Home Ekonomi Sulit Mengendalikan Harga yang Dikontrol Pusat

Sulit Mengendalikan Harga yang Dikontrol Pusat

60
Kepala BPS Sulteng Faizal Anwar saat menjelaskan kondisi perekonomian Sulawesi Tengah dan tingkat inflasi Kota Palu, Senin, 10 Juni di kantor BPS Sulteng. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, pemerintah daerah tidak mampu berbuat banyak untuk mengontrol harga sejumlah sektor komoditas yang notabenenya terkendalikan secara makro atau mengacu pada harga pusat sehingga berdampak pada andil inflasi daerah pada mei 2019 yang dirilis sebesar 0,97 persen.

Hal itu dikatakan Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar saat kegiatan pers conferences data strategis bulanan BPS di kantor BPS Jalan Muhammad Yamin Kota Palu, Selasa (10/6/2019).

Dikatahui, periode Mei 2019 merupakan bulan ramadhan dengan berbagai dinamika ekonomi yang sulit terbaca, dalam dua pekan pertama, masyarakat dihebohkan gejolak harga bawang putih mencapai Rp100 per kilogram dan dipenghujung bulan, harga tiket pesawat yang terus menerus mengalami kenaikan.

Kedua isu ekonomi tersebut masing-masing dikendalikan dari pusat, aturan tiket pesawat melalui Keputusan Menhub No 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, sementara komoditas bawang putih menurut Staf Ahli Kementerian Perdagangan bida Hubungan Internasional, Doddy Edwar adalah 95 persen merupakan hasil komoditi impor.

Hal itu tentunya membuat pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak selain mengupayakan imbauan penurunan harga, berharap kebesaran hati pihak maskapai dan permohonan pasokan bawang putih dipercepat distribusinya.

Namun menurut Faizal, hanya tarif angkutan udara menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi, sedangkan bawang putih untuk sektor bahan makanan hanya mengambil andil urutan ketiga dengan andil 0,60 persen setelah tomat dan cabai rawit masing-masing 0,114 persen dan 0,062 persen.

“Inflasi pada Mei 0,97 persen. Sedangkan laju inflasi kumulatif Januari-Mei 1,15 persen dan secara Year on Year (yoy) 6,29 persen,” tutur Faizal.

“Ini menjadi tantangan kita bersama, kita sampai saat ini persoalannya Tim Penaggulangan Inflasi Daerah (TPID) telah bekerja, tapi ada hal-hal yang memang harus ditentukan Administered Prices yang ditentukan pusat agak sulit dikendalikan,” ujarnya menambahkan.

Dia menambahkan Kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 3,72 persen, diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,65 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,51 persen, kesehatan 0,10 persen, serta sandang 0,08 persen.

Sedangkan indeks harga kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami penurunan masingmasing sebesar 0,10 persen dan 0,02 persen.

Reporter: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here