Home Sulteng

Larangan Sembelih Sapi Produktif Tetap Berlaku

193
Ilustrasi. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Larangan menyembelih sapi betina produktif di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih diberlakukan. Hal itu dilakukan untuk mempercepat program swasembada daging sapi di 13 kabupaten/kota se Sulteng.

“Sapi betina produktif tidak dimasukkan lagi dalam angka real pemotongan dari jumlah populasi sapi yang ada di Sulawesi Tengah,” ungkap Staf Perencanaan Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng Vera Mayasafitri di Palu, Jumat, 8 Februari 2019.

Dia mengungkapkan lumbung penghasil ternak sapi terbesar di Sulteng masih berada di Kabupaten Banggai, Sigi, Donggala, Tojo Unauna dan Morowali. Setiap tahunnya lima kabupaten tersebut menyumbang kebutuhan daging sapi pada perayaan hari besar keagamaan di Sulteng.

“Di kabupaten lain sebenarnya juga penghasil ternak sapi, termasuk Palu, hanya saja tidak sebanyak lima kabupaten tadi,” katanya.

Sepanjang tahun 2018, total kebutuhan pemotongan sapi di Sulteng sebanyak 31.846 ekor. Dari jumlah itu, angka pembagian setiap bulannya berbeda mengacu perayaan hari besar keagamaan pada bulan-bulan tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Natal.

Mengacu tahun sebelumnnya, yang perlu diwaspadai di daging sapi kurban hanya cacing hati. Cacing hati sapi kerap ditemukan petugas pengawas kesehatan hewan berdasarkan pemeriksaan petugas kesehatan ternak. Hati sapi yang ada cacingnya tidak layak untuk dikonsumsi.

Gubernur Sulteng H Longki Djanggola dalam suatu kesempatan menyampaikan populasi ternak sapi di provinsi yang ia pimpin mengalami peningkatan. Dia menguraikan, populasi ternak sapi pada 2016, hanya 320.537 ekor, sementara pada 2017, meningkat menjadi 353.486 ekor yang tersebar diberbagai kabupaten/kota se Sulteng.

“Peningkatan populasi ternak ini ditunjang oleh program Upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab),” ujar gubernur Maret tahun lalu.

Populasi tersebut dipastikan akan bertambah karena Sulteng akan mendapat bantuan seribu ekor sapi dari Kementerian Pertanian RI, melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas