Home Palu Tanamkan Nilai Kebhinekaan melalui Literasi Media Sosial

Tanamkan Nilai Kebhinekaan melalui Literasi Media Sosial

245

Oleh : Asrianti dg.Bintang.,M.Pd (Dosen FKIP, Universitas Tadulako dan Duta Bahasa Negara)

Perkembangan teknologi tak dapat dielak oleh siapapun. Dari beberapa perkembangan teknologi, media sosial yang paling digandrungi. Hal ini dikarenakan media sosial menawaran ruang komunikasi dan publikasi tanpa batas setiap waktu. Selain itu, hampir semua orang dapat mengakses dan menggunakan media sosial. Polemik saat ini di Indoensia, apakah perkembangan media sosial sudah seimbang dengan kualitas penggunanya?

Perkembangan media sosial tidak berkolerasi dengan kualitas penggunanya. Sebuah hasil riset menunjukkan bahwa 23,4% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA terjangkit paham radikal (Mata Air Foundation dan Alvara Research Center, Oktober 2017). Hal ini dapat mengancam nilai-nilai kebhinekaan apabila tidak diimbangi dengan keterampilan literasi media. Pernyataan tersebut cukup beralasan mengingat masyarakat Indonesia selama ini hidup dengan kebhinekaan di antaranya adat istiadat, suku bangsa, bahasa, dan agama. Kebhinekaan merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Namun, apabila tidak dipelihara dengan baik akan rentan terjadi konflik sosial. Sebuah pemicunya yaitu salah menyikapi dan memahami pesan berita yang terdapat di media sosial. Media ini mampu menyebarkan berita kepada masyarakat dengan cepat, baik berita yang benar maupun salah.

Nilai kebhinekaan merupakan sesuatu yang esensial yang dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan perilaku yang baik atau tidak baik dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berkebhinekaan. Nilai-nilai tersebut menjadi acuan, landasan dan perekat bagi kelestarian kebhinekaan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai kebhinekaan perlu ditanamkan dan dibudayakan dalam kehidupan.

Rendahnya keterampilan literasi media pengguna internet menjadi penyebab utama terjadinya konflik sosial. Konflik tersebut yaitu maraknya berita hoaks, perilaku tawuran antarsuporter sepak bola, tawuran pelajar, korupsi, isu kebangkitan PKI, terorisme, radikalisme agama, ujaran kebencian, kampanye hitam, dan perselisihan antargolongan masyarakat. Peristiwa ini apabila terus dibiarkan akan ‘menodai’ prinsip Bhineka Tunggal Ika yang sudah diresmikan sejak 67 tahun yang lalu oleh para pendiri bangsa. Permasalahan kemampuan masyarakat memahami pesan berita menjadi masalah yang sangat serius. Berita mengalir begitu deras di tengah masyarakat sedangkan kemampuan literasi media masyarakat Indonesia relatif rendah. Hal ini mengakibatkan timbulnya konflik sosial yang bersifat horizontal dan vertikal. Jarang sekali masyarakat yang menyadari bahwa berita di media sosial bersifat konstruksi realitas, bias, membentuk kekuasaan, dan tidak netral.

Potret negatif media sosial dewasa ini terangkum dalam beberapa kasus yang telah dan sedang terjadi selama ini: 1) kurangnya rasa solidaritas dan persaudaraan sehingga banyak terjadi pertikaian atau kerusuhan antargolongan, antar-agama, dan antarsuku; (2) nilai kekeluargaan semakin berkurang karena masih banyak warganet berkomunikasi dengan cara berkomentar kasar/menghina sehingga terjadi konflik, (3) penghormatan terhadap tata sosial semakin berkurang dengan maraknya aksi tawuran, saling menghina agama, suku bangsa, dsb., (4) gaya hidup yang konsumtif dan kurang mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan, sering tercermin dalam status/produksi konten para warganet, (5) kurangnya sikap untuk menghormati dan menghargai keberagaman dan menghindari egoisme yang bersifat sektarian.

Keterampilan literasi media sosial hadir agar penggunanya kritis terhadap isi pesan media sosial. Keterampilan ini terdiri atas dua kompetensi, yaitu kompetensi individual dan kompetensi lingkungan. Pertama, Kompetensi individual mencakup 1)kemampuan menggunakan/mengakses media sosial seperti cara masuk/keluar media sosial, membuatstatus teks, mengunggah foto atau video, mengirim dan membuka pesan teks/suara, mengirim komentar, dan mengetahui fitur-fitur dasar. 2) pemahaman kritis. Kemampuan pengguna untuk memproses informasi untuk memahami dan menemukan makna pesan dan teks media, baik konten maupun konteks. Pemahaman ini memungkinkan pengguna untuk menangkap, mengasimilasi, dan menghasilkan informasi untuk memecahkan permasalahan. Dengan demikian, pengguna dapat mengklasifikasikan informasi yang benar dan menanggapi dengan tepat, dan 3) pemahaman komunikatif. Pemahaman ini berdasarkan kemampuan pengguna untuk menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang dapat diterima dan memadai secara sosial sesuai dengan situasi dan konteks.  Kedua, kompetensi lingkungan mencakup kebijakan media, pendidikan media, industri media, dan tindakan masyarakat sipil. Kompetensi ini merupakan faktor kontekstual yang mempengaruhi individu dan berhubungan dengan pendidikan media dan hak warga negara. Melalui keterampilan literasi media sosial tersebut, pengguna media sosial dapat membaca dan memahami isi pesan media sosial sebelum menangapinya sehingga dapat memiliki kesadaran dan pemahaman komunikatif bahwa bahasa adalah alat untuk menjalin kerja sama dan menyelesaikan konflik.

Keterampilan literasi media sosial membekali pengguna media sosial untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan,yaitu: (1) nilai toleransi untuk mengakui dan menghormati hak-hak asasi dalam hidup bermasyarakat, (2) nilai kesetaraan yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan terhadap budaya suku lainnya, (3) nilai demokrasi yang mengakui bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama, serta mengakui kebhinekaan sebagai hal yang wajar, dan (4) keadilan yang memberikan hak yang sama pada orang yang memiliki status yang sama. Literasi media sosial menjadi penting untuk menyeimbangi penetrasi internet yang begitu cepat hadirnya di tengah masyarakat. Masyarakat yang berliterasi dapat memadukan keterampilan teknologi dan keterampilan manusia. Dengan meningkatnya kedua keterampilan ini, masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang kreatif, kritis, komunikatif, dan berpikir tingkat tinggi terhadap pesan berita di media sosial. Pesan tersebut akan digunakan untuk melakukan hal yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian, pengguna media sosial akan senantiasa menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dalam bermedia sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here