Home Politik Ahmad Ali: Jangan Lagi Ada Polarisasi

Ahmad Ali: Jangan Lagi Ada Polarisasi

225
BERBINCANG SERIUS - Anggota DPR RI, Ahmad M Ali berbincang bersama Ustad Gus Muwafiq. (Foto: Ist)
  • Pilkada Serentak 2020 di Sulteng

Palu, Metrosulawesi.id – Ketua Fraksi Nasdem DPR RI H Ahmad M Ali meminta masyarakat Sulteng untuk bersatu kembali pasca pemilihan presiden. Ia mengatakan, urusan politik beberapa bulan lalu telah selesai, sehingga saat ini tidak lagi berbicara tentang politik.

“Saya selaku anak negeri Sulteng mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Sulteng khususnya Majelis Ta’lim yang berkontribusi bukan untuk memilih Jokowi, tetapi berkontribusi untuk demokrasi Sulteng, sehingga kemudian menghasilkan pemimpin yang sudah ada,” kata Ahmad Ali pada acara Silaturahim Akbar Yayasan ICI (Insan Cita Indonesia) yang dilaksanakan di Lapangan Abadi Talise Palu, Ahad 28 Juli 2019.

Ahmad Ali mengatakan kontestasi politik yang begitu memanas, polarisasi dukungan yang begitu kuat antar 01 dan 02 yang terjadi pada saat itu, Sulteng mampu melewati itu dan tidak ada gesekan yang berarti. Jika pun ada gesekan hanya terjadi ‘susupo’ di media sosial.

“Apapun perbedaan, polarisasi yang begitu dalam kita bisa lewati dengan baik, sehingga kemudian hari ini antara pendukung 01 dan 02 kembali melaksanakan aktivitas keseharian untuk mendukung pemerintah yang sah,” ujarnya.

Ahmad Ali berharap, perbedaan politik yang pernah terjadi semata-mata dipandang sebagai perbedaan politik, bukan perbedaan yang harus memutuskan silahturahmi. Sehingga kemudian perbedaan ini bisa dipersatukan di majelis-majelis dzikir seperti ini.

“Kita bersatu bukan untuk Jokowi, Prabowo tetapi kita bersatu untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya berharap ke-Indonesia-an ini, harus kita rawat karena ini adalah warisan dari nenek moyang kita. Perbedaan akan selalu ada, karena itu menurut saya adalah sunatullah,” katanya.

Pada Pilkada serentak tahun 2020 mendatang kata Ahmad Ali, juga akan berpotensi terjadi pembelahan di masyarakat, hanya karena beda pilihan.

“Nanti ada pemilihan Gubernur, Walikota dan Bupati sekali lagi saya ingin tegaskan, silakan kita berbeda-beda. Silakan menyampaikan aspirasi. Silakan mendukung si pulan dan lainnya. Kita tidak harus bersama-sama, tapi di waktu tertentu kita bisa dikumpulkan di majelis-majelis seperti ini, agar silaturahmi kita bisa terjaga,” ujarnya.

Ahmad Ali mengatakan, jangan karena perbedaan politik, seperti majelis ta’lim si A mendukung si calon ini, majelis ta’lim ini mendukung calon ini berbeda, terus tidak lagi saling tegur menegur.

“Kenapa kita saling ribut terus, calonnya saja tidak saling ribut,” ujarnya.

“Kita berharap pemilu pada September 2020 ini, tidak ada lagi polarisasi. Dia orang Kaili. Dia orang bugis. Dia orang Banggai. Dia orang Morowali. Semua sama. Yang terpenting bagi kita, dia mampu berbuat untuk kepentingan masyarakat Sulteng. Jangan lagi kemudian kita mengkotak-kotakkan,” imbuh Ahmad Ali.

Olehnya itu katanya, kualitas pengabdian orang tidak ditentukan, dia lahir di mana.

“Tapi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa berguna untuk orang lain,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ahmad Ali juga menjelaskan soal apakah dirinya maju dalam bursa Pilgub atau tidak.

“Saya juga belum tahu pastinya. Saya ini sekarang anggota DPR RI. Saya belum pernah mengatakan mau maju gubernur atau tidak. Nanti tergantung kemanfaatannya,” katanya.

Kata dia, jika pun kemudian pihaknya memutuskan dan partai memerintahkan untuk maju, pastinya dirinya tidak sedang mencari jabatan, karena hari ini katanya, dia tidak kekurangan jabatan di Jakarta.

“Jika saya nanti memutuskan untuk maju, pastinya demi Allah hanya semata-mata karena kecintaan saya kepada masyarakat Sulteng, dan akan memberikan pengabdian kepada masyarakat Sulteng,” katanya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here