Home Morowali Soal Limbah Slag, IMIP Tunggu Regulasi

Soal Limbah Slag, IMIP Tunggu Regulasi

45
Senior Vice President PT.Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Slamet Viktor Panggabean. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

Morowali, Metrosulawesi.id – Senior Vice Presiden bidang eksternal PT IMIP site Morowali,Slamet Panggabean mengatakan, dalam pertemuan antara Komite Ekonomi dan Industri Nasional bersama kelompok kerja beranggotakan sejumlah kementerian terkait, dinyatakan bahwa Indonesia dan Belgia merupakan dua negara di dunia yang masih memasukkan slag sebagai limbah B3.

“Pertemuan itu digelar 21 Maret 2019 dan sejumlah kementerian yang dimaksud yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM. Dalam pertemuan itu, PT IMIP bersama-sama perusahaan pengelola smelter milik pemerintah dan juga swasta lainnya juga ikut hadir,” ungkap Slamet belum lama ini.

Limbah slag atau terak baja yang dihasilkan dari pengolahan smelter nikel ataupun tembaga selama ini masih dianggap sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Padahal, jika berkaca dari negara lain, slag bisa dijadikan sebagai bahan baku bangunan, bahan pengerasan jalan,bahkan bisa dijadikan bahan baku pembuatan pupuk tanaman.

Di negara-negara industri lain semisal Kanada dan Amerika,limbah slag,kata Slamet,dimanfaatkan sebagai bahan agregat pembangunan jalan karena memiliki daya lekat yang jauh lebih baik dibandingkan batu alam.Sementara di Jepang, limbah slag antara lain dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

“Pada jurnal tanah dan lingkungan (Vol. 12 No. 1, April 2010:36-41) yang diterbitkan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB),menyebutkan bahwa, slag merupakan material yang bermanfaat di bidang pertanian,karena slag dapat digunakan sebagai bahan pengapuran untuk memperbaiki kondisi tanah masam.Pola ini sudah digunakan di Jerman sejak tahun 1937 dan Amerika sejak 1939,” sebutnya.

Selain PP Nomor tahun 2014, pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag ini juga belum bisa dilakukan karena hingga saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) belum mengeluarkan regulasi terkait pengelolaan limbah slag. Hal mendasar inilah yang membuat PT IMIP belum bisa melakukan pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag itu secara massif untuk dijadikan bahan yang bernilai ekonomi.

Meski demikian,kata Slamet,PT IMIP sudah melakukan sejumlah pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag. Misalnya untuk pembuatan batako, paving blok dan batu bata yang produknya digunakan untuk kebutuhan bahan baku dalam pembangunan sejumlah fasilitas di dalam kawasan industri yang dikelolanya. 

Bahkan, batako beton yang berasal dari pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag oleh PT IMIP telah mengantongi sertifikat SNI dan digunakan untuk bangunan perkantoran dan tempat ibadah yang berada di dalam kawasan IMIP.Produk samping dari limbah B3 ini, telah dilakukan pengujian karateristiknya.

Selain itu,pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag ini adalah stabilisasi lahan tanah untuk dijadikan sebagai lahan bangunan,baik bangunan kantor ataupun bangunan rumah ibadah. 

“Pemanfaatan lainnya lagi,untuk kebutuhan road base jalan di dalam kawasan, yang juga telah dilakukakan uji CBR,” urainya.

Di sisi lain,PT IMIP juga secara aktif mengajukan dan mengurus sejumlah perijinan terkait pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag.
Koordinasi,diskusi dan evaluasi terus dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah dan Kementerian LH.

Hingga saat ini,kata Slamet,PT IMIP masih menunggu hasil daripada pertemuan. Diharapkan, regulasi dari pemerintah segera terbit sehingga pengelolaan dan pemanfaatan limbah slag di dalam kawasan PT IMIP bisa juga secara massif dilakukan. Disamping itu,PT IMIP juga mengharapkan peran aktif pemerintah dan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendorong supaya regulasi dari pemanfaatan limbah industri tambang atau slag dapat segera terealisasi atau diterbitkan oleh pemerintah pusat.

“Pertimbangan itu tentunya untuk menjaga iklim investasi di Provinsi Sulawesi Tengah,khususnya di Kabupaten Morowali,” papar Slamet. (*)

Reporter: Murad Mangge
Editor: Syamsu Rizal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here