Home Sigi

Bangun Infrastruktur Desa, Bangkitkan Ekonomi Petani

405
BANGUN JEMBATAN - Personel TNI bersama warga membangun Jembatan 1 Ngangamoti di Desa Bakubakulu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Minggu 3 Maret 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

  • Melihat Lebih Dekat Kegiatan Tmmd Ke-104 di Sigi

Membangun infrastruktur di desa ibarat membuka jalan napas bagi petani. Konektivitas antardesa diyakini berkorelasi terhadap denyut nadi perekonomian sekaligus membangkitkan harapan. Karena itu, TNI turun tangan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Laporan: Syamsu Rizal
Palolo-Palu

SUNGAI Korona yang berarus deras dan cukup dalam itu membelah Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tepat di seberang sungai itu, warga Desa Sintuwu hanya bisa pasrah menerima keadaan. Mereka terpaksa memutar jauh melewati beberapa desa jika hendak ke kebunnya karena dibatasi sungai. Begitu juga sebaliknya warga Desa Kapiroe. Meski kebun dekat di mata di seberang sungai, tetapi untuk mencapainya sangat jauh. Setidaknya melewati beberapa desa dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Sebenarnya ada sebuah jembatan penghubung dua desa itu sepanjang 60 meter dan lebar 4 meter, yang melintas di atas aliran Sungai Korona. Tapi, sejak tiga tahun lalu, dihantam banjir. Sejak itu, jembatan itu sama sekali tak bisa lagi digunakan. Hanya rangka besi yang tersisa. Jembatan yang oleh warga menyebutnya Jembatan Kurakura itu rusak parah. Lantai kayu hancur. Jangankan mobil, motor pun bisa saja terjun ke sungai jika nekad melintas.

“Selama jembatan itu rusak, saya harus jalan memutar. Satu jam baru bisa sampai ke desa sebelah,” kata Tahir, warga Desa Sintuwu ditemui di lokasi renovasi Jembatan Kurakura, Sabtu 2 Maret 2019.

Jembatan Kurakura, penghubung antardesa ini dibangun sejak puluhan tahun silam. Sebuah perusahaan yang berjasa membuka jalan, tapi tentu saja, waktu itu lebih pada kepentingan bisnisnya.

”Sudah puluhan tahun. Kayu lantainya lapuk dimakan usia,” kata Sudirman, juga warga Desa Sintuwu.

“Kalau saya mau ke Sintuwu, harus berputar ke Desa Ranteleda, Makmur, Kapiroe, Petimbe dan Desa Bunga,” timpal Tahir.

Harapan warga agar jembatan penghubung itu diperbaiki akhirnya terjawab. Sebanyak 150 personel TNI tiba di Palolo. Salah satu sasarannya adalah merenovasi atau membangun kembali Jembatan Kurakura. TNI bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat setempat sebagai wujud kemanunggalan TNI dan rakyat.

Kehadiran ratusan personel TNI di Palolo dalam rangka program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104 wilayah Kodim 1306/ Donggala. Kabupaten Sigi adalah satu lokasi sasaran program tersebut yang dilaksanakan di seluruh Indonesia. Pangdam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Tiopan Aritonang hadir membuka kegiatan itu di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Selasa 26 Februari 2019.

Proyek jalan dan jembatan yang menyatukan antardesa dan antarkecamatan ini pun dimulai, disamping sejumlah kegiatan fisik dan non fisik lainnya.

“Jembatan ini menghubungkan beberapa desa, juga menghubungkan Kecamatan Palolo dengan Kecamatan Nokilalaki. Kami konsisten terhadap perbaikan jembatan ini,” kata Komandan Kodim 1306/Donggala sekaligus Komandan Satgas TMMD ke-104 Sigi, Lekol Kav I Made Maha Yudhiksa, di lokasi pembangunan jembatan, Sabtu 2 Maret 2018.

Sebanyak 30 personel dari Batalyon Infanteri 714/ Sintuwu Maroso dibantu masyarakat bahu membahu merenovasi jembatan kurakura itu. Semangat bergotong-royong sebagai wujud kemanunggalan TNI dan rakyat, akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Belum sepekan dikerjakan, kini beberapa batang kayu telah terpasang di atas konstruksi besi di jembatan sepnjang 60 meter itu.

Sepeda motor kini pun sudah bisa melintas di atas jembatan itu, meski masih harus hati-hati. Tampak pula beronjong sudah tersedia, siap dipasang sebagai pengaman agar tak jembatan aman dari ancaman abrasi sungai.

“Kalau kita lihat progresnya sekarang sudah 30 persen. Kita juga menggunakan alat berat untuk membantu percepatan pekerjaan,” jelas Dandim yang pernah bertugas di Jerman selama enam bulan.

Renovasi jembatan kura-kura ini ditargetkan rampung tiga pekan ke depan atau sebelum program TMMD berakhir pada 27 Maret 2019.

“Kita lihat bahwa sungai ini besar sehingga berpotensi merusak sisi jembatan. Kami sudah berkoordinasi dengan BWSS (Balai Wilayah Sungai Sulawesi), nanti kita sarankan agar sungai ini dinormalisasi,” ungkapnya.

Warga setempatjuga menyarankan agar dipertimbangkan normalisasi sungai. Warga khawatir, jika banjir besar seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, akan kembali merusak jembatan tersebut.

“Dulu aliran sungainya ini lurus, tidak seperti sekarang. Kalau banjir besar, aliran sungainya berpindah-pindah. Aliran sungai ini kalau bisa diluruskan saja. Karena dulu pernah ditimbun, begitu banjir, timbunan itu tersapu air,” saran Sudirman.

Sudirman menyatakan, siap menyerahkan sebagian areal kebunnya yang tak jauh dari jembatan itu, jika sungai hendak dinormalisasi.

TNI Datang, Petani Senang

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah merilis data bahwa nilai tukar petani (NTP) di provinsi ini sepanjang Februari 2019 hanya 93,72 persen. Bahkan, NTP pada subsektor tanaman perkebunan rakyat di angka 81,66 persen. Artinya, kurang dari 100 persen. Berdasarkan data statistik itu, rata-rata penghasilan petani tidak sebanding dengan pengeluaran. Boleh jadi, keterbatasan infrastruktur salah satu penyebabnya.

Seperti hanya perekonomian masyarakat Desa Bakubaluku, Kecamatan Palolo yang mayoritas bergantung pada hasil perkebunan. Dua komoditas unggulan yakni coklat dan kemiri. Masalahnya, keterbatasan infrastruktur jalan selama ini sangat menyulitkan petani mengakses kebunnya sehingga harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

“Oleh karena itu, kami berterima kasih TNI membuka akses jalan sehingga nantinya kendaraan sudah bisa ke kebun. Pengangkutan kemiri dari kebun memang butuh kendaraan motor atau mobil. Kemiri dalam satu karung, beratnya bisa sampai 70 kilogram. Jadi, kami senang TNI membuka jalan ini. Apalagi kemiri merupakan tanaman yang terus berbuah sepanjang tahun. Syukur dengan adanya pembukaan jalan ini, transportasi pengangkutan hasil kebun sudah lancar nanti,” kata Muhammad Yasin,warga Desa Bakubakulu ditemui di lokasi pembukaan jalan.

Jalan dan jembatan yang sekarang dibangun TNI, dulunya tak bisa dilalui kendaraan. Itu terjadi sejak puluhan tahun lalu atau setelah perusahaan PT Kebun Sari tidak lagi beroperasi di desa itu.

“Waktu yang begitu lama menantikan, akhirnya pembukaan jalan dan pembangunan jembatan ini bisa terwujud. Sekali lagi, kami sangat berterima kasih kepada TNI,” kata Muhammad Yasin yang juga sekretaris Kecamatan Nokilalaki.

Jembatan yang dimaksudkan Yasin adalah Jembatan 1 Ngangamoti di Desa Bakubakulu. Jadi, selain Jembatan Kurakura di Desa Kapiore, Jembatan 1 Ngangamoti di Desa Bakubakulu juga menjadi sasaran TMMD ke-104. Sebelumnya, sudah ada jembatan di situ yang dibangun tahun 1970-an. Tapi, rusak sejak 20 tahun silam. Kini menyisakan jurang yang cukup dalam dan sulit dilewati. Warga yang berkebun di seberang jembatan harus berjalan kaki cukup jauh menuju kebunnya.

Satgas TMMD kemudian membuka dan melebarkan jalan sepanjang 11,4 kilometer melintasi Jembatan 1 Ngangamoti. Jalan ini menghubungkan Kecamatan Palolo dan Nokilalaki. Babinsa di lima desa di Kecamatan Nokilalaki, Sertu Ebit Turra mengatakan, jalan ini melintasi Desa Bakubakulu, Desa Bobo, Desa Bunga, hingga Desa Kapiroe.

“Menghubungkan Kecamatan Palolo dan Nokilalaki. Kalau jalan dan jembatan ini sudah selesai, bisa menghemat jarak tempuh 8 kilometer dari Palolo ke Palu,” kata Ebit Turra, tentara yang lahir dan besar di Desa Bobo, Kecamatan Palolo.

Kepala Desa Bobo Kecamatan Palolo Irwan Nasrah, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah dan terutama TNI.Khusus di desanya, ada dua jembatan yang dibangun dalam program TMMD ke-104.

“Jembatan di Salukana kira-kira panjangnya 11 meter. Dan satunya lagi jembatan Salutolondo lima meter.Dua jembatan itu sudah rusak, masih jembatan peninggalan PT Kebun Sari. Saat ini sudah mulai dikerjakan oleh TNI. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu membangun desa kami,” ujarnya.(***)

Ayo tulis komentar cerdas