Sulteng yang tercatat sebanyak 1.000 orang lebih. Jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak berada di Kota Palu sekitar 900 orang lebih.

“Tapi itu data akumulasi sejak tahun 2002 sampai 2019, karena sekali orang dikatakan penderita HIV/AIDS, itu akan tercatat terus, kecuali sudah meninggal,” ucap Reny.

Berbagai upaya juga terus dilakukan dalam menekan angka penularan HIV/AIDS, termasuk bagi keluarga penderita HIV/AIDS. Dinkes kata Reny memberikan obat pencegahan agar keluarga atau anak tidak tertular dari ayah/ibu penderita HIV/AIDS.

“Keluarga tidak akan tertular lagi dengan obat yang kita berikan, jadi tak usah takut. Kita kan tidak bisa diskiriminasi orang penderita HIV/AIDS tak boleh menikah,” ujarnya.

Mantan Direktur RSUD Undata itu menuturkan pihaknya menjadikan HIV/AIDS salah satu fokus perhatian. HIV/AIDS menurut Reny harus diwaspadai, utamanya bagi generasi penerus bangsa.

Sejumlah rumah sakit saat ini di Sulteng telah ditunjuk sebagai Pemberi Dukungan Pengobatan (PDP). Rumah sakit yang ditunjuk tersebut diantarannya RS Undata, RS Anutapura dan beberapa rumah sakit di kabupaten. Penderita HIV/AIDS bisa mendapatkan obat secara gratis di sejumlah rumah sakit tersebut.

Penyebaran HIV/AIDS harus bisa diantisipasi sejak dini jika dibekali pengetahuan yang cukup kepada generasi muda tentang bahaya HIV/AIDS, sekaligus pelibatan dalam serangkaian aktivitas positif yang bisa mengalihkan pikiran negatif.

“Yang paling kita khawatirkan sekarang ini perilaku seks menyimpang sesama jenis atau LGBT,” tandas Reny.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas