Home Banggai

Awalnya Disebut Lakalantas, Ternyata Korban Pembunuhan

248
BERI KETERANGAN - Kapolres Banggai AKBP Moch. Sholeh SIK, SH, MH menyatakan bahwa Rizki Ahad alias IKI (13) seorang pelajar SMP Desa Siuna adalah korban pembunuhan, bukan lakalantas. (Foto: Ist)

Banggai, Metrosulawesi.id – Kasus meninggalnya Rizki Ahad alias IKI (13) seorang pelajar SMP Desa Siuna, Kecamatan Pagimana yang terjadi pada Kamis, 23 Agustus 2018 lalu, akhirnya berhasil diungkap personil Sat Reskrim Polres Banggai.

Kapolres Banggai AKBP Moch. Sholeh SIK, SH, MH, dalam siaran persnya Kamis 31 Januari 2019, mengatakan bahwa, awalnya kejadian itu dilaporkan sebagai lakalantas sehingga keluarga menolak untuk dilakukan autopsi dan meminta agar korban segera dimakamkan.

“Namun, setelah dilakukan Olah TKP (Crime Scene Processing) timbul kecurigaan kematian pada korban tidak wajar,” ungkapnya.

Mendapatkan bukti tersebut, lanjut Kapolres, Sat Reskrim kemudian melakukan ekshumasi (penggalian) dan autopsi pada 8 Desember 2018, dan dari keterangan ahli forensik bahwa penyebab kematian korban adalah akibat kekerasan benda tumpul.

“Sebab pada autopsi tersebut ditemukan retak tulang tengkorak dan patah tulang rahang sebelah kanan korban,” tambahnya.

Dengan hasil autopsi tersebut, lajut perwira dua melati itu anggota kemudian melakukan penyelidikan dan penyidikan secara intensif dan diperoleh alat bukti yang cukup sehingga dilakukan penetapan dan penangkapan terhadap dua tersangka atas nama Abdulrahman Tuna alias AIS (51) dan Randi Jafar alias Randi (21), Minggu 27 Januari 2019.

“Tersangka Randi Jafar alias Randi diduga memegang dan menahan tubuh korban dari belakang, sedangkan Abdulrahman Tuna diduga memukul korban menggunakan kayu balok. Kami juga mengamankan barang bukti yakni, 2 unit sepeda motor dan pakaian korban berupa baju dan celana,” ujar Kapolres.

AKBP Moch. Sholeh SIK menegaskan bahwa atas perbuatan tersebut ,kedua tersangka dikenakan pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP lebih subsider pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55, 56 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman pidana penjara minimal 20 tahun, maksimal seumur hidup atau hukuman mati.

Reporter: Eddy
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas