Home Sigi

Pengungsi Butuh Pakaian, Pembalut dan Air Bersih

372
BERSIHKAN JALAN - Salah satu alat berat yang dikerahkan pemerintah, saat membersihkan tumpukan material kayu yang terbawa saat banjir bandang, di desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Kamis 2 Mei 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

  • Jalan Palu-Kulawi Kini Bisa Diakses

Sigi, Metrosulawesi.id – Poros Jalan Palu-Kulawi di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, sudah bisa dilalui, Kamis 2 Mei 2019. Wilayah tersebut sempat terisolir selama empat hari, akibat jalan terputus diterjang banjir bandang.

Pantauan Metrosulawesi di lokasi Kamis 2 Mei 2019, untuk akses jalan di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, yang beberapa hari sebelumnya hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, kini sudah dilewati kendaraan roda empat, walau kondisi jalan memang masih menghawatirkan.

“Iya saat ini memang sudah dapat dilalui mobil dan motor. Namun harus ekstra hati-hati dikarenakan kondisi jalan yang dibuat ini masih bersifat sementara, untuk mempermudah akses kendaraan yang membawa bantuan ke wilayah yang terdampak banjir bandang, dan hanya sampai ujung desa Omu saja,” ungkap Danramil 02/Biromaru, Kodim 1306/Dgl, Kapten Inf Hanafi, yang memantau langsung di lokasi.

Kapten Hanafi mengatakan, untuk di Desa Tuva, Kecamataan Gumbasa, masih ada dua titik jalan putus dan tidak bisa dilalui. Akibatnya puluhan korban sulit mendapatkan bantuan. Banyaknya timbunan material kayu yang terbawa banjir bandang menutupi jalan.

“Akses untuk kendaraan roda empat, hanya sampai di sini saja. Dan seterusnya hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja. Dan hari ini baru mulai pembersihan material kayu yang menutupi badan jalan. Pemerintah, mengerahkan tiga unit alat berat, jenis eskavator,” ucapnya.

Kepala desa Tuva, Bahtiar, mengatakan desa Tuva terdapat 528 kepala keluarga (KK), dan yang terdampak bencana banjir bandang sebanyak 71 KK, yang mengungsi di lokasi pengungsian, dan yang tempat tinggalnya hanyut terbawa air sebanyak 10 KK.

“Ada 71 KK yang mengungsi, dan warga mengungsi itu dikarenakan rumah tempat tinggal mereka terancam amblas, karena hingga saat ini volume air masih tinggi, dan yang 10 KK itu, memang rumahnya telah hanyut saat terjadinya banjir bandang,” ucapnya.

Bahtiar mengatakan, saat ini warganya sangat membutuhkan bantuan air bersih, karena sumur-sumur mereka airnya keruh, dan mereka saat ini hanya mengandalkan air dari sumur bor, yang hanya bisa keluar saat ada listrik, dan mereka hanya berharap dari listrik yang dihasilkan genset, untuk air bersih.

Meylin, seorang ibu rumah tangga, yang rumahnya juga terendam air saat banjir bandang, kepada Metrosulawesi mengatakan, mereka sangat membutuhkan bantuan pakaian, terlebih pakaian dalam untuk wanita, serta pembalut.

“Karena semua pakaian kami termasuk pakaian dalam, sudah terendam lumpur, dan malahan ada yang sudah hilang terbawa air. Kami sangat butuh bantuan pakaian dalam, serta pembalut,” ucapnya.

Hal senada juga dikemukakan pengungsi lainnya.

Pengungsi korban bencana banjir bandang di Kabupaten Sigi, mengatakan mereka sangat membutuhkan bantuan selimut, pakaian dan peralatan dapur.

“Kalau bantuan bahan makanan yang sudah kami terima sudah cukup banyak dan masih terus mengalir,” kata Farid, seorang warga di Desa Balongga, Kecamatan Dolo Selatan, seperti dikutip Antara, Kamis 2 Mei 2019.

Khusus di desa itu, kata dia, ada sekitar 47 KK yang terdampak banjir bandang dan rata-rata rumah rusak dan tertimbun lumpur menyusul banjir bandang yang terjadi pada 28 April 2019.

Ia mengatakan semua bantuan apapun yang masuk ke desa melalui satu pintu yakni posko bencana alam yang ada di desa tersebut. Selanjutnya, bantuan didistribusikan kepada warga terdampak bencana dan untuk sementara ini, warga korban banjir di Desa Balongga mendapatkan makanan dari dapur umum.

“Kami tinggal mengambil makanan dari dapur umum,” katanya.

Menurut dia, jika ada pihak-pihak yang ingin membantu lebih baik untuk saat ini difokuskan pada bantuan nonpangan seperti selimut, pakaian dan peralatan dapur.

Hal senada juga disampaikan Faridah, seorang warga korban banjir di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan. Ibu rumah tangga itu juga meminta agar bantuan disalurkan tidak hanya terfokus kepada bahan-bahan makanan seperti beras, minyak goreng dan mi instan, tetapi dalam bentuk lainnya.

“Ya yang sangat dibutuhkan adalah bantuan alat-alat dapur seperti wajan,ember,panci, tempat masak nasi, gelas, sendok dan juga pakaian serta selimut,” kata dia.

Apalagi, katanya hujan deras masih saja setiap hari mengguyur wilayah Kabupaten Sigi. Termasuk di Kecamatan Dolo Selatan saban hari hujan turun.

Pada malam hari, kata Faridah, udaranya sangat dingin sehingga butuh selimut untuk menghangatkan tubuh agar terhindar dari sakit.

Banjir bandang tidak hanya menghajar Kecamatan Dolo Selatan, tetapi juga Kecamatan Gumbasa dan Kulawi. Di dua kecamatan itu, jalan yang menghubungkan Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng dengan empat kecamatan di Kabupaten Sigi putus total diterjang banjir.

Untuk saat ini jalur tersebut tidak bisa dilewati kendaraan mobil karena badan jalan telah berubah jadi sungai.

Tetapi, pihak TNI/Polri bersama dengan masyarakat telah membuka akses jalan alternatif yang hanya bisa dilewati kendaraan sepeda motor menyusuri hutan dan kebun-kebun masyarakat.

Juga jalan dari Palu menuju Bangga dan sebaliknya hingga kini masih terputus dan sedang diperbaiki oleh Dinas PUPR dengan mengerahkan sejumlah alat berat ke lokasi bencana alam.

“Jalan ke Desa Bangga masih putus,” kata Mansur, anggota Babinkamtimas Desa Bolongga, Kecamatan Dolo Barat. (edy/ant)

Kerugian Akibat Bencana di Sulteng Rp18,48 Triliun

Berdasarkan hasil data yang berhasil dihimpun Tim Pusdatin, Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 korban jiwa mencapai 4.340 orang. Total kerugian materil mencapai Rp18,48 triliun.

Kerugian materil tersebut terbagi di tiga kabupaten dan satu kota. Yakni: Kota Palu Rp8,3 triliun, Kabupaten Sigi Rp6,9 triliun, Kabupaten Donggala Rp2,7 triliun dan Parigi Moutong Rp640 miliar. Kerugian yang paling besar adalah pada sektor permukiman karena hampir semua bangunan di sepanjang pantai teluk palu rata dengan tanah karena diterjang tsunami, belum lagi bangunan yang ada di daerah Petobo, Balaroa dan Sibalaya yang terkena likuifaksi serta bangunan lain yang rusak ringan sedang dan berat akibat gempa.

Dampak dari gempa menyebabkan kegiatan ekonomi terganggu dan hilangnya pendapatan Sebagian besar masyarakat, semua kegiatan seakan lumpuh total. Akan tetapi syukurlah kondisi tersebut sudah mulai berangsur pulih.

“Atas nama pemerintah provinsi Sulawesi Tengah kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah peduli membantu dengan ikhlas, bahu-membahu tanpa Kenal lelah baik moril maupun materil atas musibah yang dialami daerah tercinta Ini, terutama kepada para relawan, aparat keamanan unsur TNI dan Polri, lembaga pemerintah dan organisasi kemasyarakatan yang dengan tulus membantu masyarakat yang terdampak langsung bencana sehingga dapat sedikit meringankan beban hidup yang mereka rasakan,” ujar Gubernur Sulawesi Tengah yang diwakili Asisten Bidang Administrasi Perekonomian dan Kesejahteraan Masyarakat Dr. Ir. Bunga Elim Somba MSc dalam sambutannya pada acara seminar awal rencana aksi daerah pemulihan ekonomi pasca bencana di Palu, Kamis 2 Mei 2019.

Menurut gubernur pemerintah daerah Sulawesi Tengah telah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu mengatasi proses pemulihan dan penanggulangan bencana melalui tahapan tahapan dan prosedur yang telah ditetapkan mulai dari penetapan masa tanggap darurat dalam upaya pencarian penyelamatan dan evakuasi korban pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi perbaikan sarana dan prasarana dan lainnya yang berakhir sampai dengan tanggal 26 Oktober 2018, kemudian diikuti dengan penetapan masa transisi darurat penanganan pasca bencana menuju pemulihan Selama 2 bulan dan saat ini masuk pada tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi yang diharapkan berakhir sampai dengan tanggal 23 Februari 2021 yang bertujuan untuk membangun kembali masyarakat Sulawesi Tengah yang maju, mandiri dan berdaya saing dengan melibatkan semua unsur masyarakat korban bencana, para pakar perwakilan lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha

“Saya berharap dengan terlaksananya seminar awal rencana aksi daerah pemulihan ekonomi pasca bencana di Sulawesi Tengah tahun 2019-2021 ini dapat melahirkan suatu gagasan strategis yang menjadi pedoman bagi pemerintah daerah dalam melakukan rehabilitasi ekonomi sehingga kinerja perekonomian Sulawesi Tengah semakin membaik, menuju kesejahteraan masyarakat,” sebut gubernur.

Sementara itu panitia pelaksana Maf’ul, SE dalam laporannya mengatakan seminar awal rencana aksi daerah pemulihan ekonomi pasca bencana diikuti 70 orang peserta yang berasal dari masing-masing organisasi perangkat daerah

Sasaran dari kegiatan tersebut yakni sebagai kajian dan analisis kondisi terkini ekonomi masyarakat sulawesi tengah khususnya di wilayah Kota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong

Yang kedua, kajian dan analisis isu-isu strategis dan permasalahan terkait pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana. Ketiga, kajian dan analisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang mempengaruhi upaya pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana dan yang terakhir tersusunnya rekomendasi kebijakan strategi dan program pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana. (*)

Ayo tulis komentar cerdas