Home Ekonomi

Usaha Roti Maros Menjanjikan

827
Gerai penjualan Roti Maros di Jalan Martadinata Kota Palu. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Warga Kota Palu pasti tidak asing lagi dengan roti Maros. Roti khas daerah Kabupaten Maros Sulawesi Selatan ini sudah lama dijajakan di outlet-oulet di beberapa titik di Kota Palu.

Bahkan, kini sudah banyak menjajakkannya melalui metode outlet berjalan menggunakan mobil di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini.

Ternyata, selain rasanya enak dan khas, roti Maros ternyata menjanjikan ekonomi besar. Bagaimana tidak, makanan tradisonal Bugis Makassar ini ternyata banyak dicari masyarakat di Kota Palu, khususnya para warga asal Provinsi Sulawesi Selatan yang menetap di Kota Palu.

Vian, Salah satu penjual di gerai semi permanen Jalan Martadinata Kelurahan Talise Kota Palu, mengatakan jumlah peminat roti Maros kian hari semakin banyak. Pembeli paling banyak mencari roti maros, adalah warga Sulsel di Kota Palu. Namun, tidak sedikit pula warga asli di Sulawesi Tengah yang menyukai roti itu.

“Baru sekitar dua bulan kembali beraktivitas pascabencana. Terkadang terjual per hari 50 mika sampai 60 mika khusus dibulan kemarin pendapatan mencapai Rp1 juta per hari,” katanya, Kamis (28/2/2019)

Ia mengatakan, produknya sangat disukai masyarakat Kota Palu karena memiliki cita rasa dan tekstur berbeda dengan roti lainya. Lanjut dia ada lima varian rasa roti Maros yang ditawarkan.

“Ada rasa coklat, vanila, selai nenas, durian dan original. Harganya pun beragam dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu/mika. Outlet kami ada di 5 tempat seperti, di Jalan Soekarno Hatta, SIS Al Jufri, Jalan Malonda Silae, Jalan Martadinata dan Jalan Towua,” tuturnya.

Sepintas, cara pembuatan roti Maros sebenarnya mirip dengan roti lainnya. Hanya saja, membedakan dengan roti lainya adalah resep khusus terletak diisi rotinya yang dibuat secara turun-temurun berupa selai khas Maros.

“Saya mulai berjualan di sini sekitar satu bulanan lebih, buka lapak pukul 07.30 pagi sampai pukul 18.00 sore. Roti maros ini cukup tahan, untuk masa kadaluarsanya roti, dari 2 sampai 3 hari. Untuk varian rasa banyak peminatnya yakni rasa original,” ujarnya.

Untuk omzet, kata dia, gerainya dapat meraup omzet variatif. Namun, jika dirata-ratakan sehari bisa laku hingga 65 mika. Setiap mika seharga Rp10 ribu ukuran kecil dan Rp20 ribu per mika yang berukuran besar.

“Untuk pemasarannya sendiri, kalo saya masih menggunakan outlet, kalau untuk memasarkan di media sosial belum pernah saya lakukan. Sedangkan, semua kalangan yang banyak membeli kalau saya lihat,” pungkasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas