Home Artikel / Opini

Satu Pekan yang Mencekam

254
CARI KORBAN - Dua warga sedang mencari korban di tengah puing-puing rumah mereka di lokasi likuefaksi Petobo, sehari setelah bencana itu melanda Kota Palu. (Foto: Dok)
  • Catatan Jelang Setahun Pascabencana (I)

Total 4.845 meninggal dunia dalam bencana alam yang terjadi pada 28 September 2018. Tetapi, satu tahun pascabencana, masih banyak ahli waris yang belum menerima dana santunan duka.

PADA saat kejadian, kami ada 50 orang duduk di depan masjid, yang selamat hanya empat orang,” kata Ananda Kevin Adam.

Kevin (19) adalah warga Perumnas Balaroa. Ia menyaksikan detik-detik bangunan-bangunan rubuh yang disusul likuefaksi. Ia mendengar teriakan orang-orang meminta tolong di antara reruntuhan bangunan. Ada yang terperosok ke dalam tanah yang terbelah.

“Saya kira hari itu sudah kiamat,” ujarnya ditemui di Jalan Palola, Rabu 14 Agustus 2019.

Sebelum berhasil keluar dari Perumnas Balaroa, dia masih sempat menyelamatkan beberapa orang.

“Ada terperosok dalam tanah, saya tarik,” ujarnya.

Bagi Kevin, Jumat 28 September 2019 tidak akan terlupakan. Peristiwa itulah yang menyebabkan ia menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya, serta adiknya meninggal dalam peristiwa dahsyat itu. Jenazah ayahnya Reymon Samaila dan adik bungsunya Ali Muhammad Fitrah sampai kini belum ditemukan. Diduga masih terkubur dalam tanah likuefaksi. Sedangkan ibunya ditemukan tujuh hari setelah bencana dari kedalaman empat meter.

“Sampai sekarang saya belum menerima dana santunan duka,” katanya.

Selain tiga orang keluarga Kevin, lebih dari seribu orang meninggal dunia dalam peristiwa likuefaksi, termasuk yang terjadi di Petobo. Pemerintah Kota Palu mencatat 1.540 orang meninggal dunia akibat likuefaksi.

Peristiwa ini menjadi memori kolektif masyarakat Kota Palu. Fikri, wartawan Metrosulawesi yang juga warga Balaroa menceritakan usahanya berlari menyelamatkan diri menghindari bangunan roboh dan tanah yang terus bergerak. Kondisinya gelap. “Lumpur muncul dari bawah permukaan tanah dan menggeser tanah puluhan hingga ratusan meter. Sehingga, akhirnya menenggelamkan bangunan dan korban hidup-hidup,” kisahnya.

Warga yang selamat dari bencana di Balaroa mengungsi ke kawasan berbukit. Beratapkan langit. Hari-hari berikutnya, mereka membangun tenda darurat.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan mayat-mayat tergeletak di Pantai Talise. Mereka adalah korban tsunami. Edy, wartawan Metrosulawesi yang datang ke lokasi sesaat setelah tsunami menghantam pantai, menceritakan pemandangan yang mengerikan itu.

Malam itu di pantai, tampak Walikota Palu Hidayat, Kapolres Palu AKBP Mujianto, dan Dandim 1306 Donggala Letkol Kav. I Made Maha Yudhiksa. Warga dan polisi kemudian mengevakuasi mayat menggunakan sepeda motor. Ada yang sampai menggendong mayat. Sebab, kendaraan mobil belum bisa tembus ke pantai. Motor pun hanya sampai di ujung Jalan Saden Saleh, samping Palu Golden Hotel.

Bahkan, keesokan harinya, Sabtu pagi, ambulans belum bisa tembus ke pantai. Saat itulah, warga, polisi, dan tentara memasukkan jenazah yang tergeletak di pantai ke dalam kantong. Pemerintah Kota Palu mencatat, tsunami menyebabkan 1.365 orang meninggal dunia. Sebagian besar, korban meninggal dunia dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Rumah Sakit Undata, dan Rumah Sakit Madani.

Pantauan Metrosulawesi, Sabtu 29 September 2019, malam di RS Undata Palu, lebih dari 200 mayat terbujur kaku, tepat di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Mereka adalah korban gempa bumi yang disertai tsunami dan likuefaksi. Laki-laki, perempuan, anak-anak dibaringkan di situ. Gelap.

Selain korban meninggal dunia, di pelataran depan rumah sakit, dibangun tenda sepanjang sekitar 20 meter dan lebar enam meter. Di sanalah, tempat dirawatnya pasien luka-luka. Kebanyakan pasien patah tulang. Jerit kesakitan dan suara tangis terdengar dari dalam tenda. Sebagian pasien terpaksa di rawat di luar tenda, di bawah pohon, beratapkan langit. Dingin angin malam itu, menusuk hingga ke tulang.

Sementara serine ambulans juga tiada henti meraung, datang membawa pasien dan juga mayat. Tim kesehatan tampak mondar-mandir dengan senter di tangan. Ada yang mengangkat pasien dari ambulans. Ada yang mengangkat kasur. Ada yang berlari kecil mendorong ranjang, membagikan masker, dan membawa tabung oksigen. Pasien terus berdatangan hingga larut malam.

Begitulah suasana di Rumah Sakit Undata Palu setidaknya dalam satu pekan pertama pascabencana. Kondisi yang tak jauh berbeda di rumah sakit lainnya di Palu seperti Bhayangkara, Madani, dan rumah sakit swasta.
Jumat 28 September 2018, pukul 18.02, ketika gempa bermagnitudo 7,4 SR, hampir semua pasien di Rumah Sakit Undata diungsikan. Tak ada lagi pasien di dalam gedung yang beberapa bagian dindingnya retak. Lagi pula, gempa masih terus terjadi.

Gempa bumi, disusul tsunami dan likuefaksi mengakibatkan lebih dari 4 ribu orang luka berat dan menjalani rawat inap; 83 ribu lebih luka ringan dan dirawat jalan. Itu data kejadian di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong per 7 November 2018 yang dirilis Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Sementara data terakhir yang dirilis Pusdatina, 3.124 orang meninggal dunia, 705 hilang, dan 1.016 dikubur massal. Total 4.845 jiwa. Tetapi, miris. Sebagian ahli waris korban meninggal dunia, sampai satu tahun pascabencana ini belum menerima dana santunan duka yang dijanjikan pemerintah. Rinciannya: 1.119 di Palu, 75 di Sigi, 70 di Donggala, dan 43 di Parigi Moutong. (bersambung)

Ayo tulis komentar cerdas