Home Sigi Terkesan dengan Gotong Royong Masyarakat Sigi

Terkesan dengan Gotong Royong Masyarakat Sigi

168
TINJAU LIKUEFAKSI - Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex didamping Bupati Sigi Irwan Lapata saat melihat lokasi likuefaksi. (Foto: Ist)
  • Catatan Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Menelusuri Sigi

Meski perjalanan dari Sekayu, Ibu Kota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), ke tempat tujuan Kabupaten Sigi-Palu Sulawesi Tengah (Sulteng) menelan waktu berjama-jam, namun tak membuat saya bersama tim Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Tim Penkab Muba merasa lelah dan letih.

APALAGI selama perjalanan, semangat tim kemanusian bercerita tentang indahnya berbagi bersama disaat saudara saudari tertimpa musibah serta canda dan tawa selalu diperlihatkan seluruh tim LTKL dan Pemkab Muba membuat saya kian bersemangat, karena komitmen saya dan tim LTKL hanya satu menyelesaikan misi sosial guna membantu masyarakat Sigi, tepatnya di Kecamatan Kulawi yang terdampak Gempa Bumi magnitudo dan tsunami berkuatan 7,4 SR pada Oktober tahun lalu.

Tak terasa saat jarum jam menunjuk tepat pukul 06.00 WITA, saya bersama tim tiba di Bandara Sigi dan disambut Bupati Sigi, M. Irwan Lapata, untuk beristirahat sejenak sembari dijamu sarapan pagi.

Setelah itu saya bersama bupati Sigi berserta rombongan melanjutkan kembali perjalanan dari Kota Palu melalui jalur darat menuju Kulawi.

Dalam perjalanan menggunakan kendaraan, saya bersama tim terus menelusuri jalan tanjakan berliku serta jurang yang dalam.

Mobil kami beriringan dengan mobil Bupati Sigi, yang berada persis di depan kami sambil menyapa warga yang tampak giat bergotong royong bersama sama. Mereka membenahi rumah keluarga mereka yang satu desa dan ikut terdampak waktu gempa terjadi.

Perjalanan menuju Kecamatan Kulawi cukup ekstrim karena di sisi sebelah kanan jalan ada jurang yang dalam serta sebelah kiri jalan ada tebing yang terjal. Tetapi jalan yang kami lalui ini, walau ekstrem, tidak membuat kami takut.

Di saat mata memandang jauh, kami bisa melihat perbukitan, padang rumput dan pepohonan nan hijau yang luas menghampar sejauh mata memandang, sangat elok dan indah dipandang mata.
Perjalanan kami menuju Kecamatan Kulawi juga melintasi “Taman Nasional Lore Lindu” meskipun memang Kabupaten Sigi merupakan daerah yang sangat parah saat gempa terjadi.

Hati kecil saya pun hanya bisa berkata, “Inilah kekuasaan Allah SWT, namun Allah SWT masih memberikan ke indahannya yang luar biasa alam di Sigi.”

Semangat masyarakat di sana pascagempa terus bangkit demi membangun daerahnya yang hancur oleh bencana. Sangat terasa budaya gotong royong itu ternyata menumbuhkan kebersaman kita saat suka dan duka. Sungguh warisan pendahulu kita yang wajib kita terus lestarikan di zaman sekarang ini.

Misi ini bagi saya sangat menyenangkan, karena merupakan pengalaman pertama saya sejak diangkat menjadi Bupati Muba. Apalagi ketika saya bersama rombongan melewati jalan di areal perbukitan. Dengan dindingnya sangat terjal dan miring, jalan yang dilalui itu pun hanya cukup satu kendaraan dengan di pinggirnya ada jurang yang sangat dalam.

Matahari memancarkan sinarnya menembus kaca kendaraan, seperti mengiringi laju kendaraan, dan sinarnya menyilaukan mata sang driver. Namun laju mobil yang saya tumpangi tetap melaju di jalan perbukitan itu. Saya disuguhkan perjalanan yang cukup berbahaya di atas perbukitan itu, karena jalan tersebut sangat sempit, berliku dan menikung tajam. Bahkan kondisinya masih tanah bercampur pasir, debu-debu terlihat berterbangan menutupi jarak pandang kaca depan kendaraan, perlu keahlian driver melintas di jalan perbukitan.

Bukan itu saja, perjalanan menuju ke Kecamatan Kulawi tempat tujuan saya bersama rombongan harus menembus hutan dan jalan yang sempit, dan ini sangat memacu andrenalin saya. Namun di balik itu, saya sangat menikmati tantangan menjelajahi Sigi.

Saya bersama Bupati Sigi pun mengajak rombongan untuk menyempatkan diri memberhentikan mobil untuk melihat-lihat pekerja proyek yang tengah fokus memperbaiki jalan. Mobil bulldozer PU Pemerintah setempat terus menderu membersikan jalan lintas yang berada di atas perbukitan yang diketahui sebagai jalan lintas Palu menuju Kulawi.

Mereka terlihat sangat bersemangat untuk membereskan pengerjaaan jalan yang berada di tebing yang sangat terjal. Saya juga sempat bertanya kepada salah satu pekerja, terkait pengerjaan jalan tersebut.

Pekerja itu menerangkan jika di sebelah kanan jurang yang mendalam, jalan tersebut tadinya putus dan tak bisa dilalui, sehingga warga Kecamatan Kulawi terisolir bahkan lampu penerangan dari PLN putus.

Namun Alhamdullilah, Tim Kemanusian Pemkab Muba LTKL dan Tim Bupati Sigi beserta rombongan lainnya yang ikut konvoi dapat melalui jalan tersebut dengan selamat sampai tujuan ke Kecamatan Kulawi.

Saya dan rombongan pun tiba di Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi untuk menemui Camat Kulawi, Rolly.

Penyambutan saya bersama rombongan sangat luar biasa dan dilakukan oleh sejumlah tokoh masyarakat. Saya juga menyempatkan diri untuk berbincang-bincang. Dalam perbincangan tersebut, mereka terlihat sangat bersemangat untuk membangun desanya kembali. Saya sangat terkesan dan terharu atas kekompakan mereka dalam bergotong royong membenahi dan membangun kembali daerahnya

Disambut Meriah

Penyambutan mereka terhadap saya dan tim begitu meriah. Apalagi mengenakan Siga (pakaian adat yang dijadikan tutup kepala), saya semakin salut dengan mereka. Terlebih, budaya adat Kulawi ‘Pantodui’ dipertontonkan kepada saya beserta rombongan sebagai hiburan pelepas lelah.

Tarian ‘Raego’ sebagai ucapan selamat datang untuk saya bersama rombongan yang pertama kali datang menginjakkan kaki di Desa Bola Papu, Kecamatan Kulawi pun disajikan. Setelah acara sambutan dengan cara adat istiadat asli warga Kecamatan Kulawi, kami pun dijamu makan siang dengan makan khas daerah Kulawi.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 12.45 WITA, kami pun lahap makan bersama warga desa yang sudah dihidangkan oleh tokoh-tokoh adat dan warga di sana. Usai makan siang bersama, saya pun diantar untuk melihat-lihat kondisi pasca terjadinya gempa.

Di lokasi, terlihat beberapa puing-puing bekas robohnya rumah masih tertumpuk di halaman. Tanah-tanah yang masih terlihat retak akibat bencana juga masih bisa terlihat.

Bahkan hal ini juga saya lihat saat meninjau salah satu desa yang habis dan rata tanah akibat gempa “Liquefaksi”. Tujuan Pemerintah Kabupaten Muba kembali menempuh misi kemanusiaan dan peduli sesama ini adalah untuk membantu dan meringankan beban saudara-saudara sebangsa dalam kesatuan Negara Republik Indonesia di seluruh nusantara.

Saya bersama tim mengumpulkan donasi mencapai USD 250.000 untuk masyarakat Kabupaten Sigi. Terhitung pada 2018, hasil pengumpulan dana yang didapat disalurkan untuk mendukung Kabupaten Sigi.

Bersama tim dan anggota LTKL, saya menyerahkan secara langsung bantuan donasi tersebut. Penyerahan bantuan dipusatkan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Pada Kesempatan misi kemanusiaan tersebut, saya turut didampingi Kepala Bappeda Muba Indita Purnama SSos MSi, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, Plt Kepala BPBD Indita Purnama S. Sos., M.Si., Kabag Humas Herryandi Sinulingga AP.,, dan Plt Kabag Protokol Rangga Perdana Putra SSTP., M.Si.

Kami disambut secara langsung oleh Bupati Kabupaten Sigi, Muhammad Irwan S.Sos., M.Si., didampingi Wakil Bupati Kabupaten Sigi Paulina SE., M.Si.,, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Sigi, Kepala OPD di lingkungan Pemkab Sigi dan Gorontalo, Camat Kulawi Rolli, dan Ketua Majelis Adat Kulawi Yore Pamei.

Sementara itu, Bupati Muhammad Irwan turut mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saya dan rombongan.

“Banyak sekali bantuan yang diberikan, kami sangat berterima kasih atas perhatian dan pertisipasi ke Kabupaten Sigi khususnya di Kecamatan Kulawi ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bantuan yang diberikan sangat meringankan korban di Sigi, khususnya di Kecamatan Kulawi.

“Semoga dengan bantuan yang diberikan ini membuat kondisi infrastruktur dan perekonomian masyarakat segera pulih.”

“Saat ini kami terus berupaya untuk kembali memulihkan keadaan wilayah kami secara keseluruhan dan kami akan terus bekerja keras bersama warga Sigi membangun kembali, dan kami optimis Sigi Bangkit,” pungkasnya.

Saat jarum jam menunjuk tepat diangka 14.00 WITA, saya dan rombongan langsung kembali pulang ke Kota Palu bersama tim dari Bupati Palu, dengan melintas kembali di jalur perbukitan tersebut.

Tepat pukul 17.00 WITA, berakhir jelajah saya bersama rombongan menelusuri Sigi. Saya bersama tim langsung beristirahat di salah satu hotel di Palu dengan nafas lega.

Ucapan dan sujud syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas kelancaran perjalanan tersebut tanpa hambatan.

Perjalanan ini menjadi pengalaman berharga saya.

Dengan ridho Allah SWT, semuanya selamat. Rombongan Bupati Sigi M. Irwan Lapata, pun mengucapkan selamat jalan.

Saya bersama rombongan LTKL, pada keesokan harinya, pulang menuju Makasar untuk kembali ke Jakarta dan meneruskan perjalanan pulang kembali ke Muba.

Semoga masyarakat terdampak gempa dan tsunami di Palu, Sigi, Sulteng selalu kuat menjalani kehidupannya. Itu doa saya terkakhir saat meninggalkan Sulteng, Aamiin. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here