Home Ekonomi

Disperindag Sulteng Kembangkan Perusahaan Rintisan

264
Moh. Arif Latjuba. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Dalam beberapa tahun belakangan ini perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri kecil menengah (IKM) atau lebih familiar dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tidak perlu diragukan lagi. Melalui program pembinaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng terus mengembangkan perusahaan rintisan.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Disperindag Sulteng, Moh. Arif Latjuba saat ditemui Metrosulawesi, Selasa 19 Maret 2019. Menurutnya, sejak awal sudah 51 perusahaan rintisan yang telah dibentuk 18 di antaranya sudah dibuka dan 9 telah memiliki tenan.

“Selama saya menjabat telah dua kali launching dengan sebanyak 18 tenan (pemilik usaha). Sementara, setelah kita evaluasi pascabencana yang aktif sekarang kurang lebih ada sekitar 10 tenan. Selain itu, startup merupakan perusahaan yang menjadi cikal bakal akan menumbuh kembangkan industri kreatif. Bilamana industri kreatif maju, maka pelaku usaha seperti startup ini juga harus berkembang,” ujarnya.

Lebih lanjut Arif menjelaskan ada 4 pemilik usaha yang mendapatkan dukungan pembiayakan dari Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenrisdikti) Republik Indonesia. Kemudian, untuk menjalankan bisnis tersebut mereka juga dibantu dalam bentuk dua software dan dua hardware.

“Rata-rata mendapatkan Rp200 juta hingga Rp400 juta masing-masing tenan. Mereka dibantu di dalam pengembangan produk yang mereka punya. Yang mendapatkan dua software adalah Sahabatcare dan iflapor. Sementara itu, yang mendapatkan Hardware Lab Gudang dan WO2K,” jelas Arif.

Menurutnya, iflapor adalah aplikasi mobile android yang berguna untuk menghubungkan masyarakat ke pemerintah dan sebagai solusi keluhan masyarakat terhadap fasilitas publik.

Arif mengatakan kekuatan dari startup ini adalah bisnis model yang memiliki keunggulan dengan basis pasar yang tidak di lirik perusahaan besar sebelumnya. Namun kedepan mampu men-disruptive pasar dan pemimpin pasar yang ada.

“Startup sendiri akan mulai dilirik oleh investor atau venture capital setelah berbagai macam perusahaan yang berbasis digital tersebut memberi imbal hasil yang besar disertai dan potensi meningkatkan valuation perusahan berlimpat kali dalam waktu singkat,” katanya.

Dengan begitu, Arif mengatakan adanya Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) Maleo Techno Center langsung dibawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah yang dibentuk sejak 2013 lalu atas inisiasi Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian dan Disperindag Sulteng. Sejak terbentuk, hingga saat ini telah mengorbitkan sedikitnya 32 usahawan muda.

“IBTI fokus pada usaha-usaha membangun bisnis yang diprakarsai oleh kalangan muda dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai basisnya. Beragam bidang bisnis telah difasilitasi mulai dari kuliner hingga usaha jasa kecantikan,” ungkapnya.

Layanan yang diberikan antara lain inkubasi bisnis untuk menjadi startup technopreneur, konsultasi, mentoring dan pelatihan, pengembangan bisnis hingga akses permodalan. Mereka dilatih hingga siap meluncurkan produknya di website.

“Dari mereka yang telah menjadi tenan tersebut, Disperindag Sulteng telah membuatkan lima di antaranya telah dibuatkan badan usaha berupa CV,” sebut Arif.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas