Home Ekonomi

Mudik, Garuda Pastikan Harga Tiket Tidak Naik

336
MENANTI PENUMPANG - Pesawat milik maskapai Garuda Indonesia saat berada di Bandara Mutiara Sis Aldjufri Palu. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia memastikan selama Ramadan hingga masa mudik Lebaran tidak ada kenaikan harga tiket.

Hal itu diungkapkan Marketing & Sales Manager Garuda Indonesia Cabang Palu Johanis Frederik M kepada Metrosulawesi.

Johanis yang ditemui di ruang kerjanya menyebut selama ini sebenarnya tidak ada kenaikan harga tiket pesawat seperti yang ramai-ramai diributkan.

“Kalau kemarin-kemarin ada harga promo, jadi sekarang harga promonya kita hilangkan. Jadi masyarakat kadang-kadang menganggap harganya naik, sebenarnya tidak, tapi harga promonya yang dihilangkan,” ungkap Johanis, Rabu 8 Mei 2019.

Pemerintah telah menetapkan harga ambang batas atas dan batas bawah untuk harga tiket pesawat, pihak maskapai pun saat ini menetapkan harga tiket di ambang batas atas, sehingga harganya dinilai lebih mahal.

Menurut Johanis, keputusan pihak maskapai menggunakan harga ambang batas atas sebagai upaya untuk memperbaiki keuangan dan bisnis perusahaan penerbangan milik negara itu.

“Selama ini, sudah sekian puluh tahun harga bawah itu selalu dibuka besar, jadi masyarakat sudah terbiasa membeli harga bawah,” katanya.

“Memang sekarang airline cenderung lari ke batas atas, mengobati luka yang teramat lama. Sudah banyak airline yang tutup, di Indonesia saat ini tinggal dua grup airline yang survive, Garuda dengan Lion Group ditambah yang kecil-kecil.”

“Berbisnis ini kan juga ada costnya, kalau cost ini sudah lebih besar dari pendapatan, berapa lama kita bisa bertahan? Kita Garuda memang perusahaan milik negara, tapi kita juga sudah jadi perusahaan terbuka,” tandasnya.

Saat ini pihak Maskapai Garuda Indonesia, kata dia, sudah bisa melakukan perbaikan sehingga saham Garuda yang dulu hanya sekitar Rp200 per lembar saat ini bisa mencapai bisa Rp700 per lembar. Hal ini menurutnya dapat menjadi salah satu pendorong bergairahnya perekonomian Indonesia lewat bisnis penerbangan.

Meski begitu, para calon penumpang masih bisa menikmati harga tiket pesawat yang relatif lebih murah dari harga normal saat ini dengan berbagai persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak maskapai, misalnya dengan membeli tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum digunakan.

“Sebenarnya harga bawah itu masih tetap ada, tapi harus beli jauh hari sebelumnya, tidak bisa dadakan. Kemudian sekarang alokasinya diperkecil, bahkan harga super promo sudah gak dijual. Ya airline kan jiga butuh sinergi dengan semua industri perhubungan, di situ ada kapal, ada bus, kereta api,” jelasnya.

Menurutnya, jika harga tiket pesawat sudah mendekati harga kapal laut, maka penumpang akan meninggalkan jasa transportasi laut tersebut. Olehnya, perlu ada perbandingan harga setiap mode transportasi untuk menjaga tetap berkembangnya setiap mode jasa transportasi yang ada.

Lagi pula, biaya operasional airline yang terbilang dalam dolar Amerika (USD) cukup tinggi, sehingga membutuhkan biaya (cost) yang besar.

“Avtur juga sudah diturunkan oleh Pertamina tapi tidak begitu berefek ke industri penerbangan. Kita sudah sekian tahun lama merugi, kita mencari cara bagaiamana mengurangi kerugian,” kata dia.

“Bayangkan kalau airline itu kolaps, terus yang masuk ke sini penerbangan luar negeri, uang kita malah lari ke luar negeri. Kita harus melihat secara luas, harga kita sekarang itu dibandingkan harga dua puluh tahun lalu sama, bayangkan inflasi yang akan terjadi. Harga Palu-Jakarta dua puluh tahun lalu juga sudah Rp2 jutaan,” sebut dia menggambarkan harga tiket dari tahun ke tahun yang menurutnya hampir sama.

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan maskapai dengan harga yang relatif murah juga sebenarnya sudah punya pilihan, maskapai saat ini memiliki tiga kelompok yakni maskapai full sevice, medium service dan low cost (penerbangan berbiaya murah).

“Kalau mau murah ambil yang low cost, tapi ada konsekuensi, tidak ada makanan, tidak ada hiburan, tidak ada bagasi,” jelas dia.

Sementara itu, menjelang Lebaran nanti pihak maskapai Garuda Indonesia memastikan tidak akan menambah penerbangan baru. Pihak maskapai menganggap jumlah penerbangan yang ada saat ini teleh mencukupi kebutuhan penumpang meskipun ada iven mudik.

Untuk tingkat keterisian penumpang pesawat, dia mengklaim jumlah penumpang Garuda mencapai 70 persen setiap penerbangan dari dan menuju Bandara Mutiara Sis Aljufri di Palu, Sulawesi Tengah.

“Kalau Palu ini agak unik, tidak ada musim low session, hight session, sewaktu-waktu bisa full bahkan orang kesulitan mencari sheat, sampai sepi juga, agak susah dipredikisi,” kata dia.

Harga tiket pesawat yang dianggap mahal memengaruhi jumlah keterisian penumpang namun tidak signifikan. Ia menyebut jumlah keterisian penumpang pesawat Garuda yang sebelumnya bisa mencapai 90 persen kini turun menjadi 70-80 persen.

“Kalau soal pengaruh naiknya harga tiket, pasti adalah. Orang pasti bergeser. Kita sekarang bermain di sekitaran 70 persen, kemarin 80-an persen, itu karena kita punya bisnis class. Kalau bisnis class kosong ya itu cukup mempengaruhi ya. Tapi kalau khusus kelas ekonomi kita bermain 70-80 persen, sebelumnya bisa sampai 90 persen,” jelasnya.

Dia memastikan tidak akan ada perubahan harga tiket pesawat menyambut Lebaran nanti.

“Harga tiket kita sudah main di batas atas, jadi ya sama saja, segitu aja. Sekarang harga Palu-Jakarta Rp2,5 juta ya nanti dekat Lebaran segitu juga, gak bakalan naik lagi dari harga yang ada sekarang,” katanya.

Selama menyambut masa mudik nanti pihak maskapai akan memberikan layanan lebih. Garuda Indonesia akan bekerja sama dengan pihak bandara untuk membuka posko layanan ekstra.

Saat ini tiket pesawat untuk mudik Lebaran sudah mulai dibeli oleh para calon penumpang, namun ia memastikan masih banyak sheat yang tersedia.

Reporter: Tahmil Burhanudin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas