Home Palu

Hidayat: Empat Unsur Ekonomi Dibangun Pemkot

209
Hidayat. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Walikota Palu Hidayat mengungkapkan, ada empat unsur ekonomi yang dibangun Pemerintah Kota Palu yakni berbudaya, bertoleransi, berkekeluargaan dan bergotong royong.

“Kemudian ada tiga yang dibangun untuk manusianya, yakni manusia yang beradat, berbudaya beriman dan bertaqwa. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Hidayat belum lama ini.

Diangkatnya budaya atau adat ini kata Hidayat, karena Palu ini damai sekali sejak dulu. Agama dan suku yang datang ke Palu, siapapun yang datang ke Tanah Kaili ini tidak ada yang mengganggunya.

“Kerena dianggap keluarga dan saudara. Maka kita bangun budaya itu, karena budaya itu harus dijaga dan dirawat, yang merawat budaya adalah adat,” katanya.

Hidayat menjelaskan, adat ini sebenarnya adalah aturan yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat, khususnya yang dipahami di tanah kaili ini ada empat aturan adat, yang mengatur manusia, mengatur hubungan manusia dengan manusia, dan mengatur hubungan manusia dengan alam.

“Semua itu ada sanksinya. Pertama mengatur ucapan manusia, tidak ada agama, tidak ada suku yang mentolerir ucapan yang tidak baik. Semua ini dijaga adat. Ketika ucapan manusia tidak baik, terkena sanksi dengan satu kambing,” jelas Hidayat.

Kemudian kata Hidayat, mengatur perilaku. Menurutnya, banyak sekarang manusia yang menyimpang perilakunya, seperti LGBT, ini perilaku yang menyimpang.

“Selain itu, perbuatan manusia ini juga yang dijaga oleh adat, Mansintuvu Kita Maroso, Morambanga Kita Marisi, artinya bersatu kita kuat bersama-sama kita kokoh. Ada tiga nilai di dalamnya, toleransi, kekeluargaan dan kegotongroyongan,” ujarnya.

Hidayat menegaskan, hubungan manusia dan alam juga diatur oleh adat. Contoh, banyak penebangan pohon sembarangan sehingga terjadi banjir dan lainnya, semua ini terjadi karena alam mengamuk.

“Ditebangnya pohon ini karena semua urusan yang boleh ditangani oleh tokoh-tokoh informal ditarik oleh pemerintah semua. Kenapa ada penebangan liar? karena tidak ada lagi adat yang menjaganya,” katanya.

Namun kata Hidayat, semua itu landasanya adalah iman dan taqwa yang berada dalam agama.

“Saya menegaskan bahwa peristiwa kemarin tidak ada namanya potong kerbau dan babi, itu sama sekali tidak ada, peristiwa itu semua bohong. Maka saya minta adat dalam nilai harus tegak di Palu,” katanya.

“Kemarin itu kita di obok-obok karena di dalamnya ada faham-faham yang tidak betul di dalamnya,” katanya.

Olehnya itu kata Hidayat, dibangunnya kembali Lembaga Adat, Satgas K5, Gerakan Gali Gasa, maka jalan orang-orang yang tidak paham itu untuk ke dalam menjadi. Saat ini, tidak ada lagi busur dan lainnya, karena ada kekuatan adat di dalamnya,” katanya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas