Home Ekonomi

Hidayat Lamakarate: Memasak, Jangan Dulu Pakai Bawang Putih

242
Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng, Hidayat Lamakarate saat menyampaikan sambutan di kegiatan pasar murah yang di selenggrakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sulteng menyambut hari raya waisak dan bulan ramadhan di Kelurahan Nunu Kota Palu, Rabu (8/5/2019). (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

  • Bawang Putih Mahal dan Langka

Palu, Metrosulawesi.id – Kondisi harga dan stok komoditi bawang putih di Sulawesi Tengah memang memprihatinkan. Harga ditingkat pedagang menembus Rp90 per kilogram (kg). Keadaan ini sebenranya bukan hanya berlaku di Sulteng, tetapi menjadi permasalahan secara nasional dimana bawang putih memang 90 persen merupakan impor.

Agar masyarakat tidak mengeluh atas lonjakan harga tersebut. Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng, Hidayat Lamakarate menyarankan untuk tidak menggunakan rempah itu dalam poses memasak.

“Kita sudah lihat bawang putih sudah mahal, bahkan sudah ada yang Rp100 per kilogram. Saya sarankan tidak usah dulu pakai bawang putih memasak, bawang merah saja,” katanya saat menyampaikan sambutan di kegiatan pasar murah yang di selenggrakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sulteng menyambut hari raya waisak dan bulan ramadhan di Kelurahan Nunu Kota Palu, Rabu (8/5/2019).

Ia juga menyarankan, masyarakat harus mencari alternatif pengganti bawang putih. Misalnya produk kemasan atau bawang putih bubuk yang harganya terjangkau sehingga tidak terus menerus masyarakat megeluhkan mahalnya bawang putih.

“Kalau tidak bisa memasak tanpa bawang putih, cari saja, mungkin ada bawang putih dalam bentuk bubuk atau kemasan, sekarang sudah banyak rempah yang dikemas seperti itu,” ujarnya.

Tidak lupa, ia mengajak untuk masyarakat memanfaatkan secara efektif pasar murah yang diselenggarakan pemerintah. Namun, masyarakat juga harus sadar jika melakukan membelian harus dalam batas kewajaran.

“Dibeli memang untuk dipakai keperluan memasak, bukan dijual kembali, kalau ada yang demikian laporkan ke pihak penyelenggara. Pasar murah ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat bukan untuk pedagang. Kalau judulnya pasar murah, harus murah dari di pasar ,” katanya.

Dia menambahkan, setelah kegiatan pasar murah selesai. Pemerintah kembali akan melakukan intervensi ke Pasar Induk Tradisional (PIT) di Kota Palu untuk meninjau kondisi harga kebutuhan pokok untuk kemudian mngeluarkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

“Supaya nanti harga dipasar tidak jauh berbeda dengan harga di pasar murah,” ujarnya.

Sementara itu, menurutnya harga yang ditawakan di pasar murah merupakan harga di tingkat distributor, akan berbeda jauh dengan harga yang ada di pasar.

“Tapi saya mengimbau jangan masyarakat membeli banyak, harga ini sengaja ditawarkan untuk mengurangi daya beli masyarakat di pasar, karena sudah terpenuhi di kegiatan pasar murah ini,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas