Home Ekonomi Disperindag Pastikan Harga Semen Stabil Pascabencana

Disperindag Pastikan Harga Semen Stabil Pascabencana

129
Salah satu toko bahan bangunan yang menjual semen di kota Palu. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan memastikan pendistribusian serta harga komoditas semen di Kota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong (Padagimo) kembali stabil pascabencana.

Sebelumnya, semen merupakan salah satu komoditas paling dicari pascabencana melanda Padagimo pada 28 September 2018 lalu. Namun, komoditas itu malah sulit ditemukan pascabencana di daerah terdampak.

“Disamping sudah didukung dengan ketersediaan stok. Kemudian, pembongkaran yang dilakukan oleh distributor sudah mulai normal. Kalau kemarin harganya hampir tembus Rp90 ribu/zak,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdaganga (Disperindag), Zainuddin Hak belum lama ini.

Ia mengimbau, para pedagang semen agar tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp65-68 ribu per sak. Zainudin Hak menegaskan jika ada yang pengecer maupun distributor menjual semen diatas HET akan ditindak tegas dan diberi sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

“Setiap saat, satgas pangan terus memantau pergerakan penjualan, termasuk juga semen. Jika ada yang didapat menjual melampaui HET, akan kena teguran dan diminta untuk menurunkan harga sesuai yang ditetapkan. Pengecer diawasi bahwa kita sama-sama mengalami bencana,” ungkapnya.

Mengenai penetrasi pasar, pihaknya memastikan selalu siap ketika ketersediaan menurun dan permintaan meningkat. Sementara itu, pihak Disperindag Sulteng juga telah memfasilitasi untuk bertemu dengan para distributor dan pengecer guna membahas perihal harga semen.

“Kami sempat undang mereka untuk membicarakan terkait harga semen Pasca bencana dan mereka menyetujui. Dalam hal itu, tidak diperbolehkan lagi Sebenarnya tidak mengikat, itu diadakan memang hanya pada saat harga tidak bisa dikendalikan ditingkat pengecer,” tutur Zainuddin Hak.

Lebih lanjut, Zainudin Hak menjelaskan percepatan perbaikan jalur distribusi merupakan kunci mengatasi kelangkaan. Sedangkan, menurutnya yang menaikkan harga semen adalah ditingkat pengecer. Walaupun, diketahui pengambilan semen tidak dibenarkan lagi di wilayah Mamuju Sulawesi Barat.

“Kalau untuk tingkat distributor tidak ada kenaikan harga. Hanya memang ada beberapa pengecer kemarin yang sempat menaikan harga semen dengan memanfaatkan waktu dan kondisi. Sehingga, mereka menjual melebihi harga kewajaran,” jelasnya.

Sementara, pasca bencana alam yang melanda Palu beberapa waktu lalu membuat kelangkaan dan aktivitas pembongkaran khususnya dipelabuhan Pantoloan belum maksimal karena mengalami kerusakan akibat stunami. Sehingga, kata Zainuddin Hak, Manager Pemasaran PT Tonasa wilayah Sulteng berusaha semaksimal mungkin untuk mencari kapal sampai ke Surabaya.

“Kami juga sudah dapat penjelasan dari Manager PT Tonasa Pemasaran Sulawesi Tengah bahwa sejak saat itu mereka sudah tidak boleh ambil stok semen di Mamuju. Di karenakan kapasitas di sana sangat terbatas dan jauh lebih besar dari Palu. Sehingga, dengan cepat mereka langsung bergerak terkait kelangkaan semen di Kota Palu,” katanya.

Menurutnya, sebagai bukti kelancaraan distribusi, pihaknya mengacu pada penetrasi pasar semen kini tidak lagi digandruni konsumen. Konsumen kini sudah memilih membeli di toko bangunan, karena kemudahan pengantaran disediakan pemilik toko.

“Realisasi penetrasi pasar belum ada yang 100 persen di semua distributor mitra pemerintah untuk penetrasi pasar. Harga di tingkat pengecer sudah stabil, jadi salah satu faktornya adalah itu. Jalur distribusi juga sudah lancar,” pungkasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here