Home Palu Perpustakaan Diharap Jadi Pusat Informasi

Perpustakaan Diharap Jadi Pusat Informasi

63
FOTO BERSAMA - Kepala Dispursarsip Sulteng, Ardiansyah Lamasitudju, didampingi Kepala Bidang P3KM DR. Rohani Mastura, serta sejumlah narasumber dari Perpusnas RI, dan para peserta Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan foto bersama usai pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Pengelola Perpustakaan se- Sulteng di salah satu Hotel di Kota Palu, Selasa, 10 September 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)
  • Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispursarsip) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Pengelola Perpustakaan se- Sulteng di salah satu Hotel di Kota Palu, Selasa, 10 September 2019.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulteng, Ardiansyah Lamasitudju, mengungkapkan, tujuan Bimtek itu untuk meningkatkan kemampuan pengelola Perpustakaan dalam melayani para pemustaka atau pengguna perpustakaan.

“Perpustakaan diharapkan dapat menjadi sentral atau pusat informasi masyarakat. Selain itu Perpustakaan dapat menyediakan naskah cetak maupun naskah non cetak,” kata Ardiansyah.

Menurut Ardiansyah, Perpustakaan saat ini harus menjadi tempat edukasi dan tempat pelatihan masyarakat dalam meningkatkan skill atau keterampilan. Sebab, kata dia, Perpustakaan diinginkan bukan lagi hanya tempat penyimpanan buku-buku, tetapi dapat menjadi tempat masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

“Kuncinya itu ada di pengelola perpustakaan dalam mendesain perpustakaannya menjadi tempat informasi dan pelatihan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.

Ardiansyah berharap, pemerintah kabupaten/kota lebih memprioritaskan pengembangan perpustakaannya. Saat ini, perpustakaan telah menjadi kebutuhan wajib pokok dalam pembangunan.

“Secara umum perpustakaan mempunyai peranan yang sangat vital bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kita menyadari bahwa secara kuantitatif dan kualitatif, tenaga pengelola dari berbagai jenis perpustakaan, baik umum, desa, dan sekolah masih sangat terbatas, sehingga menyebabkan belum optimalnya penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan. Maka untuk menjalankan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar diperlukan pustakawan profesional,” jelasnya.

Untuk itu kata Ardiansyah, tenaga pengelola perpustakaan dituntut memiliki kemampuan dan keterampilan handal dalam menggali, mengolah, menyebarluaskan, dan melestarikan bahan pustaka sebagai hasil budaya bangsa.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI, Mukhtar Dolle S.Sos., M.M., mengatakan, peran Perputakaan sangat strategis untuk mendukung program pembelajaran sepanjang hayat. Mengignat peran tersebut, maka Perpustakaan harus dikelolah secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan.

“Dengan harapan dapat mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan dan dapat diukur capaian kinerjanya bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu Perpustakaan harus bertranformasi,” katanya.

Kata dia, Perpustakaan bukan hanya sebagai gudang buku, tetapi harus berubah menjadi pusat informasi, koleksinya tidak hanya medium cetakan, namun harus multi format, sesuai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

“Layanan Perpustakaan seharusnya tidak terbatas pada ruang dan waktu, sehingga bukan hanya menjaga koleksi, tetapi memberikan layanan pasif, namun harus mampu memberikan nilai informasi dan pengetahuan yang proaktif dan mengutamakan kepentingan pemustaka,” ungkapnya.

Kata Mukhtar, pemberdayaan Perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat harus dilakukan, agar masyarakat mendapatkan akses sebesar-besarnya terhadap informasi dan pengetahuan.

“Sebab misi utama Perpustakaan adalah menyediakan dan melayani kebutuhan informasi agar masyarakat menjadi cerdas,” katanya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here