Home Politik

Ahmad M Ali: Joko Widodo Tidak Anti Islam

222
TARIAN ADAT - Ahmad M Ali, Calon Anggota DPR RI Partai Nasdem, Dapil Sulawesi Tengah, disambut meriah Tarian Adat Maragae, di Desa Lalos, Kecamatan Galang, Tolitoli, Jumat 22 Februari. (Foto: Ist)

  • Tekankan Perbedaan Tak Boleh Lahirkan Perpecahan

Tolitoli, Metrosulawesi.id – Tiba di Lalos, Kabupaten Tolitoli, Ahmad M Ali, Calon Anggota DPR RI Partai Nasdem, Nomor Urut Satu, Dapil Sulawesi Tengah, disambut meriah Tarian Adat Maragae. Sebuah tarian perang yang biasa digunakan untuk penyambutan tamu terhormat bagi masyarakat Tolitoli.

Salain tarian Adat Maragae, Ahmad M Ali dan rombongan juga disambut Rebana, Pengalungan Bunga dan seribuan masyarakat saat memasuki lokasi kegiatan Kampanye Terbatas partai Nasdem di Desa Lalos, Kecamatan Galang, Jumat 22 Februari.

Di awal orasinya, Ahmad M Ali ajak masyarakat untuk ikut menyelenggarakan pemilu dengan penuh kegembiraan dan kekeluargaan. 

“Tidak bisa dihindari perbedaan politik di masyarakat. Tapi perbedaan itu tidak boleh melahirkan perpecahan apalagi kebenciaan,” tegasnya.

Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem itu mencontohkan dalam kasus Pemilihan Presiden. 

“Pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno, jika ketemu, mereka dengan mesra bersalaman. Lalu, untuk apa pendukung mereka harus bertentangan dan mengorbankan hubungan kekeluargaan,” urainya.

Ahmad M Ali mengingatkan pada peserta kampanye, untuk tidak mudah mempercayai apa lagi meyakini setiap isu yang memicu perpecahan umat jelang pemilu 2019.

“Jangan mudah mempercayai setiap perkembangan isu. Apalagi isu yang diperoleh dari orang atau media yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. Isu-isu macam itu, banyak sekali beredar di media sosial. Persatuan dan kekeluargaan kita terlalu mahal harganya. Karena itu, jangan dirusak oleh perbedaan pilihan pada pemilu 2019 mendatang. Setuju?,” tanya Ahmad Ali.

“Setuju!” jawab peserta.

Di akhir sambutannya, kepada seluruh kader dan simpatisan partai Nasdem untuk bekerja memenangkan pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dan Partai Nasdem dengan damai dan penuh kekeluargaan.

Sehari sebelummya, Ahmad M Ali melaksanakan kampanye terbatas di Keluharan Tuweley. Pada acara itu Ahmad M Ali mengklarifikasi tudingan yang dialamatkan ke Joko Widodo. Joko Widodo katanya, bukan PKI, bukan anti Agama dan anti Ulama seperti yang dituduhkan selama ini oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

“Bagaimana mungkin Joko Widodo bisa disebut sebagai kader atau simpatisan  Partai Komunis Indonesia atau terkait PKI. Itu tuduhan tidak berdasar dan tidak masuk di akal. PKI sendiri telah dibubarkan sejak tahun 1966. Saat itu, Bapak Presiden kita masih balita. Masa orang berpolitik praktis sejak balita,” urainya.

Lebih lanjut, Ahmad M Ali juga menyangga Joko Widodo disebut anti Islam.

“Saya juga heran, kok masih dibilang anti-Islam. Anehlah. Yang saya tahu, Joko Widodo itu orang Islam taat. Jadi, sudahlah, masyarakat di Sulawesi Tengah khususnya di kabupaten Tolitoli tidak perlu termakan isu-isu seperti itu,” pintahnya. 

Kemudian lanjut Ahmad M Ali, Joko Widodo disebut anti Ulama.

“Siapa calon Wakil Presiden mendampungi Joko Widodo?,” tanya Ahmad M Ali pada peserta kampanya. “KH Ma’ruf Amin,” jawab peserta kampanye.

Kalau begitu kata Ahmad M Ali, bahwa tidak benar Joko Widodo anti ulama. Buktinya, Joko Widodo mengambil ulama sebagai calon Wakil Presiden mendampinginya di periode kedua beliau.

Selain mengajak masyarakat Kabupaten Tolitoli memenangkan pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin, Ahmad M Ali juga meminta untuk memenangkan caleg partai Nasdem pada pemilu 2019 mendatang. 

“Sebagai Pimpinan Partai saya meminta masyarakat kabupaten Tolitoli, selain memenangkan pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin, jangan lupa memenangkan caleg-caleg partai Nasdem di pemilu mendatan,” urainya.

“Saya menggaransi kualitas dan integritas mereka. Mereka adalah putra-putri terbaik daerah ini yang direkrut melalui proses seleksi ketat dan panjang. Jadi, jangan meragukan mereka,” urainya.

Kampanye terbatas berakhir dengan sesi dialog. Berbagai persoalan pembangunan juga terungkap hingga persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan utamanya berkaian dengan masalah jelang pemilu 2019. (*)

Ayo tulis komentar cerdas