Home Palu

Guru Harus Implementasikan ilmu Mitigasi Bencana

203
SAMBUTAN - Kadisdikbud Palu Ansyar Sutiadi saat menyampaikan sambutan di Training of Trainer Disaster Reducation Risk (DRR) untuk para guru di Kota Palu, Rabu, 8 Mei 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

  • TOT Disaster Reducation Risk

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu bekerjasama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik menggelar Training of Trainer Disaster Reducation Risk (DRR) untuk para guru di Kota Palu. Sekitar 24 guru dari jenjang TK, Paud, SD dan SMP ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan di kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Sulteng, Rabu, 8 Mei 2019.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, H Ansyar Sutiadi meminta para guru mengikuti kegiatan tersebut dengan baik, agar ilmu-ilmu yang diperoleh bisa diimplementasikan di sekolah. Sebab, pada saat bencana tahun lalu, kesiapan dalam menghadapi bencana itu belum efektif.

“Olehnya itu kami berharap para guru yang mendapatkan ilmu dari NGO Yayasan Sayangi Tunas Cilik, agar betul-betul dapat mengimplementasikan di sekolah-sekolah masing, utamanya untuk para sesama pendidik, kepada peserta didik yang ada di lingkunganya masing-masing, dan diimplementasikan kepada orang tua siswa melalui pendekatan komite atau perkumpulan orang tua,” ujar Ansyar.

Tujuan dari implementasi ini kata Ansyar, agar ketangguhan dalam pengurangan resiko bencana itu bisa dilaksanakan.

“Alhamdulillah juga saat ini kami beserta tim penyusun buku juga di dukung dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik sementara menyelesaikan buku yang disebut dengan Kurikulum Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal. Kami juga berupaya buku itu bisa dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2019/2020 dalam bentuk intrakurikuler dan ekstrakurikuler,” katanya.

Ansyar mengungkapkan, pada penerapan Kurikulum Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal secara intrakurikuler, tim mencoba mengintegrasikan dengan kurikulum yang ada, sedangkan dalam bentuk ekstrakurikuler, pembuatan program ekstra di sekolah yang berhubungan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

“Contohnya di Palang Merah Remaja, Pramuka, Paskibraka dan kegiatan lainya, sehingga peserta didik termasuk semua kita ini memiliki ilmu dan memiliki keterampilan dalam mengurangi resiko bencana tersebut,” jelasnya.

Ansyar berharap semua sekolah di kota Palu menjadi satuan pendidikan yang aman bencana, yang memiliki tiga pilar, pilar tentang fasilitas sekolah yang aman bencana, manajemen bencana, dan pendidikan pengurangan resiko bencana.

“Semua hal itu kita lakukan, karena kita melihat beberapa negara yang berada di daerah rawan bencana, saat terjadi bencana mereka mampu meredupsi, memperkecil korban-korban, baik harta jiwa dan sebagainya. Contohnya di Jepang, di negera ini sudah mengetahui bagaimana cara mengevakuasi peserta didik dan seluruh pendidik serta keperluan pendidikan lainnya,” ujarnya.

Olehnya itu, Ansyar berharap yang mengikuti kegiatan saat ini betul-betul adalah para master teacher. Para guru ini akan diberdayakan untuk mengimplementasi di sekolah terkait penangulangan resiko bencana.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas