Home Ekonomi Budidaya Anggur, Agrobisnis yang Menjanjikan

Budidaya Anggur, Agrobisnis yang Menjanjikan

123
Wagisugiyono saat sedang melakukan perawatan tanaman anggur di kebun pekarangan rumah di Jalan Anggur 4 Kelurahan Boyaoge Kecamatan Tatanga Kota Palu. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)
  • Wagisugiyono

DULU budidaya anggur sempat meledak di daerah ini. Kini tidak banyak lagi yang menekuninya. Tanaman tersebut dianggap masih sulit tumbuh dan berkembang saat ini. Namun tidak untuk Wagisugiyono, lelaki paruh baya itu sudah menekuni budidaya anggur sejak setahun silam.

Saat memasuki rumahnya yang berlokasi di Jalan Anggur 4, Kelurahan Boyaoge Kecamatan Tatanga Kota Palu, tamu yang datang disambut dengan pohon anggur yang merambat. Rumahnya pun cukup asri karena selain anggur yang menghiasi, rumah Wagisugiyono juga dihiasi dengan berbagai tanaman hias.

Tepatnya di lahan samping rumahnya yang tidak begitu luas, ia menanam puluhan anggur yang sudah siap panen. Bahkan ia juga melakukan pembibitan yang siap dipasarkan. Banyaknya peminat pada buah yang satu ini membuat anggur dijual dengan harga yang cukup mahal.

Oleh karena itu, banyak petani yang tertarik untuk membudidayakan anggur karena peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Selain itu, petani yang mencoba untuk menanam tanaman ini hanya sebagian kecil saja yang sukses. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan tentang budidaya anggur.

“Kita mengembangkan buah anggur hanya sekadar mencoba, namun karena atas dorongan dari orangtua dan ditambah lagi sangat menjanjikan keuntungan, jadi saya terus meningkatkan kualitas tanaman,” jelasnya saat ditemui Metrosulawesi, Selasa (11/6/2019).

Lanjut dia, awal penanaman anggur sejak Februari 2018 dan tepat setahun ia memanen buah tersebut. Sementara itu, dari hasil panen yang mencapai 100 kilo, sebagian ia berikan kepada masyarakat yang ada disekitaran rumahnya. Dan sebagainya ia jual kepada pedagang buah dengan harga Rp50 ribu per kilogram.

“Hanya dikonsumsi oleh tetangga pada awal panen kemarin, tapi sebagian saya jual sekitar 50 kilogram. Kalau bagi saya, disamping menguntungkan pundi-pundi rupiah, kita juga bisa memanfaatkan lahan yang ada di rumah kita, ada 14 pohon anggur yang saya kelola,” ungkapnya.

Namun, kata dia, hingga sampai saat ini meski telah membudidayakan dan memperbanyak bibit, tanaman anggur di Kota Palu belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Sehingga, tanaman anggur yang sudah berbuah tersebut sebagian hanya dijadikan sebagai konsumsi pribadi.

“Pada panen ke dua ini kita sudah lebih maksimalkan semua cara pembibitan anggur, sedangkan bila ingin budidaya anggur itu tergantung dari fasilitas yang kita kelola, saya pribadi modalnya pun tidak main-main hampir sekitar Rp10 Juta, mulai dari membeli jaring, kawat dan kayu yang menjadi tiang dan pengaman dari serangan hama,” jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan, tanaman anggur jika ditanam dengan cara yang benar, ditambah dengan pengaruh cuaca yang mendukung, maka akan berbuah dengan maksimal. Meskipun, katanya, banyak orang yang menanam anggur selalu dengan rasa yang asam, bahkan jarang berbuah.

“Kalau curah hujan tinggi, angin kencang, rontoklah bunga. Tanam sulit berbuah. Kurang nutrisi juga membuat tanaman tidak mau berbuah, untuk bibit kita buat sendiri menggunakan bibit lokal dan kita kembangkan,” terangnya.

Sementara, kata dia, untuk tingkat pemasaran masih di sekitar Kota Palu. Selain itu, rekan bisnis juga telah menawarkan bekerjasama dengan beberapa toko ritel modern. Ia berharap ke depan bisa mengembangkan budidaya tanaman anggur ini lebih luas lagi. Agar supaya bisa dipasarkan ke luar daerah.

“Kemarin ada teman yang sempat posting di media sosial Facebook, bahkan sampai membawa contohnya untuk dipasarkan ke Carefour dan Alfamidi. Namun, teman saya belum sempat datang, kemungkinan nanti kita akan lihat lagi kedepannya,” ujarnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here