Home Donggala Evaluasi Galian C Libatkan BLH

Evaluasi Galian C Libatkan BLH

187
Muhammad Naeng. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

*Dinas ESDM: Perusahaan Tambang di Poros-Palu Donggala Berizin

Palu, Metrosulawesi.id – Pascalongsor di jalan poros Palu-Donggala tepatnya di Desa Loli Dondo Kecamatan Banawa yang diduga kuat akibat aktivitas pertambangan galian C, Pemprov Sulteng melalui Dinas ESDM akan melakukan evaluasi.

“Evaluasi selalu kami lakukan. Apalagi kalau ada kejadian begini, tetapi harus secara komprehensif melibatkan Dinas Lingkungan Hidup,” ungkap Plt Kepala Bidang Mineral dan Batubara Dinas ESDM Sulteng Muhammad Naeng, Rabu, 23 Januari 2019.

Dia menjelaskan dalam melakukan evaluasi ESDM Sulteng tidak bisa bekerja sendiri. Evaluasi harus dilakukan bersama pihak-pihak terkait salah satunya Dinas/Badan Lingkungan Hidup.

“Selama ini persepsi orang kalau ada kejadian-kejadian seperti itu semuanya ke pertambangan,” ucapnya.

Naeng mengatakan setelah melakukan evaluasi, baru akan diputuskan untuk memberikan sanksi. Sanksi akan diberikan secara berjenjang dimulai tahap peringatan melalui Kepala Dinas ESDM.

“Pasti ada peringatan tapi itu kewenangan pimpinan yang menyampaikan, tentunya sesuai SOP,” katanya.

Dia mengungkapkan pertambangan yang beroperasi di poros Palu-Donggala tercatat memiliki izin. Izin tersebut terus dipantau melalui inspektur pertambangan Dinas ESDM Sulteng.

“Cuma saya tidak ingat pasti berapa pertambangan di sana, tapi kalau dari kami, inspektur rutin melakukan pengawasan,” tandas Naeng.

Diberitakan sebelumnya, longsor terjadi di jalan poros Palu-Donggala tepatnya di desa Loli Dondo Kecamatan Banawa, Selasa, 22 Januari pagi. Hujan yang menguyur dan pertambangan galian C yang menjamur di wilayah itu diduga kuat jadi penyebab longsor yang cukup parah tersebut.

Kepala Desa Loli Dondo, Arwin meminta sejumlah pihak untuk mengevaluasi kembali usaha pertambangan galian yang melakukan aktivitas sepanjang jalan poros Palu-Donggala, khususnya di wilayah Desa Loli.

“Khusus desa Loli Dondo pak, ada lima perusahaan tambang yang aktif melakukan aktivitas pertambangan, yakni: PT Wika Beton, PT Bas, PT Bakal Maju, PT Nurlin Persada, dan PT Batu Berkah Banawa. Jadi Pemerintah Propinsi Sulteng dan kabupaten perlu melakukan evaluasi terhadap para penambang ini,” kata Arwin kepada wartawan, Selasa, 22 Januari 2019.

Arwin mengatakan, selama ia mendiami desa Loli Dondo, baru kali ini kejadian terbesar tersebut. Ini sebagai dampak dari pertambangan di desa Loli Dondo. Arwin yang sudah menjabat sebagai kades selama dua periode itu mengatakan, walau tidak ada korban jiwa dari musibah ini, tetapi dampak lingkungannya sangat terasa dan terjadi kemacetan luar biasa.

“Akibat hujan deras semalam tumpukan material tambang yang terbawa air jatuh ke pinggir jalan, sehingga badan jalan tertutup setinggi enam meter. Akibatnya antrian kendaraan tak terindahkan, walau tak ada korban jiwa tapi berapa waktu yang terbuang menunggu antrian di tempat ini,” tukasnya.

Hal senada diutarakan warga Lalundu, Alex, yang hendak menuju Kota Palu. Dia harus tertahan selama enam jam di lokasi longsor menunggu sistem buka tutup (satu arah) yang dilakukan pihak kepolisian.

“Dari pagi pak saya di sini, nanti tembus ini jam 12 siang,” keluhnya.

Untuk diketahui kejadian longsor yang terjadi di desa Loli Dondo pagi kemarin terjadi di tiga titik. Yaitu, di pemukiman padat penduduk (dekat sebuah kandang ayam di Loli Dondo), dan di lokasi pertambangan dua titik. Pantauan Metrosulawesi, sebanyak empat alat berat membersihkan tumpukan material yang menutupi badan jalan. Lalulintas kendaraan baik dari arah Sulwesi Selatan menuju Palu atau sebaliknya baru bisa normal tepat pukul 12.30 Wita.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here