Home Sulteng

Sulteng Masih Punya Stok Investasi Rp64 T

228
Sandra Tobondo. (Foto: Dok Metrosulawesi)

  • DPMPSTP Targetkan Realisasi Rp20,8 T di 2019

Palu, Metrosulawesi.id – Sulawesi Tengah masih memiliki stok investasi sebesar Rp64 triliun. Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPSTP) Sulawesi Tengah menargetkan Rp20,8 triliun dari total stok investasi tersebut bisa terealisasi tahun ini.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPSTP) Sulawesi Tengah Sandra Tobondo menyebut, bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018 lalu tidak menjadi penghalang masuknya investasi di daerah ini.

Kata dia, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat masih ada sekitar Rp64 triliun stok investasi untuk Sulawesi Tengah pada tahun 2019 ini. Selain itu, masih banyak calon investor baru yang juga sudah melirik dan berencana akan berinvestasi di daerah ini.

“Jadi, dari Rp64 triliun itu, yang kami targetkan (terealisasi) di 2019 adalah 20,8 triliun,” ungkap Sandra Tobondo ditemui di ruangannya, Senin 18 Maret 2019.

Dia menilai, para investor masih melirik dan tertarik untuk berinvestasi di daerah ini. Buktinya, dengan adanya industri-industri baru yang terus berdiri di daerah ini. Ia mencontohkan masuknya perusahaan baru seperti perusahaan beterai lithium di Kabupaten Morowali baru-baru ini.

Selain itu, masih banyak perusahaan di sektoor lainnya yang juga telah mengantree untuk siap berinvestasi di Sulawesi Tengah.

“Yang sudah ada di dalam NIP, mereka akan melakukan pengurusan lagi selanjutnya di lapangan agar bisa berjalan,” ungkap Sandra.

Perusahan-perusahaan calon investor yang dimaksudnya bergerak di berbagai sektor semisal industri kimia dan farmasi, transportasi dan telekomunikasi, listrik, gas dan air bersih, serta sektor konstruksi.

Seperti diketahui, beberapa bulan pascabencana, sektor ekonomi Sulteng, khususnya empat daerah terdampak, Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, mulai menggeliat. Usaha-usaha masyarakat maupun padat modal sudah bergerak. Laju inflasi Januari 2019 sudah membaik pada posisi 0,21 persen dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya.

“Memang di awal-awal pascabencana, kita semua merasakan perekonomian kita begitu sulit. Usaha-usaha masyarakat, pasar-pasar, perhotelan tidak bergerak. Inflasi pun ikut naik. Tetapi hari ini kita sudah menyaksikan geliat ekonomi masyarakat sudah terasa. Dimana-mana toko, pasar, swalayan-swalayan sudah buka,” kata Sekdaprov Sulteng, Hidayat Lamakarate dalam Diskusi Publik: Strategi Pembangunan Ekonomi Sulawesi Tengah Pascabencana, Senin malam, 18 Februari 2019 lalu.

Lanjut Hidayat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat ini terus mendorong perbaikan sektor ekonomi dwngan mempermudah investasi bagi siapa saja yang ingin berusaha di Sulawesi Tengah.

“Kran investasi kita perluas dan perizinan serta administrasinya dipermudah,” kata Hidayat.

“Bahkan pemerintah akan mendampingi dan senantiasa mendukung investor dari gangguan yang timbul. Pemerintah bukan lagi di belakang tapi did depan untuk mendorong percepatan investasi,” tambah Hidayat.

Seperti di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, terus diupayakan agar investasi berkembang. Pemerintah akan menjamin keamanan berinvestasi sepenuhnya.

Begitupula sektor pertanian, misalnya jaringan irigasi Gumbasa yang rusak total akibat gempabumi dan likuifaksi di Kabupaten Sigi, terus didorong agar sesegera mungkin kembali berfungsi. Rusaknya jaringan irigasi Gumbasa memberi dampak terpuruknya pertanian dan perekonomian masyarakat di Sigi.

“Dalam rapat bersama PUPR kemarin, dijanjikan April 2019 ini, irigasi Gumbasa sudah mulai berfungsi dan bisa mengairi seribu hektar lahan pertanian masyarakat,” kata Hidayat.

Selain itu, pihaknya sudah meminta komitmen pelaku perbankan untuk memberikan keringanan bagi para debitur berupa penundaan pembayaran angsuran dan bunga, mulai tiga bulan sampai tiga tahun. Dan itu sudah berjalan. Hanya saja untuk penghapusan utang atau kredit tidak bisa diberikan.

“Dan itu sesuai arahan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla beberapa waktu lalu, bahwa tidak ada pemutihan utang di daerah terdampak bencana,” kata Hidayat lagi.

Reporter: Tahmil Burhanudin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas