Home Donggala

Sasar Milenial, Ajak Warga Tidak Golput

194
SOSIALISASI PEMILU - Ketua KPUD Donggala, M Unggul (tengah) bersama Kapolres Donggala, AKBP Ferdinan Suardji saat menghadiri festival musik religi Sabtu malam, 16 Maret 2019. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

  • KPU Donggala Sosialisasi Pemilu Melalui FMR

Tabliq Akbar dan festival musik religi (FMR) yang digelar KPUD Donggala menarik perhatian banyak warga setempat. Dua kegiatan itu digelar dalam rangka sosialisasi pelaksanan Pemilu yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 mendatang.

DUA kegiatan itu dilaksanakan di tempat berbeda. Tabliq akbar dipusatkan di Masjid Raya Donggala, sedangkan festival musik religi di Pasar Tua Kelurahan Boya, Kecamatan Banawa pada Sabtu malam, 16 Maret 2019.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan tablig akbar, paling tidak wawasan beragama bertambah, setelah kegiatan tablig kami akan bergeser lagi menyaksikan festival musik religi,” kata warga Boya, Aidil.

Ketua KPUD Donggala, M.Unggul pada kegiatan festival musik religi menyatakan terima kasihnya kepada seluruh peserta musik religi yang sudah berpartispasi di kegiatan ini. Menang kalah katanya, adalah hal biasa dalam berkompetisi.

“Kegiatan festival musik religi ini sebagai ajang silaturahim sesama masyarakat Kecamatan Banawa. Apalagi menjelang pemilu, kami dari pihak penyelenggara berharap tetap menjaga kekompakan, dan terpenting yang belum terdaftar namanya, atau kepingin pindah lokasi nyoblos, silakan berurusan di tenda depan kami menyediakan tempat pengurusan di lokasi kegiatan ini,” sebutnya.

Devisi sosialiasi KPUD Yudi mengatakan maksud dan tujuan pelaksanaan festival musil religi, yakni selain menyasar pemilih pemula atau milenial untuk menggunakan hak pilihnya, pada pileg dan pilpres 17 April mendatang, kami juga ingin mengajak seluruh masyarakat Kecamatan Banawa untuk mensukseskan pesta demokrasi lima tahunan.

“Harapan kami sebagai penyelanggara, tingkat partispasi di Pemilu tahun ini bisa meningkat, dan tidak golput. Kalau pun belum terdaftar bisa berhubunga dengan petugas kami,” tutupnya.

Sebelumnya, KPU Donggalamengimbau para pengungsi bencana gempa dan tsunami agar tidak tergiur politik uang. Di mana, kemungkinan besar akan terjadi menjelang hari pencoblosan Pemilu dan Pilpres 17 April 2019.

“Apalah artinya kalau hak suara kita digadaikan, misalnya dikasih Rp 10 ribu dengan syarat memilih salah satu calon presiden atau wakil rakyat. Uang itu tidak sebanding dengan harga diri dan nasib bapak ibu lima tahun ke depan,” kata Komisioner Divisi Sosialisasi KPU Donggala Yudi saat memberikan sosialisasi kepada pengungsi di kawasan pengungsian terpadu di Kelurahan Gunung Bale, Senin 11 Maret.

Menurutnya, pengungsi korban bencana yang tersebar di sejumlah wilayah di Donggala merupakan sasaran empuk oknum-oknum calon anggota legislatif (caleg) maupun tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden. Di mana, mereka tidak menutup kemungkinan berusaha meraup suara demi meraih kemenangan dengan cara curang yakni politik uang.

“Olehnya kita semua harus menjadi pemilih yang cerdas. Caranya bagaimana? cari tahu visi dan misi serta program-program capres/cawapres dan caleg baik DPRD kabupaten, provinsi, pusat dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah),” kata Yudi.

Selain itu ketahui riwayat hidup capres/cawapres dan caleg serta riwayat partai politik yang mengusung mereka, katanya.

“Orang-orang yang saleh dan saleha, rajin ibadah contohnya salat, itu kira-kira yang layak dipilih untuk memimpin bapak-ibu,” ucapnya.

Sementara itu Ketua KPU Donggala, Unggul mengatakan sosialisasi kepemiluan kepada seluruh pemilih setiap hari dilakukan oleh KPU Donggala di berbagai wilayah.

Termasuk sosialisasi kepada pemilih di selter, tenda-tenda pengungsian dan di hunian sementara (huntara).

“Relasi (relawan demokrasi), PPS (Panitia Pemungutan Suara) dan PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) kami setiap hari melakukan sosialisasi di kawasan pengungsian dan huntara,” ujarnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas