Home Palu

Biaya Fogging Terbatas

232
Petugas fogging Dinkes Palu saat melakukan penyemprotan di Kompleks BTN Tagari, Rabu, 13 Februari 2018. (Foto: Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

  • Tercatat Tiga Penderita DBD Meninggal

Palu, Metrosulawesi.id – Hingga saat ini tiga penderita DBD di Kota Palu meninggal dunia. Dinkes Palu mencoba mengambil langkah kongkrit mengantisipasi penyebaran penyakit yang banyak menyerang anak-anak ini.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesling, Dinkes Palu, drg Lutfiah MKM, Rabu, 13 Februari 2019 mengungkapkan fogging tidak bisa bisa menuntaskan permasalahan Demam Berdarah Dengue (DBD), karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik nyamuk DBD tetap hidup. Selain itu, biaya fogging pun terbatas .

“Fogging itu tidak menyelesaikan masalah, fogging itu membunuh nyamuk dewasa, tetapi yang kita harapkan itu menguras, menutup dan menyingkirkan atau mendaur ulang (3M Plus). Apabila ada kasus di satu wilayah, kita melakukan penyeledikan epidemiologi, misalnya diantara 10 rumah disitu ada gejala-gejala yang mengarah ke DBD, disitu kita lakukan fogging kawasan. Hanya saja untuk pembiayaan fogging sangat terbatas, namun teman-teman Puskesmas bisa mendukung,” katanya.

drg Lutfia mengaku, selalu mengingatkan masyarakat tentang 3M Plus termasuk di sejumlah Dinas, Puskesmas, sekolah-sekolah.

drg Lutfiah MKM. (Foto: Ist)

“Upaya Dinkes Palu selama ini untuk mencegah DBD dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSM). Terjadinya penyakit DBD terdiri dari beberapa faktor, diantaranya dari manusia, virus, kemudian nyamuk membawa virus itu di lingkungan kotor,” katanya.

Kata dia, nyamuk DBD tidak suka bersentuhan langsung dengan tanah. Nyamuk DBD lebih suka di vas bunga yang ada airnya, bekas minuman, sampah-sampah, yang jelas tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Hal-hal semacam ini harus diwasapadai.

“Jika kita lakukan fogging yang mati itu hanya nyamuk dewasa. Olehnya itu masyarakat perlu melakukan PSM. Jika tidak dilakukan PSM, akan banyak sekali nyamuk bertelur (jentik-jentik), dan akan muncul ratusan lagi nyamuk dewasa,” ungkapnya.

Lutfia mengungkapkan, pihaknya mencatat bahwa Februari 2019 ditemukan sebanyak 30 kasus DBD, sementara di bulan yang sama pada 2018 ditemukan 33 kasus DBD.

“Memang DBD ini perlu diwaspadai, karena didaerah lain pun kasus DBD lagi meningkat. Kenapa kita perlu waspada, karena saat ini di Palu ditemukan tiga pasien meninggal akibat DBD. Dan fogging tidak menyelesaikan masalah DBD,” katanya.

Lutfia mengatakan petugas fogging saat ini setiap hari turun melakukan penyemprotan.

“Nyamuk DBD ini adalah vektor, misalnya nyamuk itu telah mengigit orang terkena DBD, kemudian membawa virus ke orang lain, namun belum tentu virus nyamuk DBD itu tertular kepada manusia, sebab tergantung dari daya tahan tubuh manusia itu sendiri,” ujarnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas