Home Sulteng Arus Balik Harus Waspadai Longsor

Arus Balik Harus Waspadai Longsor

162
ARUS BALIK - Tampak kendaraan arus balik di wilayah Sulteng mengantri akibat diguyur hujan dalam sepekan terakhir. Dishub Sulteng mengimbau pengendara waspada longsor, Ahad, 9 Juni 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)
  • Banjir di Konawe Utara, Jembatan Trans Sulawesi Putus

Palu, Metrosulawesi.id – Hampir sepekan lebih wilayah Sulteng diguyur hujan mulai intensitas sedang hingga lebat. Kepala Bidang Angkutan Jalan, Keselamatan dan Perkeretaapian Dinas Perhubungan (Dishub) Sulteng Sumarno mengingatkan pemudik arus balik harus waspada longsor.

“Musim hujan seperti saat ini harus waspada longsor, khususnya di jalur kebun kopi,” ujar Sumarno, Ahad, 9 Juni 2019.

Dia mengatakan bagi pemudik yang ingin kembali ke Palu dengan menggunakan kendaraan pribadi harus mempersiapkan diri dengan baik. Tak kala penting kendaraan harus dalam kondisi baik pula.

“Kalau yang perjalanan jauh kita imbau istirahat minilam 4 jam sekali untuk meluruskan kaki dan tangan,” ucap Kabid.

Berdasarkan informasi yang diterima, secara umum arus balik di Sulteng terpantau sepi, baik melalui jalur darat, laut maupun udara. Menurut Sumarno hal itu dikarenakan mahasiswa dan pelajar yang masih libur beberapa hari kedepan.

“Yang harus masuk mulai besok (hari ini,red) ASN, jadi sudah harus balik ke Palu pasca libur lebaran. Sementara pelajar dan mahasiswa belum masuk, masih libur, makanya sepi arus balik,” jelasnya.

Terkait beberapa jembatan penghubung yang putus disejumlah kabupaten, Sumarno mengungkapkan telah dibangun jembatan darurat. Dipastikan arus balik kesejumlah wilayah tidak akan terkendala.

“Jembatan yang putus ada di Kabupaten Morowali, tapi sudah buat jembatan darurat, kendaraan sudah bisa melintas,” katanya.

Dia menambahkan untuk jalur yang rawan longsor, pihak terkait telah menyiagakan sejumlah alat berat. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi dan tanggap darurat jika sewaktu-waktu terjadi longsor.

“Posko mudik lebaran juga masih ada sampai H+7, silakan dimanfaatkan,” tandas Sumarno.

Jembatan Putus

Sementara itu, jembatan jalur Trans Sulawesi di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) putus akibat banjir yang melanda wilayah tersebut. Banjir juga memutuskan aliran listrik dan akses informasi warga.

“Jalur Trans Sulawesi di Kecamatan Asera putus, itu jembatan Trans Sulawesi itu di ujungnya jebol dan putus tidak bisa dilalui lagi,” kata Bupati Konawe Utara Ruksamin, Ahad 9 Juni 2019.

Ruksamin mengungkapkan hingga saat ini banjir merendam 28 desa di 6 kecamatan yang ada di Konawe Utara. Debit air yang terus naik menyulitkan pemerintah dan BPBD untuk mengevakuasi warga.

“Kendalanya, kami belum bisa mengakses transportasi di 4 Kecamatan,” ujarnya.

Bahkan ada 1 kecamatan yang seluruh desanya terendam banjir.

“Kemarin di Kecamatan Oheo itu kami diinformasikan itu baru 5 desa terendam, sekarang sudah rata semuanya, sekecamatan Oheo. Kecamatan Langgigima diiformasikan satu desa,” tuturnya.

Banjir di Konawe Utara terjadi sejak Ahad (2/6) lalu. Banjir disebabkan hujan yang mengguyur Konawe Utara tanpa henti sejak Jumat (31/5) lalu.
Banjir ribuan rumah dan menghanyutkan 58 rumah. Sebanyak 4.089 orang harus mengungsi.

“Sampai tadi malam pukul 23.00 Wita kami data pengungsi sudah 1.054 KK atau 4.089 jiwa. Rumah rusak yang hanyut 58 unit. Hanyut di bawah air habis tinggal bekas,” kata Ruksamin.

Akibat banjir sebanyak delapan desa terisolasi.

“Masih ada 8 desa yang belum bisa dijangkau karena akses yang putus dan derasnya aliran air,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Ahad 9 Juni 2019.

Delapan desa yang terisolir itu ada Kecamatan Wiwirano yakni Desa Padalere Utama, Desa Padalere, Desa Culambatu, Desa Lamonae Induk, Kelurahan Lamonae, Kecamatan Langgikima, Desa Polora Induk, Kecamatan Landawe, Desa Tambakua, dan Desa Landiwo.

Banjir di Konawe ini akibat hujan dengan intensitas tinggi dan kondisi tanah yang labil. Sementara, 961 KK atau 3.299 jiwa warga Desa Walalindu, Longeo Utama, Puuwanggudu, Ala Wanggudu, Tambakua, Polora Indah, Landiwo, dan Mopute.

Banjir di Konawe Utara ini juga menyebabkan 17 rumah hanyut dan 852 rumah terendam. Banjir juga berdampak pada 2 gedung sekolah, 2 gedung balai desa, 3 masjid, dan 1 Jembatan penghubung utama Desa Punuwa dan Desa Labungga terendam air. (mic/*)

Reporter: Michael Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here