Home Sigi Serangan Hama, Produksi Kakao Palolo Anjlok

Serangan Hama, Produksi Kakao Palolo Anjlok

176
Torki Ibrahim Turra. (Foto: Ist)

Sigi, Metrosulawesi.id – Petani di Kecamatan Palolo semakin resah menghadapi hama yang menyerang tanaman kakao sejak beberapa tahun terakhir. Pemerintah daerah yang diharapkan menolong petani, mengatasi masalah hama juga belum melakukan intervensi kebijakan.

“Sekarang petani banyak yang beralih ke tanaman lain karena kakao diserang hama yang belum diketahui cara mengatasinya. Dinas terkait juga belum melakukan program untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani kita,” kata Torki Ibrahim Turra, tokoh masyarakat di Desa Bobo Kecamatan Palolo, Sigi, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini kakao tidak bisa lagi diandalkan untuk menggerakkan perekonomian petani di Kecamatan Palolo, khususnya di Desa Bobo. Masalah ini bukan hanya menimpa petani di Palolo, tetapi hampir di semua wilayah kecamatan di Sigi.

“Sejak empat tahun lalu serangan hama. Kalau sebelumnya petani bisa memproduksi berton-ton kakao, sekarang hitungan kilogram saja,” ujar Torki Ibrahim Turra yang mantan anggota DPRD Sigi itu.

Beberapa petani kakao, kata dia masih bertahan dan berusaha bangkit, tetapi tetap saja kesulitan mengatasi hama. Beberapa beberapa petani kini mulai mengembangkan tanaman kopi untuk mengantisipasi jika kakao benar-benar berhenti berproduksi. Tanaman kopi hanya butuh satu setengah tahun untuk berproduksi.

“Saya sekarang mengembangkan kopi,” ujarnya.

“Menurut saya ganti dulu tanaman kakao, hilangkan total yang kena hama dimusnahkan. Nanti tiga tahun setelah itu, baru ditanam kembali kakao,” saran Torki yang Ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI/ Polri Indonesia (FKPPI) Sigi.

Hal senada dikatakan Muhammad Yasin,warga Desa Bakubakulu Kecamatan Palolo. Dia mengatakan, sampai saat ini petani belum menemukan cara mengatasi serangan hama pada tanaman kakao. Karena itu, petani di Bakubakulu lebih mengandalkan kemiri. Hanya saja masalahnya, pengangkutan buah kemiri dari kebun ke rumah terkendala akses jalan.

“Butuh kendaraan pengangkut karena buah kemiri berat. Satu karung bisa sampai 70 kilogram beratnya,” jelasnya.

Padahal, kata dia tanaman kemiri cukup menjanjikan dan berbuah sepanjang tahun.

“Kemiri bagus. Hasilnya atau produksinya juga cepat. Hanya tiga tahun sudah panen,” kata Yasin yang Sekretaris Kecamatan Nokilalaki.

Anjloknya produksi kakao juga diakui Kepala Desa Bobo Irwan Nasrah. Dia mengatakan, sejak tahun 2014, tanaman kakao diserang hama dan produktivitas terus menurun. Namun, berbeda dengan Torki dan Yasin, menurut Kades Bobo, tanaman kakao kini mulai membaik dari serangan penyakit.

“Tapi belum sepulih sebelumnya tahun 2000-an. Sekarang sekitar 60 persen tanaman kakao mulai membaik,” kata Irwan Nasrah.

Reporter: Syamsu Rizal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here