Home Palu

Pendapatan RS Anutapura Tinggal Rp1 M

374
BERI PENJELASAN - Direktur Rumah Sakit Anutapura Palu dr Ruslan Ramlan Ramli (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa 26 Februari 2019. (Foto: Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

  • Rumah Sakit Prioritaskan “Honorer Pahlawan”

Palu, Metrosulawesi.id – Beberapa waktu belakangan manajemen Rumah Sakit Anutapura Palu menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk awak media. Pasalnya, pihak rumah sakit baru saja merumahkan sekitar 400-an tenaga honornya pasca bencana.

Alasan pihak rumah sakit tidak memperpanjang kontrak ratusan tenaga honorer tersebut karena kerusakan parah pada bangunan dan sebagian alat penunjang operasional rumah sakit yang menyebabkan pendapatan rumah sakit anjlok. Dari sebelum bencana rumah sakit bisa meraup penghasilan sekitar sepuluh hingga belasan miliar rupiah menjadi hanya sekitar Rp1 miliar per bulan.

Sejumlah tenaga honorer yang diberhentikan menuntut agar pihak rumah sakit memberikan jaminan agar mereka bisa kembali dipekerjakan oleh manajemen ketika rumah sakit bisa kembali beroperasi secara normal.

Selain itu, 150 tenaga honorer perawat yang diberhentikan juga mempertanyakan kebijakan manajemen yang memberhentikan pegawai yang telah mengabdi belasan tahun, dan memilih memperpanjang kontrak pegawai honorer yang masih baru.

terkait hal itu, pihak rumah sakit punya alasannya. Menurut Direktur Rumah Sakit Anutapura Palu dr Ruslan Ramlan Ramli, pihaknya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sebagian besar tenaga honorernya karena melihat kondisi rumah sakit pascabencana.

“Menurut kontrak kerja, mereka itu kontraknya mulai 1 Januari hingga 31 Desember. Setelah itu, silakan mendaftar ulang. Nanti manajemen akan memanggil mereka yang dibutuhkan sesuai kebutuhan rumah sakit, jadi tidak ada yang namanya pemberhentian karena kontraknya memang telah berakhir,” ungkap dr Ruslan, Selasa 26 Februari 2019.

Dia yang ditemui di ruang rapat bersama sejumlah unsur pimpinan dan staff rumah sakit menyebut, Rumah Sakit Anutapura Palu memang memiliki banyak tenaga honorer. Jumlahnya hingga 823 tenaga honorer.

Pasca bencana, kondisi rumah sakit yang tidak terelakkan dari kerusakan kehilangan berbagai fasilitas termasuk ruang rawat yang sebelumnya bisa menampung hingga 500 pasien kini hanya bisa untuk 200 pasien saja. Sehingga jumlah tenaga honorer perawat yang dibutuhkan pun jauh lebih sedikit dari sebelumnya.

“Nah, kebetulan jumlah perawat kita memang paling banyak dari semua tenaga honorer yang ada di sini, makanya yang paling banyak dirumahkan itu merupakan perawat,” ungkap Wakil Direktur Pelayanan RS Anutapura Palu drg Herri Mulyadi menambahkan.

Keputusan tersebut terpaksa diambil oleh pihak manajemen yang merasa sulit untuk membayar honor mereka pasca anjloknya penghasilan rumah sakit. Selain itu, jumlah tenaga honorer yang dibutuhkan juga tidak sebanding dengan jumlah pasien yang lebih sedikit.

Sementara terkait kriteria tenaga honorer yang dipertahankan dan diperpanjang kontrak kerjanya, pihak manajemen memutuskan untuk mempertahankan mereka para “honorer pahlawan” yang bekerja saat terjadi bencana dan pascabencana, tanpa melihat sudah berapa lama mereka bekerja.

“Jadi kita melihat dan memprioritaskan mereka yang bekerja dengan disiplin, etika, atitude, dan moral,” ujar dr Ruslan.

Meski begitu, pihak manajemen rumah sakit juga akan memprioritaskan untuk memanggil kembali para tenaga honorer yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya tersebut ketika pihak rumah sakit membutuhkan tenaga mereka.

“Tapi kami tidak bisa mengeluarkan surat keputusan (SK) atau jaminan agar mereka bisa kembali dipanggil lagi. Yang pasti kami akan memprioritsakan mereka dibandingkan harus memanggil atau merekrut tenaga baru,” jelasnya.

Reporter: Tahmil Burhanudin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas