Home Nasional Satgas Pamrahwan Yonif 711/RKS Kedepankan Nilai Keagamaan

Satgas Pamrahwan Yonif 711/RKS Kedepankan Nilai Keagamaan

191
Danyon 711/Raksatama Letkol Inf. Fanny Pantouw, di arak para personil Yonif 711/RKS Brigif 22/Ota Manasa, usai upacara penyambutan purna tugas Satgas operasi di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, Senin, 10 Juni 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)
  • Kunci Sukses Tugas di Maluku dan Maluku Utara

Palu, Metrosulawesi.id – Personel Satgas Pamrahwan Maluku Yonif 711/RKS Brigif 22/Ota Manasa, mengedepankan nilai-nilai keagamaan saat pelaksanaan tugas pengamanan daerah rawan (Pamrahwan) di Provinsi Maluku dan Maluku Utara.

Hal itu disampaikan oleh Danyon 711/Raksatama Letkol Inf. Fanny Pantouw, yang juga merupakan Dansatgas Pamrahwan Maluku Yonif 711/RKS Brigif 22/Ota Manasa, usai upacara purna tugas Satgas operasi di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, Senin, 10 Juni 2019.

“Kita melaksanakan operasi toritorial dengan mengedepankan kekeluargaan dan keagamaan. Jadi di daerah yang beragama Kristen kita tampilkan vokal grup, kemudian di daerah yang beragama Islam kita tampilkan tim marawis, serta kekeluargaan dari hati ke hati,” ucapnya.

Danyon 711/Raksatama Letkol Inf. Fanny Pantouw, juga mengatakan bahwa keberhasilan merebut hati dan kepercayaan dari masyarakat itulah, yang kemudian masyarakat secara suka rela menyerahkan senjata-senjata sisa saat konflik yang pernah terjadi beberapa waktu lalu di wilayah itu.

Senjata yang diserahkan oleh masyarakat itu hampir 300 pujuk, ada laras panjang, laras pendek, rakitan dan standar dengan ribuan amunisi, dan bahan peledak granat serta bahan peledak lainnya yang sudah non aktif.

Letkol Inf. Fanny Pantouw menjelaskan bhawa, di wialayah tersebut memasng masih masih sering terjadi konlik kecil-kecilan antar kampung, dan pihaknya berhasil mendekati masyarakat, serta melaksanakan rekonsiliasi konflik, sehingga terjadi perdamaian.

“Yang tadinya tidak pernah ketemu antar kampung yang berseteru itu, kini bisa bertemu dan berbaur serta bisa bersama-sama, dan itu kita gunakan dengan melalui pendekatan agama,” tambahnya.

“Di Provinsi Maluku maupun Maluku Utara, sudah tidak ada lagi konflik yang berbau agama, namun masih ada konflik yang disebabkan oleh kenakalan remaja yang berakibat terjadinya perkelahian antar kampung, dan sisa-sisa itulah yang sering digunakan, namun secara kesedaran masyarakat menyerahkan pada kita,” ujarnya.

Danyon 711/Raksatama Letkol Inf. Fanny Pantouw, mengisahkan sebanyak 500 personel Yonif 711/Raksatama yang ditugaskan di Maluku dan Maluku Utara, merupakan penugasan dari Mabes TNI yang meminta untuk melakukan pengamanan di wilayah tersebut, dan pemberangkatan pasukan pada bulan Juli, dua bulan sebelum bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi terjadi.

Kejadian bencana itulah yang menjadi beban dan tantangan para personil termasuk dirinya saat bertugas di sana.

“Karena kita harus melaksanakan tugas sementara keluarga kita harus tinggal di pengungsian, dan syukurnya keluarga para personil tidak ada yang jadi korban saat bencana alam itu terjadi,” ungkapnya.

Pangdam XIII/Merdeka Mayor Jenderal TNI Tiopan Aritonang, mengapresiasi para Satgas personel TNI yang telah kembali ke Kota Palu, dari tugas Pamrahwan di Maluku dan Maluku Utara selama kurang lebih 11 bulan sejak 22 Juli 2018 sampai dengan 28 Mei 2019.

Reporter: Djunaedi
Editor: Syamsu Rizal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here