Home Ekonomi Ekonomi Sulteng Tumbuh Lambat

Ekonomi Sulteng Tumbuh Lambat

42
JUMPA PERS - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah M Abdul Majid Ikram memberikan penjelasan kepada wartawan di Kantor BI Sulteng, Rabu 14 Agustus 2019. (Foto: Tahmil Burhanuddin/ Metrosulawesi)
  • Triwulan II 2019

Palu, Metrosulawesi.id – Geliat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2019 mengalami perlambatan.

Ekonomi Sulteng tumbuh 6,62 persen, atau sedikit melambat jika dibandingkan dengan triwulan pertama yang tumbuh 6,98 persen di triwulan awal.

“Realisasi ini berbeda dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya yang mengalami akselerasi pada triwulan II,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah M Abdul Majid Ikram kepada wartawan, Rabu 14 Agustus 2019.

“Sebagaimana disampaikan BPS, pertumbuhan ekonomi memang ada penurunan. Tapi walaupun terdapat penurunan, 6,62 itu merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” jelasnya.

Secara lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulteng disebabkan oleh kinerja pertanian, industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Sektor pertanian hanya tumbuh 3,23 persen (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,07 persen (yoy).

“Perlambatan ini disebabkan oleh pertumbuhan tanaman pangan terutama padi yang mengalami kontraksi. Kerusakan irigasi akibat bencana di Kabupaten Sigi nampaknya cukup mempengaruhi penurunan kinerja sektor tersebut,” ungkap Kepala BI yang baru saja dipindahtugaskan ke BI Sulteng sekitar dua pekan itu.

Menurut Majid, Industri pengolahan juga mengalami perlambatan dari 12,64 persen (yoy) ke 6,86 persen pada triwulan kedua. Hal ini disebabkan oleh kinerja ekspor hilirisasi nikel atau hot rolled coiled (HRC) dan cold rolled coiled (CRC) yang tidak sebesar triwulan sebelumnya.

Selain itu, kinerja perdagangan juga masih tumbuh relatif rendah, hanya 0,68 persen (yoy). Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja penjualan barang tahan lama dan penjualan kendaraan bermotor yang belum maksimal seiring dengan tertahannya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada periode yang sama.

Namun begitu, terdapat beberapa lapangan usaha yang justru tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Sektor konstruksi misalnya, tumbh 12,05 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang hanya 6,05 persen (yoy).

“Pasca bencana industri properti memang sangat meningkat. Devloper sudah berani membangun. Itu merupakan optimisme,” ungkap Majid.

Tingginya pertumbuhan konstruksi dapat dilihat dari konsumsi semen di Sulteng yang mencapai 221.578 ton, tumbuh 26,23 persen (qtq) dibanding triwulan sebelumnya.

Meski di triwulan II pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah mengalami perlambatan, Kepala BI Sulteng meyakini pertumbuhan ekonomi Sulteng mampu mencapai pertumbuhan hingga 7 persen secara keseluruhan pada tahun 2019 ini.

Optimisme itu perlu pula dukungan pemerintah. Menurut Majid, pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat jika ditopang oleh investasi. Olehnya, ia berharap agar pemerintah daerah melihat peluang dan lebih responsif terhadap investor yang ingin masuk ke daerah ini.

“Kepala daerah harus cekatan,menarik orang untuk mau berinvestasi di sini.KEK itu ada investor Jepang mau masuk, mereka mau bangun smelter. Pemerintah harus cekatan,” sarannya.

Selain menggait investor, bank central bahkan menyarankan agar pemerintah daerah berani mencari pinjaman untuk mendukung investasi di daerah.

“Kita juga harus bisa jaga investasi di sulteng.Setelah bencana, kita sudah siap menerima investasi, kita sudah siap terima usaha dari luar. Mereka yang sudah masuk, investasi, jangan diganggu,” tandasnya.

Majid sendiri mengakui bahwa pergerakan ekonomi di Sulawesi Tengah masih berfokus di KabupatenMoriwali dan Kabupaten Banggai. Di dua daerah ini memang terdapat dua perusahaan industri padat modal, yakni PT IMIP di Morowali serta Donggi Senoro di Banggai.

“Angka 7 persen ekonomi Sulteng menurut saya bisa masuklah tahun ini. Saran saya jangan sampai masuk isu-isu negatif. Kalau ada isu ayo kita rembukkan, jangan saling ributlah,” tegas dia.

Untuk diketahui, di Sulawesi Tengah sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian, namun pertumbuhannya sangat rendah. Sementara sektor pengolahan menjadi sektor penopang yang paling besar pertumbuhannya beberapa tahun terakhir.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here