Home Palu Adat Kota Palu Berbasis Nilai

Adat Kota Palu Berbasis Nilai

138
BERI PENJELASAN - Wali kota Palu, Hidayat, M.Si saat memberikan materi. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Wali kota Palu, Hidayat, M.Si menjadi salah satu narasumber pada kegiatan Diskusi Ilmiah digelar oleh Yayasan Wali Manis melalui bidang Majelis Kajian Ilmiah di di kediamannya,  Senin, 5 Agustus 2019. Diskusi rutin tiap bulan yang mengusung tema “Agama dan Budaya” ini turut dihadiri para tokoh masyarakat, akademisi, dan para mahasiswa pada Senin, 5 Agustus 2019.

Wali kota Hidayat menjelaskan, budaya yang ingin dibangun Pemerintah Kota Palu melalui visinya  Palu Kota Jasa Berbudaya dan Beradat Dilandasi Iman dan Taqwa adalah budaya berbasis nilai.

“Ada tiga nilai yang kita ingin bangun, yaitu nilai kekeluargaan, kegotongroyongan, dan nilai toleransi. Ini yang kita akan bangun di seluruh aspek kehidupan masyarakat,” ungkap Wali kota.

Sementara adat, menurut Wali kota Hidayat adalah aturan yang mengatur tatanan kehidupan manusia. Kata dia, adat ada di kitab suci agama dan harus dipatuhi. Sementara Balia dan sebagainya, merupakan adat istiadat yang tidak harus dilaksanakan.

Sejalan dengan itu, Wakil Ketua MUI Kota Palu, Bpk. Dr. Sagir Amin menyatakan adat merupakan kepingan kebudayaan yang bersifat lokal di sebuah negeri. Kalau adat tidak dilaksanakan, akan koyak negeri itu.

“Kebiasaan-kebiasaan manusia yang baik itu, penting kita jaga. Segala tradisi baik yang lahir dari pikiran harus kita lestarikan. Kalau tidak ada akal, agama mati,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat, Ridwan Yalidjama menyatakan adat adalah benteng terkuat menjaga agama, karena masyarakat akan lebih takut ketika mendapat ancaman sanksi adat atau Givu.

Menurutnya, masyarakat saat ini terlalu cepat memvonis sesuatu. Dulu perbedaan pandangan itu rahmat, tapi saat ini, perbedaan itu sesat.

“Banyak manusia sekarang merasa pandai, bukan pandai merasa. Jangan mudah menyalahkan orang lain, karena kita belum tentu lebih baik dari orang lain,” katanya.

Ridwan mengatakan, yang sebenarnya diinginkan saat ini pascabencana gempa, tsunami, dan likuifaksi 28 September 2018 silam adalah memadukan antara budaya, adat, dan agama, bukan malah mempertentangkannya.

Reporter: Yusuf Bj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here