Home Inspirasi Haliadi Sadi, Dosen Untad yang Produktif Menulis Buku

Haliadi Sadi, Dosen Untad yang Produktif Menulis Buku

1370
Haliadi Sadi. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)
  • Usung Gerakan Penulisan Buku Lokal Sulteng

BUKU yang bertema lokal Sulawesi Tengah masih sangat minim. Karena itu, butuh upaya serius menegakkan tradisi menulis di daerah ini.

Haliadi Sadi adalah salah satu tokoh protagonis yang telah mengusung gerakan itu sejak belasan tahun lalu. Dia menginisiasi berdirinya Pusat Penelitian Sejarah di Universitas Tadulako. Bahkan, tiga tahun lalu, dia sukses mendirikan badan usaha penerbitan buku.

Menurutnya, hasil penelitian yang menghabiskan energi dan anggaran besar jangan hanya berakhir di lemari. Hasil penelitian yang berkualitas, kata dia harus menjadi buku agar tidak sekadar menghias lemari dan tidak dibaca.

Haliadi Sadi adalah dosen sejarah di Universitas Tadulako (Untad) Palu sejak tahun 2002. Dia termasuk akademisi yang konsisten di bidang keilmuannya. Mulai S1 sampai S3, dia fokus memperdalam ilmu sejarah hingga keluar negeri. Nama lengkapnya: Haliadi Sadi, SS, M.Hum., Ph.D.

Pria asal Buton, Sulawesi Tenggara ini meraih gelar SS (Sarjana Sastra) setelah menyelesaikan studi ilmu sejarah di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1994; M.Hum. (Magister Humaniora) diperoleh dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarya tahun 2000; dan Ph.D. (Doctor of Philosophy) dari Universiti Kebangsaan Malaysia tahun 2015 setelah mempertahankan disertasinya berjudul “Terbentuknya Elit Baru di Sulawesi Tengah”.

Sebagai dosen, ilmu yang diperoleh dari jenjang pendidikan itu, kemudian diamalkan di ruang-ruang kelas, baik kepada mahasiswa S1 maupun Pascasarjana Untad. Dia juga rutin menjadi pembicara pada seminar-seminar lokal, nasional, dan internasional, dalam dan luar negeri. Terakhir, dia menjadi pemakalah pada The 2nd International Conference on Social and Political Issues, di Bali, 28-30 Oktober 2018. Haliadi Sadi menyampaikan makalah “The Buton People in Taliabu: The Formation of the Society and the Integration of the Nation”yang merupakan hasil penelitian bersama guru besar Universitas Indonesia Prof Dr. Susanto Zuhdi. Sebagai akademisi, bentuk pengabdiannya kepada masyarakat, juga diwujudkan dengan menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam jurnal maupun buku.

Sampai saat ini, pria 47 tahun ini sudah menulis puluhan buku, mayoritas tema sejarah lokal Sulawesi Tengah. Misalnya tiga tahun terakhir saja, bersama tim, dia telah menulis buku di antaranya: Sejarah Islam di Lembah Palu (2016); Hj. Dahlia Syuaib: Ulama Intelektual Perempuan dari Sulawesi Tengah (2017); Sejarah Sosial Sulawesi Tengah, Palu (2017); dan Biografi Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda Kabupaten Tojo Una-Una 2016-2020 (2018).

Sekarang dia terlibat dalam proses penyusunan buku tentang Bank Sulteng yang rencananya diluncurkan pada ulang tahun bank milik daerah itu, April mendatang. Haliadi Sadi menjadi anggota tim penulis buku tersebut, berkolaborasi dengan ketua tim peneliti dari Fakultas Ekonomi. Haliadi Sadi fokus pada salah satu tema penting dalam buku itu yakni sejarah perbankan di Palu, Sulawesi Tengah.

Puluhan karya Haliadi Sadi memang lebih banyak dikerjakan secara tim alias beberapa penulis. Tetapi, rata-rata, dia sebagai penulis utama. Satu-satunya buku dengan penulis tunggal karena merupakan pengembangan dari tesisnya adalah “Islam Buton dan Buton Islam” yang terbit tahun 2017.

Haliadi mengatakan, tradisi menulis di Sulawesi Tengah memang harus digerakkan jika tidak ingin objek direbut oleh orang lain. Karena itu, dia telah menggerakan tradisi meneliti dan menulis sejak awal-awal menjadi dosen di Untad. Dia benar-benar menggerakkannya, terutama yang bertema sejarah sebagaimana keahlian ilmu yang dimilikinya.

Pada tahun 2004, dia menghimpun sekitar 30 mahasiswa di Untad. Puluhan mahasiswa yang potensial itu kemudian “dipaksa” membaca buku dan artikel ilmiah. Mereka juga harus turun ke lapangan mencari dan mengumpulkan data. Selanjutnya, para mahasiswa itu dibimbing mengurai data yang diperoleh dari lapangan untuk selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan atau dalam ilmu sejarah dikenal istilah historiografi.

Menurut Haliadi, tradisi ilmiah itu harus terus diperkuat di lingkungan kampus agar mahasiswa terbiasa meneliti dan menulis karya ilmiah. Toh, pada akhir studi nanti, mahasiswa wajib menyusun karya tulis. Tetapi, yang disyukuri bahwa dari puluhan mahasiswa yang dilibatkan dalam penelitan-penelitian tersebut, beberapa di antaranya kini telah menjadi dosen sekaligus peneliti. Lainnya ada yang menjadi guru dan juga meniti karier di dunia politik. Bagi Haliadi Sadi, keberhasilan mahasiswanya itu adalah kebahagiaan bagi seorang pendidik.

“Tahun 2004 saya bersama Pak Syakir Mahid (juga dosen Untad), termasuk mahasiswa melakukan penelitian secara komprehensif di Kota Palu. Pertama kali penelitian secara kelompok yang melibatkan puluhan mahasiswa itu adalah mengenai transformasi sosial, ekonomi, dan politik di Kota Palu,” ungkap Haliadi Sadi saat bincang santai di rumahnya, di Kompleks Perumahan Dosen Untad, Rabu 30 Januari 2019, sore.

Haliadi Sadi (paling kiri) saat hadiri sebagai pemakalah pada The 2nd International Conference on Social and Political Issues, di Bali 28-30 Oktober 2018. (Foto: Istimewa)

Apa yang dilakukan Haliadi Sadi terhadap mahasiswanya itu adalah melanjutkan tradisi yang dilakukannya beberapa tahun sebelumnya di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Ketika itu, dia memang aktif di Pusat Kajian Indonesia Timur, sebuah pusat kajian yang bekerja di bawah Lembaga Penelitian Unhas Makassar.

“Selesai kuliah S2 tahun 2000 di UGM. Sejak itu, sampai tahun 2002, saya aktif di Pusat Kajian Indonesia Timur melakukan penelitian-penelitian, kemudian mengerjakan penerbitan-penerbitan,” kata Haliadi Sadi.

Kebiasaan meneliti itu, kemudian dia bawa ke Universitas Tadulako ketika terangkat menjadi dosen tahun 2002. “Setelah datang ke Tadulako (Untad), pengalaman di Pusat Kajian Indonesia Timur saya lanjutkan di Untad. Saya melakukan penelitian mandiri sejak 2002 sampai 2004,” ujarnya.

Penelitian mandiri itu dilakukan setelah menyadari bahwa rupanya buku yang mengulas tentang sejarah Sulawesi Tengah masih sangat minim. Buku yang ada adalah produk tahun 1960-an sampai 1980-an yang ditulis oleh sejarawan seperti Anhar Gonggong, Nurhayati Nainggolan, Masyudin Masyhuda, dan beberapa peneliti lainnya.

“Karena itu perlu ada gerakan untuk menciptakan buku-buku baru,” ujarnya.

Sebagai wadahnya, bersama rekannya sesama dosen di Untad, Syakir Mahid, kemudian mendirikan Pusat Penelitian Sejarah yang disingkat PusSEJ. Awalnya dia harus berupaya meyakinkan pimpinan kampus tentang ide lembaga itu. Waktu itu, Untad dipimpin oleh Rektor Sahabuddin Mustafa.

“Tahun 2006 dibikin Pusat Penelitian Sejarah, ketuanya Pak Syakir Mahid, saya sekretaris. Awalnya saya dipanggil oleh Pembantu Rektor IV. Saya ditanya apa yang akan dihasilkan oleh PusSEJ. Saya katakan, bahwa PusSEJ yang saya bentuk ini adalah untuk profit uang tidak diharapkan, tapi akan menghasilkan buku. Buku inilah yang akan menaikkan grade universitas. Produk buku dari Untad waktu itu belum banyak,” ungkapnya.

Benar saja, sejak PusSEJ dibangun, dilakukan sejumlah kerja sama dengan pemda kabupaten kota dan provinsi serta funding lainnya termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Masalah pendanaan teratasi dan penelitian pun mulai dilakukan. Setelah PusSEJ berdiri, penerbitan buku lokal Sulawesi Tengah semakin massif setiap tahun.

Kini PusSEJ berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Untad. Sejak tahun 2016 Haliadi Sadi dipercayakan menjadi ketua di lembaga itu sampai masa jabatan 2021. Jika awal pendirian PusSEJ, Syakir Mahid adalah ketua, kini gilirannya menjadi sekretaris.

Haliadi Sadi menjelaskan, selama sekitar 13 tahun PusSEJ memang lebih banyak melakukan penelitian lokal Sulteng.

“PusSEJ memang mengkhususkan diri untuk penelitian lokal Sulteng, tapi kalau ada tawaran dari kementerian kami layani juga,” katanya.

Setidaknya ada empat penelitian yang telah dihasilkan dari kerja sama dengan Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk buku maupun laporan penelitian. Di antaranya : Profil dan Potensi 8 Pulau Terdepan di Kabupaten Kepulauan Aru; dan Verifikasi Nilai Budaya Bahari: “Sasi” di Indonesia Timur, Kepulauan Aru, Banggai Kepulauan dan Raja Ampat. Dua lainnya adalah : Jaringan Maritim Indonesia Sejarah Toponimi Kota Pantai di Sulawesi; dan Kepemimpinan Tradisional di Indonesia: Mempawah dan Kaili. Haliadi Sadi menjadi penulis pertama dan penulis anggota pada empat karya tersebut.

Setelah PusSEJ berkembang dengan baik, Haliadi Sadi kembali membuat gebrakan baru di Palu, masih bagian dari upaya gerakan penulisan buku lokal Sulteng. Pada tahun 2014, dia mendirikan badan usaha penerbitan buku dan memberinya nama Penerbit Hoga.

“Meskipun sudah ada naskah, setengah mati diterbitkan. Kalau kita kerja sama dengan penerbit di luar Palu memakan waktu yang lama dan biaya yang banyak. Setelah ada Penerbit Hoga, waktu ringkas dan biaya bisa ditekan. CV Hoga ini bisa menerbitkan buku apa saja,” jelasnya.

Reporter: Syamsu Rizal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here