Home Palu

Cef-InAP Diubah Jadi IPCC

238
PERESMIAN - Rektor Untad Prof Mahfudz (kiri) didampingi Prof Basir Cyio saat peresmian IPCC yang sebelumnya Cef-InAP di Lantai III Rektorat Universitas Tadulako, Senin, 11 Maret 2019. (Foto: Humas Untad)

  • Prof Basir Didaulat Penanggungjawab

Palu, Metrosulawesi.id – Rektor Universitas Tadulako (Untad) Prof Dr Ir H Mahfudz MP resmi mengubah Center for International Article Publication (Cef-InAP) menjadi International Publication and Collaborative Center (IPCC). Peresmian dilaksanakan di Lantai III Rektorat Untad, Senin, 11 Maret 2019.

Prof Mahfudz menjelaskan perubahan nama Cef-InAP menjadi IPCC merupakan tuntutan dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) demi peningkatan jumlah publikasi. Olehnya menjawab tantangan itu dilakukan perubahan agar target publikasi ilmiah dapat ditingkatkan.

“Dengan IPCC, kita dapat memperluas dan meningkatkan publikasi artikel. Jejaring kerjasama dengan jurnal internasional bereputasi akan kita lakukan. Tujuannya agar publikasi ilmiah dosen Untad dapat meningkat pada 2019 ini,” jelasnya.

Prof Mahfudz menuturkan, ia diberikan target oleh Menristekdikti Prof H Mohamad Nasir PhD untuk meningkatkan jumlah publikasi artikel. Target itu disampaikan langsung oleh Menristekdikti dalam pelantikan Rektor Untad bersama empat pemimpin perguruan tinggi negeri lainnya di Jakarta pada Rabu, 6 Maret lalu.

“Pak Menteri menekankan kepada pemimpin PTN untuk meningkatkan jumlah publikasi dosen. Insya Allah tantangan dari pak Menteri akan kami laksanakan. Olehnya, kami mengamanahkan bapak Prof Basir Cyio untuk menjadi Penanggungjawab IPCC dengan didukung oleh Koordinator dan Tim Inti. Kami yakin, dengan pengalaman beliau sebagai akademisi dan sebagai wartawan utama, tantangan ini dapat kita jawab bersama,” ucap Prof Mahfudz.

Semenatara itu Prof Dr Ir H Muh Basir Cyio SE MS yang didaulat sebagai Penanggungjawab IPCC menuturkan pihaknya akan melaksanakan amanah yang dipercayakan oleh Rektor Untad.

“Inilah indahnya dunia pendidikan tinggi. Perintah yang diberikan oleh pak Rektor harus dilaksanakan, saya ini adalah staf beliau. Kita wajib patuh terhadap atasan, sami’na wa atho’na. Mungkin orang akan heran sebab saya 12 tahun menjadi atasan pak Prof Mahfudz, mulai dari Pembantu Dekan saat saya jadi Dekan, menjadi Ketua Dewan Pertimbangan saat periode pertama saya jadi Rektor, dan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan di periode kedua saya. Saat ini, Beliau adalah atasan saya, atasan kita semua. Beliau adalah Rektor, pemimpin tertinggi kita, maka kita wajib mengikuti perintah atasan, kita wajib muliakan pemimpin. Jika kita bandel, tidak mengikuti atasan yang diibaratkan orang tua kita, maka kita tergolong sebagai anak durhaka,” tutur Prof Basir.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas