Home Ekonomi Lonjakan Harga Bawang Putih Jadi Perhatian Khusus TPID

Lonjakan Harga Bawang Putih Jadi Perhatian Khusus TPID

31
Miyono. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Bawang putih menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan harga paling tinggi beberapa waktu belakangan. Hal ini disebabkan kurangnya stok komoditas tersebut.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah Miyono menyebut bawang putih merupakan komoditas yang harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk di Sulawesi Tengah.

Menurut Miyono, produksi bawang putih di Tanah Air hanya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar 10 persen. Sehingga jumlah yang cukup besar harus diimpor dari luar negeri.

Jika tidak dilakukan impor, maka akan terjadi lonjakan harga yang tinggi karena komoditas rempah ini menjadi langka. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab inflasi.

“Sampai dengan April bahan pangan malah cenderung menurun. Sekarang, minggu yang lalu kami sudah melakukan sidak ke pasar tradisional dan modern. Waktu saya ke pasar itu kondisi harga daging masih relatif stabil. Daging beku Rp80 ribu, daging segar paling tinggi Rp110 ribu,” ungkap Kepala BI yang juga Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tengah itu, akhir pekan kemarin.

“Harga bawang merah secara umum stabil, yang naik bawang putih, naiknya lumayan. Bawang putih ini fenomenanya secara nasional, impor belum berjalan,” ungkap dia.

Harga bawang putih beberapa waktu terakhir mencapai Rp90 ribu per kilogram. Sebelumnya harga bawang putih hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogramnya.

Harga bawang putih yang sempat melonjak di beberapa daerah, kata dia, menjadi perhatian khusus. Pihaknya bersama unsur TPID pun sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan terkait hal ini.

“Bawang putih memang harus impor. Produksi bawang putih lokal hanya bisa memenuhi 10 persen. Harus impor. Mudah-mudahan impor itu segera sampai,” jelas dia yang menyebut ada keterlambatan impor bawang putih, menjadi salah satu pemicu mahalnya bawang putih.

Dia menyebut perlu upaya ekstra untuk menjaga inflasi di saat Ramadan hingga Lebaran. Karena pada momen seperti itu kerap terjadi lonjakan harga.

Ia berharap target inflasi baik di Sulawesi Tengah maupun nasionl yang sama-sama di angka 3,5 plus minus 1 persen bisa tercapai.

“Inflasi Sulteng ini sebenarnya agak sulit penyampaiannya. Kalau dilihat tahun pertahun inflasi kita tinggi,” kata dia.

Adanya bencana alam pada akhir tahun lalu juga mempengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas secara bersamaan. Sementara ketika terjadi penurunan harga pedagang justru menurunkan harga di angka yang relatif masih terbilang tiggi.

“Ini memang tantangan kita bersama untuk menggiring IHK (indek harga konsumen)-nya bisa tumbuh.

“Januari inflasi 0,21 persen, Februari deflasi, Maret, April baru mulai naik. Sehingga secara akumulatif dari Januari sampai April itu sebesar 0,18 persen,” ungkap Miyono.

“Dengan inflasi YTD yang 0,18 persen kami yakin inflasi kita akan mencapai target di akhir tahun jika tidak ada lonjakan harga yang bergejolak dari kebijakan pemerintah,” kata dia.

Reporter: Tahmil Burhanudin
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here