Home Nasional Soal Wacana ‘Impor’ Rektor Asing, Prof Basir: Jangan Kita Biasakan...

Soal Wacana ‘Impor’ Rektor Asing, Prof Basir: Jangan Kita Biasakan Reaktif

541
Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio, SE, MS. (Foto: Ist)

ISU soal impor rektor yang mulai menggelinding ternyata ditanggapi datar saja oleh mantan Rektor Untad dua periode, Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio, SE.MS, disaat banyak pihak yang sangat reaktif dan memberi komentar yang berlebihan. Prof Basir mengibaratkan jangan memperkelahikan anak kuda, sementara induknya saja belum ada.

Berikut ini wawancara selengkapnya antara Metro Sulawesi dengan Prof Basir Cyio, Selasa, 6 Agustus 2019.

Anda sebagai mantan rektor bagaimana menanggapi isu akan adanya rektor impor?

Kalau saya, biasa saja, sebab namanya wacana bisa jadi dan bisa juga tidak jadi. Dari pada putus urat saraf 18 ribu setiap kali kita menanggapi yang belum jelas, mending berpikiran positif dan kita jangan terlalu reaktif setiap ada isu. Kenapa? Karena wacana seperti itu akan selalu hadir sebagai pewarnai dalam putaran kehidupan manusia. Jadi enjoy saja, jangan muka harus cemberut dalam melewati hari-hari ini. Apalagi hanya soal isu rektor impor.

Apakah ada kaitan antara Rektor impor dengan harapan pemerintah dalam Globalisasi perguruan tinggi?

Memang ke sana arahnya. Globalisasi adalah terbangunnya interaksi secara internasional tanpa ada sekat karena batas Negara. Globalisasi juga adalah kultur, sehingga wajar bila masih ada pihak yang merasa dan berpendapat belum saatnya segala. Dan kami percaya, masuknya rektor impor itu bukan secara serta merta, pasti akan didahului dengan lahirnya regulasi. Tidak mungkin misalnya rektor dari Swiss, tiba-tiba duduk di kuris Rektor Universitas Gadjah Mada. Pasti akan ada reaksi. Olehnya itu, kita tunggu regulasi yang akan diterbitkan pemerintah dan sambil menunggu implementasinya. Jika produk regulasi itu mengandung hal-hal yang sensitif, pasti ada uji public untuk mendapatkan masukan-masukan.

Ada apa sampai-sampai Orang perguruan tinggi itu selalu sensitif jika ada isu Rektor Impor?

Sensitif itu sangat diperlukan, tapi jangan reaktif berlebihan. Sebagai bangsa yang kelahirannya sebagai Negara merdeka baru 74 Tahun, wajar bila kehidupan ini masih mengalami proses kultural akademik kehidupan kampus. Ibarat kesadara dalam berglobalisasi, sama dengan dalam hal penanganan sampah. Kalau pernah ke Stockholom, Swedia, di sana soal sampah sama sekali sudah bukan masalah. Kesadaran masyarakatnya sudah sangat tinggi dan sampah bahkan sudah memberi manfaat yang luar biasa sebagai sumber energy. Jadi kalau ada orang Indonedia ke sana, terus langsung membandingkan, maka pasti kita stress melihat perbedaan itu. Padahal jangan membandingkan tapi berupaya suatu ketika kita akan seperti mereka. Di saat kita tanya, apa rahasianya sampai-sampai masyarakat Swedia sadar tentang sampah. Jawab mereka, untuk sampai pada kesadaran seperti ini, butuh waktu 300 tahun. Artinya, kita yang baru 74 tahun merdeka masih harus sabar. Yang penting ada niat. Nah, dalam konteks pendidikan tinggi, suatu saat juga akan demikian. Artinya jika orang perguruan tinggi benar-benar sudah mengglobal cara berpikirnya, maka kultur untuk menerima yang tidak biasanya, itu akan terwujud dengan sendirinya. Jadi, jika saat ini ada wacana rektor impor, mestinya jangan kita reaktif terlalu berlebihan tapi kita tunggu regulasinya.

Maaf, kembali ke Universitas Tadulako. Saat ini Prof Basir Ketua senat. Lalu apa yang sedang dalam program demi memajukan Universitas Tadulako?

Tugas senat itu sudah diatur dalam Peraturan Perundangan yang berlaku yang landasannya tertuang dalam UU, PP, dan Permen. Sejak PP Nomor 60 Tahun 1999 dicabut maka fungsi senat berubah. Dalam PP 60/1999 Pasal 41 disebutkan bahwa Senat Universitas adalah Badan Normatif dan Perwakilan Tertinggi. Tetapi saat PP itu dicabut dan lahir UU 12/2012, PP 04/2014, UU 20/2013, Permenristek 44/2017 dan Permenristek 08/2015, maka fungsi senat benar-benar pure di bidang kebijakan akademik, sementara yang nonakademik itu sudah dipolarisasi ke dalam organ lainnya. Termasuk organ Rektor (OR), organ Dewan Pertimbangan (DP), dan organ Satuan Pengawasan Intern (SPI), berikut Dewan Pengawas (Dewas).

Apakah ada kendala dengan perubahan itu, khususnya di kalangan Universitas Tadulako?

Secara umum memang mulai dipahami walaupun roh dan suasana batin yang diwarnai oleh PP 60/1999 itu masih ada. Bahkan masih ada yang berpendapat bahwa pengesahan keuangan dan pemeriksaan keuangan itu harus sepengetahuan senat. Itu sudah bukan zamannya. Nonakademik ada di DP sementara menyangkut keuangan ada di SPI dan Dewas. Hal itu pulalah mengapa kami gelar rapat koordinasi dengan Ketua/Sekretaris Komisi belum lama ini. Tujuannya memberi penguatan dalam menjalankan tugas-tugas kekomisian dalam rangka melahirkan regulasi di bidang akademik. Untuk tugas tersebut, kami telah membentuk empat komisi yakni Komisi Perencanaan, Pengembangan Pembelajaran dan Kemahsiswaan, Komisi Norma, Etika, dan Nilai Kepatutan, Komisi Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan, dan keempat Komisi Penelitian, Pengabdian dan Publikasi Ilmiah. Semua komisi ini bersentuhan langsung dengan akademik. Bahwa cara berpikir setiap organ memang harus terus didorong. Dulu kalau rapat senat murni tergantung rektor karena rektor ex officio sebagai Ketua Senat. Saat ini sudah tidak demikian, sehingga organ rektor harus mengkoordinasikan dengan organ senat dalam setiap ada kegiatan yang evennya digelar nelalui Rapat Senat. Artinya, jangan Rapat Senat seenaknya diatur hanya oleh Kasubab misalnya sehingga terkesan senat oke-oke saja. Sekali lagi, regulasi inilah yang harus dipahami secara bertahap.

Begitu banyak organ yang ada di Untad saat ini, lalu bagaimana hubungan kerja antara organ dan apakah Ketua Senat masih tetap menjalankan koordinasi dengan Rektor?

Dalam hal pengembangan akademik, koordinasi adalah ujung tombaknya terlebih yang menyangkut dengan kemajuan Universitas Tadulako yang sama-sama kita cintai. Semua organ harus bahu membahu dan saling sinergi tanpa kita harus merasa lebih.

Maaf, terkait dengan isu penerimaan mahasiswa baru tahun 2019 ini, terkesan berbeda. Apakah memang ada regulasi baru?

Memang ada, sebab jika tahun-tahun sebelumnya yang melaksanakan test itu adalah Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN), saat ini sudah ditangani oleh Lembaga Test Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), walaupun tetapi melaibatkan rektor dan wakil rektor bidang akademik.

Bagaimana dengan Test Mandiri, apakah juga di bawah koordinasi LTMPT?

Kalau itu murni kewenangan Rektor dan Warek Bidang Akademik, dan secara teknis saya sudah tidak tahu menahu karena sudah bukan areanya Ketua Senat, atau Organ-Organ lainnya. Baik dalam hal penambahan kuota maupun dalam hal meluluskan calon mahasiswa. Jadi mohon dipahami, saya tidak ada komunikasi apapun dengan Rektor dan Warek Akademik dalam hal penerimaan mahasiswa baru, dan itu murni areanya Rektor dan Warek akademik. Tetapi mohon jangan lagi dikembangkan di luar bahwa ketidakterlibatan saya karena saya sudah tidak akur dengan rektor seperti yang kalian tanya tadi.

Jadi isu yang berkembang bahwa Ketua Senat tidak akur dengan Rektor itu tidak benar?

Tidak benar. Bahwa ada beda pendekatan, beda metode dan beda persepsi dalam melihat satu hal, itu wajar di dunia perguruan tinggi. Kita ini cukup memberi masukan, bahwa rektor tidak mau terima dan tidak mau mendengar, itu hal yang wajar karena yang bertanggung jawab itu adalah rektor sebagai pimpinan perguruan tinggi sebagaimana diatur dalam Peratutan Pemerintah Nomor 4 tahun 2014. Jadi biasa saja. Kita jangan persepsikan terlalu jauh, apalagi kalian dapat info-info dari orang kampus. Saya dengan beliau tetap baik-baik saja. Bahkan saya ikut program Visiting Professor hingga presentasi dalam seminar dengan judul “Anthropogenic Land Degradation in Central Sulawesi-Indonesia” di The University of Newcastle, Australia, beliau juga ke sana dan bersamaan kembali ke Indonesia setelah beliau tanda tangan MoA dengan Hunter Innovation and Science Hub.

Sepertinya Prof Basir menyembunyikan sesuatu karena bertentangan dng informasi yang wartawan dengar dari orang-orang Untad?

Hehe, bapancing lagi. Tidak ada yang saya harus sembunyikan dinda. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here