Home Nasional

Perdana, Kentongan RRI Hadirkan Gubernur Sulteng

188
DIALOG - Radio Republik Indonesia (RRI) Palu menghadirkan Gubernur Sulteng, H Longki Djanggola dalam program perdana bertajuk kentongan, Minggu, 1 September 2019. (Foto: Humas)

Palu, Metrosulawesi.id – Radio Republik Indonesia (RRI) Palu menghadirkan Gubernur Sulteng, H Longki Djanggola dalam program perdana bertajuk kentongan, Minggu, 1 September 2019.  Selain Longki, RRI Palu juga mengundang Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba dan Pakar Kebencanaan Universitas Tadulako, Dr. Abdullah, MT.

Kepala RRI Palu, H. Zakral Mutzain, menyampaikan program RRI kentongan mengudara secara live setiap hari pukul 20.20 Wita. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana.

Diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat Sulawesi Tengah dan nasional. Masyarakat harus sadar dan paham bagaimana menyelamatkan diri apabila terjadi bencana atau musibah dan menjadikan alat tradisional kentongan sebagai peringatan dini.

Longki mengapresiasi program yang digagas RRI Palu untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat bilamana suatu saat terjadinya bencana. Terlebih daerah Sulawesi Tengah atas hasil kajian para pakar memiliki potensi bencana .

“Apabila kita melihat kejadian bencana pada tanggal, 28 September 2018 silam, harus menjadi pembelajaran yang berharga buat masyarakat Sulawesi Tengah, Indonesia dan dunia. SOP mitigasi seolah-olah tidak berlaku dengan terjadinya likufaksi dan tsunami. Dahulu dianjurkan kepada kita saat gempa berlindung dibawah meja atau ketempat terbuka, tetapi hal tersebut terbantahkan dengan terjadinya likufaksi di Balaroa, Petobo dan Jono Oge,” ujar Longki.

“Justru di lapangan terbuka tanahnya terbelah dan langsung menyedot. Ada yang disebut tanah bergerak seperti di blender. Ada juga tanahnya yang jadi lumpur dan mengalir sehingga sangat menyusahkan orang untuk menyelamatkan diri,” tambahnya.

Menurut gubernuir, tsunami yang terjadi di daerahnya sangat aneh jika dihubungkan teori yang mengatakan setelah terjadi gempa bumi, ada jedah 10 sampai 15 menit baru terjadi tsunami atau air laut naik.

“Kejadian di Palu sejak terjadi gempa bumi, hanya dua menit langsung tsunami. Jadi tidak ada jedah masyarakat untuk menyelamatkan diri. Dengan kejadian tersebut perlu ada mitigasi bencana baru untuk disampaikan kepada masyarakat,” ungkap gubernur.

Olehnya dia berharap RRI Palu terus meningkatkan mitigasi bencana melaui program kentongan dengan mengundang para pakar kebencanaan. Gubernur pada kesempatan itu juga meminta kepada masyarakat agar tidak saling menyalahkan karena bencana merupakan takdir dari Allah SWT.

“Pemerintah daerah akan terus berusaha untuk melakukan pemulihan kondisi masyarakat terdampak bencana. Yakinlah pemerintah akan terus hadir ditengah-tengah masyarakat,” tandas Longki. (*)

Reporter: Michael Simanjuntak

Ayo tulis komentar cerdas