Home Internasional

Ketika Orang Berebut Memberi Makanan Untuk Berbuka

330
BUKA PUASA DI MASJID NABAWI – Jelang berbuka puasa di dalam Masjid Nabawi-Madinah. Tampak H. Ahmad M Ali bersama rombongan saat menanti berbuka puasa di Masjid Nabawi. (Foto: Ist)

  • Indahnya Berpuasa di Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram Makkah (1)

Tanah Haram—Mekkah dan Madinah, dua kota menjadi impian untuk dikunjungi ummat muslim di seluruh penjuru dunia. Mekkah tempat berdirinya Masjidil Haram dan Ka’bah, sedangkan di Kota Madinah, berdirinya Masjid Nabawi, dimana terdapat makam Nabi Muhammad SAW. Saya berkesempatan mengunjungi kedua kota suci tersebut untuk melaksanakan ibadah Umroh bersama rombongan H. Ahmad M Ali, SE dan Hj, Nilam Sari Lawira, SP.MP. Alhamdulillah, ibadah umroh yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan suci Ramadan, dimana bisa merasakan suasana berpuasa terutama saat berbuka puasa di Masjid Nabawi-Madinah dan Masjidil Haram-Makkah.

Laporan: INDRA YOSVIDAR

DI hari pertama berpuasa di Kota Madinah—tepatnya di Masjid Nabawi, sudah terlihat super sibuk bulan Ramadan. Jumlah Jemaah bisa dua atau tiga kali lipat banyaknya dibanding hari biasa, terutama menjelang berbuka puasa. Kesibukan warga Madinah dan pengelola Masjid Nabawi mulai terlihat selepas salat Azhar. Ada yang bertanggung jawab menyiapkan tempat berbuka, baik di pelataran maupun di dalam Masjid Nabawi, ada pula yang menyiapkan menu/takjil untuk disantap saat berbuka puasa. Ibaratnya suasana di dalam maupun di pelataran Masjid Nabawi, bak akan digelarnya suatu pesta besar untuk menjamu tamu.

Menariknya yang mengatur dan menyiapkan segala sesuatu untuk berbuka puasa, masing-masing kelompok memiliki seragam atau ciri khas tertentu. Mengapa berseragam? Mereka yang menjadi penanggungjawab dan penyedia berbuka puasa bersama di Masjid Nabawi tidak bisa sembarang orang atau kelompok-kelompok. Para penyedia berbuka puasa harus melapor dan mendaftarkan diri ke pengurus Masjid Nabawi. Jadi mereka yang bersibuk ria memngatur dan menyediakan sajian berbuka puasa sudah mendapat restu dari pengelola masjid, sehingga tidak saling berebut.

Lantas dari mana mereka yang menjadi penyedia berbuka puasa? Biasanya sih perseorangan atau pribadi adalah penduduk asli Madinah. Namun, yang sempat saya perhatikan, hotel-hotel sekitar Masjid Nabawi, toko, restaurant, turut ambil bagian sebagai penyedia buka puasa bersama. Mereka terlihat sibuk menyiapkan tempat dan sajian berbuka puasa di sekitar area Masjid Nabawi. Selain mereka pengelola hotel, toko dan restaurant, ada juga para jemaah membawa sajian berupa kurma, minuman dan roti, kemudian mereka berbagi kepada sesama jemaah. Betapa indahnya saling berbagi—Subhannallah.

Buka puasa di hari pertama, saya bersama rombongan, menyempatkan untuk berbuka di dalam Masjid Nabawi. Masuk ke dalam masjid tidak semudah seperti biasa untuk melaksanakan salat fardhu ataupun Sunnah. Saat masuk ke pelataran, rombongan kami sudah dicegat oleh penyedia berbuka puasa untuk duduk di area yang mereka siapkan. Tidak hanya dipersilakan, mereka tidak segan-segan menarik agar jemaah mau mengikuti mereka dan duduk bersama jemaah lainnya.

“Sampai ditarik-tarik untuk diajak berbuka di tempat mereka,’’ ujar Andre yang beribadah umroh sejak 3 Mei 2019 sembari menambahkan hidangan berbuka digelar di dalam area dan di luar masjid.

Hal serupa juga terjadi saat memasuki masjid—tepatnya di Gate 23, saat menginjakkan kaki di dalam masjid, sejumlah orang berseragam langsung menjemput dan mempersilakan masuk di shaf-shaf yang mereka siapkan untuk berbuka puasa. Lantaran keinginan untuk berada di tengah masjid, tawaran untuk bergabungg kami tolak halus dengan alasan ingin berada di tengah masjid. Setelah mendapatkan posisi di tengah masjid, maka kami mengikuti petunjuk petugas yang sudah mempersilakan kami duduk bersama jemaah lainnya.

Menu berbuka puasa di dalam masjid sama saja, sederhana, yakni: air zamzam, kurma, roti, yogurt, dan bumbu special asli Madinah yang dicampurkan ke yogurt sebagai penyedap roti. Di luar masjid yang saya lihat serupa hanya saja ada tambahan buah-buahan.

Makanan atau takjil yang disiapkan disusun di alas plastik yang disebut sufra di depan jemaah yang berhadap-hadapan. Saaat magrib tiba, seluruh jemaah menyantap sajian yang ada di depan masing-masing. Berbuka bersama sembari menikmati sajian yang disediakan, membuat suasana semakin semarak. Para jemaah selama 10-15 menit fokus pada menu untuk berbuka. Namun, paling banyak mereka hanya memakan kurma dan meminum air zamzam. Suasana berbuka berlangsung tertib. Jemaah dari berbagai belahan dunia, semua bersama menyantap hidangan saat azan berkumandang.

Menariknya, air zamzam selalu tersedia baik di dalam masjid Nabawi maupun di pelataran masjid. Lebih dari 300 ton air zamzam disediakan setiap hari menggunakan 15 ribu kontainer air dingin di dalam masjid. Proyek Raja Salman yang membangun 250 kanopi di halaman masjid sangat bermanfaat melindungi jamaah dari sengatan panas. Lebih dari 436 kipas embun dipasang di halaman Masjid Nabawi untuk memberikan suasana segar pada jamaah. (*/bersambung)

Ayo tulis komentar cerdas