Home Morowali 2.237 Jiwa Ngungsi, Kerugian Miliaran

2.237 Jiwa Ngungsi, Kerugian Miliaran

225
BANJIR - Sejumlah wilayah di Kabupaten Morowali dilanda banjir yang saat ini mulai surut. (Foto: Ist)
  • BPBD: Banjir Morowali Mulai Surut

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulteng Bartholomeus Tandigala mengungkapkan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Morowali mulai surut. Berdasarkan laporan yang diterima, beberapa sungai sempat meluap dengan arus yang cukup deras.

“Hujan sudah berhenti, genangan air Desa Trans Wosu mulai surut, tidak ada rumah yang terendam. Warga mulai membersihkan rumah masing-masing. Masyarakat yang sakit akibat banjir telah ditangani oleh tim kesehatan Puskesmas Wosu,” terang Bartholomeus, Senin, 10 Juni 2019.

Akibat luapan dan derasnya arus sungai Ipi, jembatan belly yang menghubungan Desa Bente dan Desa Ipi pada jalur 16 ambrol dalam kondisi rusak total. Beruntung luapan sungai tidak sampai merendam rumah warga sehingga masyarakat masih bisa beraktifitas.

Untuk jembatan di jalan utama penghubung Desa Wosu dan Desa Larobenu yang sehari sebelumnya putus telah dibangun jembatan darurat. Jembatan darurat tersebut dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.

Dipastikan tidak ada korban jiwa berdasarkan laporan yang diterima pada Minggu, 9 Juni. Namun jumlah pengungsi dilaporkan mencapai 561 KK atau 2.237 jiwa dari Desa Lele dan Desa Dampala Kecamatan Bahodopi. Dari ribuan jumlah pengungsi tersebut 66 jiwa diantaranya merupakan bayi.

“Sampaihari ini (Minggu, 9 Juni) tidak ada laporan korban jiwa hilang maupun luka,” ucap Bartholomeus.

Dikatakan dampak putusnya tiga jembatan jalan utama penghubung antara Provinsi Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Tenggara yang merupakan akses utama dan satu-satunya jalan penghubung Bungku, ibu kota Morowali dengan wilayah Kecamatan Bungku Timur, Bahodopi menimbulkan kerugian sangat besar. Itu karena Bahodopi merupakan kawasan industri nikel yang mempekerjakan ribuan karyawan.

Ribuan karyawan dan masyarakat yang menggunakan akses/jalan utama tidak bisa beraktifitas. Diperkirakan hal itu menimbulkan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah setiap harinya.

Masalah lain, kebutuhan pokok tidak bisa dipasok melalui jalan utama yang sudah terputus total. Kondisi ini diperparah dengan puncak musim angin timur yang memicu gelombang tinggi dan angin kecang sepanjang pesisir laut wilayah Morowali yang sangat berisiko.

“Pasokan logistik kebutuhan pokok masyarakat terputus, tentu ini akan sangat mengganggu kehidupan masyarakat diwilayah Bahodopi dan sekitarnya. BBM dan gas elpiji juga mulai langka. Olehnya perlu bantuan penanganan segera oleh berbagai pihak,” tandas Bartholomeus.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here