Home Ekonomi

Palu Deflasi 0,29 Selama Februari

181
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faizal Anwar saat memberikan penjelasan terkait kondisi perekonomian Sulteng. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)

  • Harga Terkendali

Palu, Metrosulawesi.id – Lima bulan pascabencana Sulawesi Tengah, bulan Februari 2019 merupakan kali pertama Kota Palu mencatat deflasi sebesar 0,29 persen. Upaya berbagai pihak dalam mengendalikan harga dianggap berhasil.

Naiknya sejumlah harga komoditas di Kota Palu setelah bencana akhirnya dapat kembali ditekan ke harga normal. Hal ini terbukti dengan rendahnya inflasi di Kota Palu, bahkan mengalami deflasi selama Februari.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah merilis angka deflasi yang terjadi disebabkan turunnya harga di banyak sektor komoditas. Terutama kelompok pengeluaran bahan makanan seperti ikan mujair, ikan cakalang, ikan kembung, daging ayam ras, dan ikan bandeng.

“Kita mengalami deflasi 0,29 dengan laju inflasi -0,08 persen (tahun kalender) dan inflasi yoy 5,98 persen,” ungkap Kepala BPS Sulawesi Tengah Faizal Anwar, Jumat 1 Maret 2019.

“Mudah-mudahan kita bisa menekan terus harga. Ini hal yang menggembirakan,” kata dia.

Selain bahan makanan, sektor lainnya seperti besi, beton dan semen juga mengalami deflasi selama Februari.

Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 13 kota mengalami inflasi dan 69 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 2,98 persen dan inflasi terendah di Kota Kendari sebesar 0,03 persen.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Merauke sebesar 2,11 persen dan terendah di Kota Serang sebesar 0,02 persen.

Penurunan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan (1,82 persen), dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,35 persen). Sedangkan kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok sandang (0,82 persen), kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,54 persen), kelompok kesehatan (0,46 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,30 persen), dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (0,04 persen).

Reporter: Tahmil Burhanudin
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas