Home Palu

Satu Sensor Sesar Palu Koro Rusak

253
Hendrik Leopati. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu sedang mengusulkan penggantian satu sensor gempa atau portable seismograf yang ditempatkan di Sesar Palu Koro. Kepala Seksi Data dan Informasi BKMG Stasiun Geofisika Klas I Palu Hendrik Leopati mengungkapkan sesor tersebut rusak akibat gempabumi pada 28 September 2018 lalu.

“Dari total empat sensor yang ditempatkan di Sesar Palu Koro, saat ini satu rusak parah karena gempabumi 28 September,” ungkap Hendrik kepada Metrosulawesi baru-baru ini.

Dia mengatakan BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu telah melaporkan kerusakan sensor tersebut kepada BMKG Pusat. Hendrik mengakui dengan tidak berfungsinya satu sensor mempengaruhi perekaman aktifitas atau pergerakan Sesar Palu Koro. Adapun tiga sensor lainnya dipasang disepanjang Sesar Palu Koro untuk mendapatkan informasi pergerakan sesar tersebut.

“Kami tempatkan dijalur Sesar Palu Koro yaitu di Labuan, Baluase, Kulawi Sadaunta dan Pombewe,” tandas Hendrik.

BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu kata Hendrik mengharapkan penggantian satu sensor yang rusak bisa terealisasi tahun ini. Itu demi keakuratan data pergerakan Sesar Palu Koro yang dipublikasikan kepada masyarakat luas.

Hendrik juga berharap masyarakat memahami proses publikasi data gempabumi sebelum sampai ke publik. Selama ini sebagian pihak mempertanyakan keakuratan dan kecepatan data yang dirilis BMKG Klas I Palu.

“Perlu kami informasikan sebelum data dirilis kepada publik itu karena kadang ada gangguan jaringan. Selain itu ada tahapan yang harus dilalui sebelum data dipublikasikan yaitu dimulai dari menerima data sensor, kemudian kami analisa dan olah. Ditahapan tersebut jaringan sangat menentukan, kalau jaringan terganggu, otomatis data juga akan sedikit lambat dirilis kepada publik,” tandas Hendrik.

Hendrik juga mengungkapkan BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu akan mengeluarkan peta kerentanan gempabumi di wilayah Kota Palu dan sekitarnya. Peta tersebut akan dipublikasikan pada akhir Maret mendatang.

“Peta yang kami keluarkan berbeda dengan yang dirilis oleh Kementerian PUPR dan ESDM. BMKG mengeluarkan peta khusus tingkat kerentanan seismik atau gempabumi untuk wilayah Palu. Kalau peta yang dikeluarkan Kementerian PUPR dan ESDM mencakup semua yaitu likuifaksi, tsunami dan patahan-patahan,” ungkap dia, Selasa, 12 Februari 2019.

Dia mengatakan peta yang akan dikeluarkan akurat 50 tahun hingga 100 tahun kedepan. BMKG akan memberikan peta kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu akhir Maret. Kemudian BPBD yang akan mempbulikasikan kepada masyarakat Kota Palu.

“Tapi kami belum bisa terangkan secara detail wilayah-wilayah yang tingkat kerentanan gempabumi-nya tinggi karena masih harus difinalisasi,” ucap Hendrik.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas