Home Sulteng

Sulteng Masih Diguyur Hujan

207
PANTAU CUACA - Prakirawan BMKG Palu Isna Putri saat memberi keterangan prakiraan potensi hujan di wilayah Sulteng dalam satu kesempatan. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

  • BMKG Palu Keluarkan Peringatan Dini

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palu memprakirakan Sulawesi Tengah masih akan diguyur hujan dalam beberapa hari kedepan. Hujan akan mengguyur dengan intensitas ringan hingga lebat sejumlah wilayah di daerah ini.

“Untuk satu sampai tiga hari kedepan masih akan terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di wilayah Palu, Sigi, Donggala dan Parimo. Untuk hujan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di wilayah Morowali, Morowali Utara, Banggai, Bangkep, dan Balut,” ujar Prakirawan BMKG Palu Isna Putri, Selasa, 11 Juni 2019.

Dengan prakiraan itu BMKG Palu mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat selalu waspada. Kewaspadaan juga diperlukan terhadap potensi gelombang tinggi 1 sampai 2,5 meter di perairan Morowali, Morut, Banggai, Bangkep dan Balut.
Seperti diberitakan, akibat guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Kabupaten Morowali dilanda banjir. Berdasarkan laporan yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulteng, beberapa sungai sempat meluap dengan arus yang cukup deras.

Jumlah pengungsi dilaporkan mencapai 561 KK atau 2.237 jiwa dari Desa Lele dan Desa Dampala Kecamatan Bahodopi. Dari ribuan jumlah pengungsi tersebut 66 jiwa diantaranya merupakan bayi.

“Sampai hari ini (Minggu, 9 Juni) tidak ada laporan korban jiwa hilang maupun luka,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sulteng Bartholomeus Tandigala, Senin, 10 Juni 2019.

Dikatakan dampak putusnya tiga jembatan jalan utama penghubung antara Provinsi Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Tenggara yang merupakan akses utama dan satu-satunya jalan penghubung Bungku, ibu kota Morowali dengan wilayah Kecamatan Bungku Timur, Bahodopi menimbulkan kerugian sangat besar. Itu karena Bahodopi merupakan kawasan industri nikel yang mempekerjakan ribuan karyawan.

Ribuan karyawan dan masyarakat yang menggunakan akses/jalan utama tidak bisa beraktifitas. Diperkirakan hal itu menimbulkan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah setiap harinya.

Masalah lain, kebutuhan pokok tidak bisa dipasok melalui jalan utama yang sudah terputus total. Kondisi ini diperparah dengan puncak musim angin timur yang memicu gelombang tinggi dan angin kecang sepanjang pesisir laut wilayah Morowali yang sangat berisiko.

“Pasokan logistik kebutuhan pokok masyarakat terputus, tentu ini akan sangat mengganggu kehidupan masyarakat diwilayah Bahodopi dan sekitarnya. BBM dan gas elpiji juga mulai langka. Olehnya perlu bantuan penanganan segera oleh berbagai pihak,” tandas Bartholomeus.

Reporter: Michael Simanjuntak

Ayo tulis komentar cerdas