Home Hukum & Kriminal Jaksa Tahan Tersangka Korupsi Gaji Honorer dan Dokter

Jaksa Tahan Tersangka Korupsi Gaji Honorer dan Dokter

4470
Tersangka kasus penyelewengan gaji honorer dan gaji dokter PTT RS Bulue Nopoae. (Foto: Zulfikar/ Metrosulawesi)

Parimo, Metrosulawesi.id – Cabang Kejaksaan Negeri Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), menetapkan Wirna Edward Hanapi sebagai tersangka kasus korupsi penyelewengan dana pembayaran gaji honorer dan dokter PTT sebesar Rp 300 juta lebih. Wirna Edward Hanapi adalah mantan bendahara pengeluaran Rumah Sakit (RS) Pratama Moutong atau yang sekarang berganti nama menjadi RS Bulue Nopoae.

“Kami langsung menahan tersangka dan langsung membawa tersangka ke Rumah Tahanan (Rutan) Olaya, pada Kamis 26 September 2019 sekitar jam 17.00 Wita,” ungkap Alkaf, Kacabjari Moutong kepada sejumlah wartawan usai mengantar tersangka ke Rutan Olaya.

Alkaf menjelaskan, kasus tersebut memang sudah sangat lama, yakni dari tahun 2017 lalu. Walaupun berita terkait kasus itu sudah sering diekspos di sejumlah media, namun pihaknya tetap bertahan, karena harus sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Nah, mengapa baru kali ini kami ekspos, mengingat jangan sampai tersangka menghilangkan barang bukti dan melarikan diri, sehingga antisipasi itulah yang kami bangun untuk memuluskan proses penyelidikan dan penahanan terhadap tersangka itu,”terang Alkaf.

Alkaf mengatakan, dengan adanya penghitungan valid dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang sudah diterima, diketahui kerugian negara tersebut mencapai Rp. 300.593.500.17, dan kerugian tersebut lumayan besar.

“Untuk diketahui, bahwa modus penyelewengan dana yang dilakukan Tersangka, yakni dengan cara melengkapi berkas pencairan di Moutong lalu dibawa ke Parigi. Tersangka ini sebagai bendahara menyuruh para honorer dan dokter PTT bertanda tangan terlebih dahulu demi persaratan pencairan gaji. Setelah diurus, barulah yang bersangkutan (tersangka) ke Parigi mengurusnya di Dinas Kesehatan dan mencairkan dana tersebut karena anggaran RS Pratama Moutong masih melekat di Dinas Kesehatan Parimo pada waktu itu hingga saat ini,” jelas Alkaf.

Alkaf menambahkan, bahwa dengan adanya kesempatan yang dilakukan oleh tersangka karena ketika tersangka menerima dananya, tersangka menerima dalam bentuk tunai dan dibawa ke Moutong. Bahkan ada yang ditransfer ke rekening pribadi yang bersangkutan.

“Karena ada beberapa transferan ke rekening lain, selain ke rekening pribadinya, dimana tersangka juga mentransfer dana pembayaran gaji tersebut ke rekening sang suami, sehingga saat ini kami juga masih dalam proses persidangan dan tidak menutup kemungkinan ada lagi yang menjadi target dalam kasus ini termasuk yang berperan aktif membantu tersangka,” pungkasnya.

Reporter: Zulfikar
Editor: Syamsu Rizal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here