Home Pendidikan

SMK Kekurangan 802 Guru Produktif

210
Hatija Yahya. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

  • 2020, Recovery SMK Diupayakan Selesai

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Dr Hatija Yahya mengungkapkan pada 2019 ada sembilan SMK yang belum mendapatkan anggaran pembangunan ruangan baru.

“Jika tidak terinterfensi hingga 31 Desember, Insya Allah lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan ruangan baru kita siapkan khusus pembangunan SMK,” kata Hatija di ruang kerjanya, Senin, 28 Januari 2019.

Kata Hatija, untuk pembangunan ruang kelas SMK Negeri 2 Palu belum di masukkan di DAK, disebabkan hasil dari PUPR belum keluar.

“Di SMKN 2 Palu bangunannya relatif rusak cukup parah ada 36 ruang kelas rusak akibat gempa 28 September lalu. Alasan kami belum masukan di DAK karena lokus di DAK itu sedikit untuk ruang kelas sehingga tidak di alokasikan,” ujarnya.

Namun kata Hatija, pada 16 Januari 2019 kemarin pihak Bank Dunia telah menyatakan diri untuk membantu SMKN 2 Palu dalam proses pembangunan sekolahnya.

“Kita optimis 2020 sudah recovery semua, rekonstruksi kita sudah selesai di SMK. Karena di pusat pun kita sudah dorong lima Unit Sekolah Baru (USB) atau cadangan, di USB ini sudah ada kantor, laboratorium, RPS, dan ruang kelasnya. Seperti di SMKN 1 Sigi USB nya cukup besar, tetapi USB di SMKN 8 kita dorong USB biasa yang hanya ruang kelasnya baru dan RPSnya sekian, kantor dan lain-lain,” jelasnya.

Sementara untuk sekolah yang terdampak likuifaksi yakni SMK Islamic Center kata Hatija telah di relokasi di Sidera.

“Untuk SMK PGRI di cover oleh Chairul Tanjung, sejumlah SMK ini sudah tercover dengan baik,” ungkapnya.
Disisi lain Hatija menyingung soal guru produktif di SMK yang mengalami kekurangan sebanyak 802 guru produktif.

“Karena kewenangan pengangkatan guru itu dari pihak Menpan, namun kami berharap dengan mekanisme baru, yang ditawarkan oleh Kemendikbud RI melalui PPPK, semoga bisa menutupi,” katanya.

Tetapi kata dia, pihaknya masih tetap pada prinsipnya meskipun pengangkatanya adalah guru kontrak, tetapi tidak secara otomatis di terima jika tidak dibutuhkan.

“Sebab guru kontrak kita ini kebanyakan itu guru biasa, sementara di SMK ini yang dibutuhkan adalah guru bidang kompetensi atau guru produktif. Jika guru kontrak bidangnya di produktif ini seharusnya kita perhatikan dan seharusnya kita perjuangkan,” ungkapnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas