Home Politik Gara-gara Mimpi, Mencoblos Pakai Pakaian ‘Pocong’

Gara-gara Mimpi, Mencoblos Pakai Pakaian ‘Pocong’

151
PEMILIH UNIK - Rahmatulah, remaja desa Panau yang datang ke TPS 01 dengan mengenakan pakaian dan hiasan wajah menyerupai hantu pocong, Rabu 17 April 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)
  • Rahmatullah, Korban Likuifaksi Desa Panau, Sigi

Warga korban likuifaksi menyalurkan hak pilihnya di TPS 01 Desa Panau Kecamatan Sigi Biromaru, Sigi. Ada yang menarik, di antara pemilih yang datang, ada yang mengenakan pakaian mirip pocong. Dialah, Rahmatullah, salah satu korban yang rumahnya hilang diterjang likuifaksi.

SEPINTAS terlihat tidak jauh berbeda dengan TPS lainnya–TPS 01 tempat Rahmatullah mencoblos itu, didirikan tepat di atas material likuifaksi yang sudah mengering. Tidak ada yang unik dari TPS berdinding kain kuning dan bertenda terpal itu. Petugasnya pun mengenakan pakaian biasa-biasa saja.

TPS 01 di desa Panau, Kecamatan Sigi Biromaru ini, persis berada di perbatasan dengan Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan. Kelurahan Petobo merupakan salah satu wilayah yang paling parah terkena likuifaksi pada 28 September tahun lalu.

Meski didirikan di atas endapan lumpur, TPS 01 ini tetap dibanjiri warga. Mereka tetap bersemangat untuk mencoblos, meski TPS-nya berada di atas endapan lumpur yang sudah mengering.

Yang lebih menariknya lagi saat warga sedang mengantri menunggu panggilan untuk mencoblos, warga dikejutkan dengan munculnya seorang remaja yang menggunakan pakaian ala pocong, lengkap dengan riasan wajah yang mirip dengan hantu pocong.

Bukan itu saja, di bagian belakangnya pun bertuliskan imbauan kepada warga untuk tidak Golput.

Aksi remaja yang bernama Rahmatulah (21) itu, menjadi perhatian warga yang sedang berada di sekitar TPS, yang berlatar belakang gundukan lumpur Liquifaksi yang sudah mengering, lengkap dengan beberapa bangunan yang masih terendam sebagian serta tumpukan material berupa kayu dan sisa bangunan yang belum sempat di bersihkan.

Kepada Metro Sulawesi Rahmatulah mengatakan bahwa dirinya sengaja menggunakan pakaian seperti itu, berawal dari mimpinya beberapa malam sebelumnya, yang didatangi beberapa orang dengan menggunakan pakaian putih dan menyuruhnya untuk memberikan suaranya, karena hak suaranya menjadi masa depan untuk mereka yang menjadi korban Liquifaksi.

“Saya mimpi didatangi beberapa orang berbaju putih, dan menyuruh untuk mencoblos. Sebenarnya saya ini maunya golput, karena sampai sekarang nasib kami yang terdampak liquifaksi tidak jelas. Karena mimpi itu, makanya saya datang mencoblos menggunakan pakaian pocong, dan saya tulis di belakang Jangan Golput, biar warga juga ikut mencoblos,” jelasnya.

Rahmatulah juga menerupakan salah satau korban yang selamat dari terjangan lumpur liquifaksi pada Sepetember lalu, bahkan rumah tempat tinggalnya juga sudah rata dengan tanah, dirinya juga kehilangan beberapa orang anggota keluarganya.

Dirinya berharap dengan datang ke TPS dengan menggunakan pakaian seperti itu (Pocong), dapat menggugah hati warga untuk datang ke TPS untuk mencoblos, serta dapat memperlihatkan kepada pemerintah bahwa Pocong saja datang untuk memilih mereka, dan semoga juga saat terp[ilih mereka tidak melupakan rakyat yang sduah memilih mereka, terlebih korban bencana alam Liquifaksi di Palu dan Sigi.

“Pocong saja memilih mereka, so kelewatan kalau mereka tidak memperhatikan kami,” ucapnya sambil tertawa.

Usai memberikan hak suaranya, Rahmatulah pun dikerumuni warga yang untuk memintanya berfoto selfie.

Seperti yang diketahui Desa Panau, Kecamatan Sigi Biromaru itu merupakan wilayah kabupaten Sigi, yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Petobo, Kota Palu, yang mana wilayah tersebut, merupakan salah satu wilayah yang terdampak paling parah saat terjadinya bencana alam Gempa Bumi dan Liquifaksi, yang terjadi pada 28 Sepetember 2018 lalu.

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here