Home Sulteng

Pemprov Sulteng Diminta Antisipasi Penurunan Populasi Kerbau di Lore

196
Warga mengembala kerbau di kadang kerbau, di Desa Wino Wanga, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso. (Antara Foto/ Muhammad Hajiji)

Palu, Metrosulawesi.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah diminta segera mengantisipasi menurunnya populasi kerbau, di Lembah Lore, Desa Winowanga, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso.
“Kami berharap pemerintah Kabupaten Poso maupun pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah bisa menindaklajuti keinginan masyarakat Lore yang ingin melestarikan hewan kerbau dari kepunahan. Hal tersebut harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah,” ucap caleg terpilih untuk DPRD Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira, di Palu, Senin.
Pernyataan Nilam Sari Lawira menanggapi keluhan warga Lore, Kabupaten Poso yang mengeluhkan populasi kerbau menurun disebabkan sulitnya mendapat bibit kerbau jantan. Selain Pemprov Sulteng, mantan Akademisi Fakultas Pertanian Untad Palu itu meminta kepada Pemkab Poso untuk membantu kesulitan warga Lore terkait populasi kerbau.
“Masyarakat Lore, Napu, Kabupaten Poso bisa menyampaikan harapannya kepada pemerintah setempat dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya,” kata dia.
Sebelumnya warga Lore di Desa Winowanga Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mengharapkan pemkab dan pemprov setempat membantu bibit kerbau jantan, sebagai bentuk upaya menjaga keberlangsungan hidup kerbau dari kepunahan.
“Yang paling utama dan yang sangat kami harapkan dapat dibantu yaitu bibit kerbau jantan,” kata Kepala Desa Winowanga, Alpius Rangka.
Hewan kerbau di Provinsi Sulawesi Tengah hanya ada di dataran Lembah Lore dan Bada. Namun, hewan kerbau terbanyak ada di Desa Winowanga. Bahkan di desa tersebut, terdapat pusat pemeliharaan peternakan hewan kerbau.
Alpius Rangka mengakui bahwa saat ini hewan kerbau di daerah itu mulai mendekati kepunahan. Hal itu dipengaruhi beberapa faktor antara lain, kurangnya kerbau jantan dan bibit kerbau jantan. Kemudian, hewan kerbau mati karena terjatuh di lubang atau jurang.
Faktor lain yaitu dijual oleh pemilik karena kebutuhan ekonomi. Saat ini, jumlah kerbau yang dipelihara atau digembala karena telah jinak sekitar 200 kerbau. Sementara kerbau yang liar atau belum jinak berjumlah sekitar 100 ekor.
Kerbau tersebut berada dalam kawasan pemeliharaan seluas 2.000 hektare di ujung desa tersebut.
Selain berharap bantuan bibit, kata Alpius Rangka, upaya pelestarian hewan kerbau dan demi keamanan, maka pemerintah diharap dapat membantu pembangunan pagar di lahan gembala kerbau seluas 2.000 hektare tersebut. (ant)

Ayo tulis komentar cerdas